Mengasuhmu dengan bimbinganNYA

Suatu hari umma membaca tentang kisah seorang anak yg selama hidupnya tidak pernah makan lewat mulut kemudian menjenguk seorang bayi yang menyusu lewat mulut, yang terjadi selanjutnya anak tersebut iri dan sedih, mengapa ia tak bisa makan lewat mulut?😢

Suatu hari umma membaca tentang kisah seorang ibu yang rindu untuk menyusui anaknya secara langsung sambil mendekap penuh cinta, ia hanya mampu memandang anaknya dari balik kaca, hingga Allah memisahkan mereka.

Semenjak itu umma tersadar, bahwa menyusuimu adalah nikmat yang tinggi, kesempatan yang agung, dan kebahagiaan yang sejati.

Umma semakin menikmati tiap 'tangisan'mu meminta ASI. Umma semakin bersyukur karenanya. Umma bertekad tak akan menyiakan 2 tahun kesempatan ini, sambil membisikkan betapa Allah Maha Baik pada kita.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmusholihat..


Suatu hari umma membaca, bahwa banyak orang tua yang mengeluh karena anak yg sudah besar tapi masih makan disuapin, kemudian tulisan itu memaparkan penyebabnya, bahwa fitrahnya anak pada bayi adalah menyuap sendiri, orang tua yang membiasakan anak untuk terus disuapin, hingga kebiasaan. Dengan kata lain, orang tualah yang merusak fitrah anak karena tidak membiasakan anak menyuap sendiri sejak dini. Umma sedih membacanya, umma bercerita pada abah sambil sedikit menangis "apakah aku umma yang merusak fitrah Syamil??"

Tetapi umma teringat akan sebuah nasehat dari ami Bendri dan Ayah Irwan, bahwa tak ada yang namanya pakar parenting, karena semua orang tua adalah pakar parenting bagi anak-anaknya. Bukan kah semua yang umma pilih untukmu berdasarkan ilmu? Bukan karena katanya katanya. Lalu apa yang patut umma sedihkan??

Duhai Syamil, meski kini umma masih meraba, gaya parenting manakah yang akan menyelamatkan umma dan abah dari api neraka??

Tapi anakku, umma dan abah punya doa, yang dengannya kami selalu berharap agar Allah bimbing kami dalam mengasuh, agar tiap pilihan dalam mengasuhmu adalah karenaNya bukan karena tokoh itu dan ini.

Tumbuhlah dalam ketaatan, duhai Syamil Adam Syahid...
 
#SyamilAdamSyahid
#tulisanDiles
#SyahiDileSyamil
#merendaKeluarga

Posted by
Aldiles Delta

More

Mengenang dan Menggenang (5 tahun yang lalu)

Jum'at, 13 januari pk 16.00 (5 tahun yang lalu)

Aku bersembunyi dalam diam ketika lelaki itu menjabat tangan walimu untuk mengambil alih amanahnya. Aku mendekat pada kehilangan dan kerinduan yang makin hari ku akrabi keberadaannya.

Hingga akhirnya tangis itu pecah, kehilangan itu terbaca, kerinduan itu masuk dalam bab awal, pada satu dua minggu statusmu sebagai seorang istri.

5 tahun yang lalu.

Aku memiliki kehilangan, meski dulu kau meyakinkan untuk tak pernah pergi dan selalu ada. Sebab kerinduanmu bukan lagi tentangku, harimu bukan lagi ceria karena ku, kau mengikuti arus bahagia bergandeng mesra dengan seorang lelaki yang orang bilang 'suamimu'. Banyak sudah perkataan yang menguatkan hadir dari sahabat, dari yang benar-benar menguatkan hingga yang menampar cukup keras bahwa masa ini akan terjadi.

5 tahun yang lalu.

Waktu berubah bukan hanya menyembuhkan kehilangan, tetapi ia muncul dalam bahagia keseharian. Tentang lucunya anak-anakmu yang telah ku anggap sebagai anakku, yang ku lewati hari-hari kehamilannya. Aku bahagia, tetap mengambil peran dan cerita terbesar dalam hidupmu. Mendampingi, menyertai, merasakan, dan yang pernah luput dalam keseharian yaitu mendoakan.

Hingga tibalah masa satu tahun lalu, sebagai awal dari cerita yang bukan lagi kisah tentang kesedihan. Ia berubah menjadi pendampingan, mendampingi kebahagiaan. Aku dan dia. Sejak saat itu, jarak Jakarta-Samarinda bukan lagi berkisah tentang kamu, tetapi juga tentangku, bukan sekadar warnamu, namun juga warnaku. Bahagia kita lengkap kembali. Kau bisikkan "aku bahagiaaa sekali dengan pernikahanmu". Hari itu memang aku melihat kau dan mama yang paling berbahagia, sebab tau kisah jalanku menuju mitsaqon qolidzho-ku. Aku juga menangis, sama seperti 5 tahun yang lalu, yang berbeda hanya, kini tangisanku dalam genggaman kau dan anak-anakmu.

Aku ingat, dahulu kala dalam waktu jeda sebelum pertemuanku dengan lelaki sholeh itu, ada seorang saudari yang bertanya tentang apa bedanya antara Aldila dan Aldiles?? Aku menjawab dengan riang bahwa aku dan kamu tak ada beda hanya ada jeda dalam bahagia. Semua inginku adalah inginmu, semuanya. Namun jawabanku ternyata celah baginya untuk berkata yang melukai.. "kalau gitu jangan-jangan kamu pengen juga ya sama suaminya Dila".
Aku terluka, tapi aku takut menceritakannya padamu meski pada akhirnya tetap ku ceritakan padamu, dan kau menjawabnya dengan penuh keyakinan yang melegakan dan menyembuhkan luka hingga aku yakin luka yang sembuh berbuah pertemuan dengan lelaki sholeh itu satu tahun yang lalu.


Segala luka sudah sembuh, segala kesedihan telah berganti status.
Aku dan kamu kini telah sama menjadi seorang istri, yang menjalani peran sebagai bidadari.
Aku dan kamu adalah dua hamba Allah yang saling mendampingi.
Aku dalam 5 tahun masa bahagiamu.
Kamu dan anak-anakmu dalam masa penantian dan masa bahagiaku.
Seperti tahun lalu dan berulang tahun ini, mendampingiku menjadi seorang ibu.
Doa terbaik dariku atas balasan segala kehadiranmu, semoga tulisan ini tak terhenti hanya pada angka 5, tapi juga seterusnya-seterusnya. Aku selalu bersedia menuliskan kisah tentangmu, dalam sakinah perjalanan rumah tanggamu.


Semoga Allah abadikan kita bersama keluarga dalam surgaNya.


-Aldiles Delta Asmara dan SUAMI-

Posted by
Aldiles Delta

More

SukaSuka

SUKASUKA

Aku suka kamu suka sudah jangan bilang siapa-siapa-lagu-

Tapi sayang, tulisan kali ini bukan membahas tentang 'suka-sukaan' ala romantisme FTV, film Korea, atau apapun itu. Tapi ini tentang satu kata.
"suka-suka dialah"
"suka-suka gue donk"

Sebelumnya mari bersyukur atas hati yang tak pernah terbersit untuk mengatakan yang demikian. Apalagi untuk suatu urusan maksiat.

Sebab satu kata ini memiliki dampak panjang dalam bersosial. Ia bisa jadi suatu indikator ketidakpedulian, dan juga sebagai indikator merasa paling benar.

Misalnya saja untuk kasus 'bermesraan di tempat umum'. Apa yang akan kita lakukan saat menemukan pasangan bermesraan di tempat umum? Tentu bukan pasangan pernikahan, sebab kita pasti bisa membedakan mana yang mesra dengan halal, mana yang mesra dengan haram.

Jika kita sering mengeluh tentang banyaknya kasus pornografi dan kekerasan seksual yang menimpa anak-anak pada lingkungan kita, mestinya yang kita pilih adalah menegur pasangan tadi agar berhenti bermesraan di tempat umum. Dampaknya luar biasa, kita dapat mencegah anak kita, anak tetangga atau siapapun untuk melakukannya lagi, sebab akan berprinsip "malu ah sama yang lain". Dari easa malu timbullah penjagaan diri, dari rasa malu muncul sikap menjaga kehormatan, dari rasa malu terhindarlah dari perbuatan maksiat. Padahal yang kita lakukan sederhana, menegur mereka yang bermesraan di tempat umum.

Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa "suka-suka mereka deh, dosa juga mereka yang tanggung". Ya benar, dosa memang mereka yang menanggung, tapi dampak dari ketidakpedulian kita bisa jadi kita pulalah yang menanggungnya.

Banyaknya selebgram yang memposting foto bermesraan dengan pacarnya adalah salah satu dampak paling jelas dari pembiaran kita selama ini. Di dunia nyata tak ada yang menegur dalam bersalah, apalah lagi dalam dunia maya. Efeknya berimbas pada anak-anak yang menjadi followers mereka, menganggap itu keren, menganggap itu cara mendongkrak populer, dan menganggap itu cara mudah mendapat rupiah. Hingga kehormatan tergadai, masa depan terabai. Semua karena satu sebab, hilangnya peduli dari kita, orang dewasa.

Maka kini, jangan hanya mampu mengeluh dengan perubahan generasi, jangan hanya mengelus dada tentang bergesernya normawi, segera ambil tindakan pencegahnya. Tegur dengan baik, sebagai tanda bahwa apa yang mereka lakukan salah, dan juga sebagai tanda bahwa masih ada yang mempedulikan mereka.

Semoga tindakan kita sebagai bukti penyelamatan generasi.

Insyaa Allah.

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Bagaimana Jika (2)

Bagaimana jika...
Di dunia yang semakin canggung dalam sapa
Tak ada lagi ucap tentang keliru yang kita punya
Aku abai
Dia tak peduli
Bagaimana jika...
Dalam ingar bingar maksiat pada bumi
Ada bisik halus dalam hati
"aku takut salah dalam menasihati"
Bagaimana jika...
Kejahatan semakin menjulang tinggi
Namun penyebab awalnya tak bisa kita hindari
Sebab satu alasan yang terpatri
"Biarkan saja, suka suka dia"
Bagaimana jika...
Jurang itu tepat dihadapanmu
Namun tak ada yang menyelamatkanmu
Karena ingat bisikmu kala dahulu
"Ini hidupku, hiraukan saja aku"
Bagaimana jika...
kata 'sosial' benar adanya dalam lelucon zaman dulu
So' sial
Hanya orang sial yang mau bersosial
Maka kau ambil langkah seribu dalam aktifitas sosial
Bagaimana jika...
Tak ada lagi jiwa penyelamat
Saat makin terhitung jari jiwa yang mau untuk diselamatkan
Dalam maksiat
Aku dan kamu adalah satu tubuh
Begitu ucap baginda Nabi
Karenanya dalam kesalahanmu
Ada takdirku dalam menasihati
Dalam kesalahanku
Ada takdirmu dalam menarikku kembali
Meski cara yang ditempuh
Adalah yang tak kita sukai
Jika yang dituju adalah perbaikan
Izinkan hati menerima dengan lapang
Sebab aku ingin juga bersamamu, dalam surga.
Ya Allah, aku rindu nasihat.
Mohon bukakan hatiku selapang-lapangnya untuk nasihat.
-Aldiles Delta Asmara-
#tulisanDiles

Posted by
Aldiles Delta

More

Aku mencintaimu, meskipun..

Kalimat ini adalah nasehat pernikahan yang saya rekam sangat baik dalam ingatan saya, nasehat pernikahan jauuuhhh sebelum saya menikah. Kalimat ini disampaikan ajoBendri dalam suatu obrolan ringan.

Dan kini saya tahu maknanya... 😄
Aku mencintaimu, meskipun setan membisikkan untuk selalu ngambek pada pagi petang kita. Berlindung pada Allah atas godaan ini.

Aku mencintaimu, meskipun kebiasaan kita tak sama. Dari awal membuka mata sampai menutup kembali selalu saja ada kalimat "tapi aku enggak gitu" dan kau redakan dengan kalimat "Maafin ya, tapi aku seperti ini"

Aku mencintaimu, meskipun hampir setiap pagi memasak menu yang sama. Tempe tahu dan teman-temannya.
Aku mencintaimu, meskipun banyak bisik-bisik tentangmu, bisik pujian ataukah ujian yang hampir terdengar sama.

Aku mencintaimu, meskipun kadang bosan menanti kepulanganmu dari bekerja yang hampir seharian.

Aku mencintaimu, meskipun banyak kekuranganmu. Sebab yang aku tahu, kau tak pernah bosan membisikkan "aku cinta adek" pada waktu memulai dan mengakhiri hari di tiap senin menuju senin kembali, padahal kekuranganku pun tak terhitung jari.

Aku mencintaimu, meskipun...

Dan semoga kalimat ini pula yang akan menuntun kita dalam mengasuh amanah Allah.

Mencintai, meskipun jatah tidur berkurang
Mencintai, meskipun jatah makan di luar harus dipikir panjang
Mencintai, meskipun harga popok, susu dan lainnya tak terhitung dalam bayang-bayang
Mencintai, meskipun akan tiba masa ia bereksplorasi yang membuatnya menangis hingga riang

Betapa kalimat ini adalah mantra sakti yang Allah kirimkan guna menambah sakinah bagi miniatur surga kita.

Semoga bahagia, hingga berpeluk mesra dalam surga aslinya.

-Aldiles Delta Asmara-

#MenujuPernikahanSetahun
#CatatanSyahiDiles
#SyahidDalamDeltaAsmaraNya
#30Januari2016

Posted by
Aldiles Delta

More

Muhasabah (menuju) Pernikahan Setahun

Pernikahan Setahun...

Kapan deru-deru resah ingin menikah hadir dalam hidupmu??
Usia 20??25??

Bagi saya sudah ada sejak saya tahu hukum berpacaran, yaitu kelas 3 SMP. #plak
Muda banget untuk seorang anak kelas 3 SMP berprinsip "gue ga bakal pacaran, gue mau nikah aja, mau nikah aja, mau nikah aja".

Mulailah pustaka bahasa dan ilmu saya dibanjiri dengan buku 'Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan" dan buku-buku lainnya yang entah sengaja atau tidak, disiapkan oleh kakak saya.

Bayangan saya saat itu "gue mau nikah muda, mau nikah muda ya Allah".

Hingga tahun-tahun terlewati. Masa sekolah sukses dijalani. Hidup baru menjadi mahasiswi. Mulailah rasa 'ingin menikah' lebih bergejolak, lagu-lagu pernikahan makin asyik diperdengarkan dan didendangkan hingga menciptakan galau yang sempurna.

Setahun, dua tahun sejak saya menyatakan siap menikah di depan keluarga saya, dibantu ajoBendri dalam searching jodohnya. Galau semakin melanda. Ternyata proses menujunya tak semudah bayangan indah yang ada di buku-buku yang telah habis dibaca.
Galau bertambah ketika Dila lebih dulu mengikrar janji sucinya. Tinggallah resah, hampa, gundah dan rasa yang lainnya.

Setahun, dua tahun dalam jarak pernikahan Dila, belum juga berbuah walimah. Masih terus meminta, masih terus mencari, masih terus menjaga diri. Yang berbeda hanya, galau tak lagi ditampakkan di depan saudari saudara. Semakin paham bahwa kode dan sandi galau yang sering dimunculkan akan menambah kelemahan dan keresahan. Galau tak hilang, iffah dan izzah yang malah memudar.

Perubahan cara pandang pun berbuah manis di akhir tahun 2015 ketika datang seorang pelamar yang sukses meluluhlantakkan hati keluarga. Undangan disebar, akad diucapkan, walimah digelar di awal tahun 2016.

Pujapuji kepada Allah atas segala qabul dan kabulnya doa ini.

Ternyata, satu tahun menjelang, galau tak hilang. Bukan karena tak bahagia, hanya selalu saja terselip galau setiap waktunya. Meski beda wujud galaunya. Tentang sidia atau tentang lainnya. 3 bulan tak berkabar hamil, galau. 9 bulan penuh warnawarni, galau.

Hingga tersadarkan mendengar kalimat seorang teman "Kamu nikah aja galau, apalagi aku yang belum nikah."

Robbi, ternyata galau bukan karena menikah belum menikah, hamil belum hamil, punya anak belum punya anak, tapi galau terjadi karena hilangnya rasa syukur kami. Hilangnya sabar kami. Mohon ampuni.

Kesadaran itu membuahkan hasil, bahwa syukurlah penghilang kegalauan, keresahan, dan segala kesedihan. Saat galau akan hinggap dalam hidup rumah tangga kami, tentang suami yang begini, tentang takdir yang begitu, tentang segala bisik-bisik  yang setan hembustiupkan, sekejap hadir bayangan 'dulu pernikahan inilah yang kau impikan' dan syukurpun hadir, galaupun pergi, bisik-bisikpun berganti dengan "Robbi, terima kasih atas pernikahan ini". Masyaa Allah.

Saat lelah dan lidah seakan kompak ingin mengucap keluh di 9 bulan ini, syukur pulalah yang menghadirkan senyum penghilang galau dan sedih.

Dan syukur pula yang akan terus dihadirkan saat ada masa ketika anak GTM, nangis keras, mengacau isi rumah, jam tidur yang semakin terbang jauh. Ah, semoga bisa.

Allah selalu Maha Benar, bahwa hamba-hamba yang selalu mengingatNya akan Allah jadikan hatinya tentram. Hilang galau, hilang resah, hilang gelisah, apapun gores takdirmu.

Maka, mari mengingat Allah dengan syukur disertai sabar. Agar tangguh dari kegalauan, apapun bentuk catatan hidupmu.

Kau tangguh tanpa galau, duhai Umma!!

-Aldiles Delta Asmara-
catatan SyahiDiles

Posted by
Aldiles Delta

More

Surga Layak untukmu, Ibu

Ibu, kemarin ku baca-baca kisah Maryam Sang perawan suci yang Allah berikan bayi dengan akhlak rupawan Menurut kisahnya, Maryam begitu berpayah dalam lelah Mendekati putus asa, menyerah dalam segala upaya
Lalu tiba-tiba aku ingat cerita engkau saat mengandungku Engkau memang belum seistimewa Maryam Kisahmu pun tak banyak diperdengarkan orang awam
Tapi aku tahu.. Sakitmu tiap waktu dalam 9 bulan Pastilah persis seperti yang dialami oleh Maryam Kadang tegar pada karunia Tuhan Kadang pernah, meski sedikit, berputus asa sebab ujiannya dalam setiap malam Ah, pantas saja surga layak untuk kau dapatkan
Ibu, kemarin ku baca-baca kisah Bunda Hajar Yang tegar dalam membesarkan bayi merah Di padang kering tanpa harapan hidup mewah Berlari bolakbalik dari Safa menuju Marwah Marwah menuju Safa Begitu seterusnya hingga 7 kali hitungan Berlelah, berpayah, berupaya karena satu tujuan Bayi merah dalam pangkuan menangis karena kehausan Hingga ikhtiarnya Allah karuniakan air dalam hentak-hentak kaki mungil bayi rupawan Keluarlah air yang tiada henti tercurah untuk mereka Zam-zam
Kemudian saja aku teringat kisahmu dalam membesarkanku yang penuh perjuangan Memang tak seheroik Hajar dalam bolakbalik Safa dan Marwah Tapi bayi kehausan dalam dekapanmu membuat lecet yang tak kecil pada tempat menyusu sang bayi yang kehausan Namun kau tak henti menyusuiku hingga 2 tahun silam Meski gigi tumbuh sebagai tanda bahwa akan ada lecet yang lebih dalam Kau pun melanjutkan kisahmu dalam perjuangan memenuhi giziku, mencerdaskan akalku, membiasakan kebaikan bagi akhlakku. Yang ku tahu, tak semudah kedipan mata dalam memandang. Ah ibu, pantas saja surga layak untuk kau dapatkan.
24 jam dalam 7 hari kisahmu sebagai ibu Adakah terselip bahagia di sana? Nyatanya aku sering mendapatkan kau menangis panjang mengadu pada Tuhan Meski kau selalu berkata, bahwa menangis karena bahagia telah memiliku. Padahal bisa saja karena aku yang selalu menguji kesabaranmu. Sabar dan syukur bedanya memang setipis sajadahmu Namun kisah sabar dan syukurmu dalam mengasuhku, telah berurai panjang seperti air matamu sejak awal mengandung hingga aku besar Ah ibu, pantas saja surga layak untuk kau dapatkan.
Atas perih dan segala sakit karena mengandungku Atas pedih dan lelah dalam membesarkanku Atas segala tangis sabar dan syukur dalam memperbaiki akhlakku
Adalah surga, yang tak pernah luput ku sebut agar Allah hadiahkan untukmu. Ibu.
Sebab hanya surga yang sebanding untuk membayar segala perjuanganmu.
-Aldiles Delta Asmara

Posted by
Aldiles Delta

More

Ayo Sini Main Sama Aku

"Gampang banget tau Dil bikin anak anteng gak rewel, gak ganggu umminya"
Saya: "masa? gimana caranya??"
"kasih aja hape"
-_-
"Iya bener Dil, tapi gue gak akan melakukan itu. Sesekali bolehlah, asal jangan seharian pegang hape."
****
Bener juga ya, beberapa kali menemukan anak-anak yang anteng banget -bahkan mendekati ga peduli sekitar- saat dia pegang hape. Mau anak ada reaksinya?? Copot aja hape dari genggamannya, dijamin dia bakal teriak-teriak ngamuk seolah keadaannya jauuuhhh beda saat dia pegang hp. Mau anak gak 'ganggu' kita?? kasih aja hape, maka dijamin kita senang dia amat senang. Sayangnya senang yang sementara :(

Sedih sih, anak anteng tapi 'pergi jauh' dari dunianya, anak anteng tapi 'ngamuk ganas' saat berhadapan dengan kita. Apalagi jika keinginan untuk pegang hape tidak terpenuhi.
Haruskah bermusuhan dengan hape? mungkin iya, mungkin juga tidak, asal dengan batas dan tak membuat anak terlena.

Ya Allah, adakah cara agar anak-anak kami hatinya terikat pada kami bukan pada hape?

Ada, ternyata ada. Hanya saja mari jawab pertanyaan "maukah luangkan waktu tinggalkan hape kita untuk bercengkerama, bermain, berkisah dengan anak kita??"
"Maukah berlelah sedikit dan banyak untuk menjadi alat peraga permainan mereka? Entah menjadi perahu, kuda, dan atau lainnya"
"Maukah mengeluarkan beberapa rupiah untuk membeli barang-barang penunjang kecerdasan mereka? Tak mesti yang mahal."

Karena mungkin saja anak terikat dengan hape karena merasa diabaikan oleh orang tuanya yang sibuk dengan hape -entah apapun alasanya-. Maka ikat hati mereka dengan mulai menjauhi hape dari tangan kita. Agar mudah ia dinasehati, agar mudah ia berakhlak terpuji.

Jangan pernah mengabaikan kalimat permintaan sederhana dari anak "ayah/ibu, ayo sini main sama aku." Justru semestinya berbahagialah, sebab itu berarti masih ada kita di hati mereka.

Teringat ucapan seorang mbak yang bilang "lebih baik berlelah-lelah saat mereka kecil untuk melatih kecerdasan, akhlak dan kesholehan anak kita dibanding saat mereka kecil kita maunya santai dengan menuruti semua keinginan mereka, apalagi untuk pegang hape, tapi saat mereka besar kita justru lelah mendapati segala keburukan mereka. Sebab pengasuhan adalah hutang." (ini ucapan mba Nita istri AjoBendri beberapa tahun yang lalu saat cerita tentang pengasuhan di rumahnya).

Jadi??? Mari belajar lagi wahai (calon) orang tua.
Tak apa ya Umma, saat suatu hari nanti kegiatanmu hanya "nyuci nyapu ngepel nyusui dan ngajarin" ia yang sepertinya harus berulang-ulang dan terlihat membosankan, sebab itu lebih baik dibanding rumah rapi tapi hape dalam genggamnya seharian.

Tak apa ya Umma, saat ia lebih banyak menangis untuk menyatakan keinginannya, semoga tak menyerah dengan memberinya jalan pintas berupa hape dalam genggamnya.

Tak apa ya Umma, untuk belajar lebih cerdik lagi agar menarik dihadapannya saat ia mulai GTM, jangan menyerah dengan memberinya hape sebagai syarat ia harus makan.

Tak apa ya Umma, saat buku-buku harganya sedikit mahal untuk membuatnya candu membaca daripada ia candu terhadap hape.

Tak apa ya Umma, saat sendok, garpu, tutup panci, bahkan kulkas menjadi alat eksplorasinya daripada ia hanya menggerak-gerakkan jari pada hapenya.

Tak apa ya Umma, semoga sabar dengan segalanya, sabar dengan tanpa teriakan "SABAR DONG ADEK, UMMA LAGI MAKAN"

Tak apa ya Umma, semoga syukur dengan mengingat bahwa dulu ia berupa garis dua pada alat tes yang membuat kita berlonjak kegirangan bahkan bahagia menantinya.

Tak apa yaaa..
Kan ada Allah

Pada Allah kita titipkan segala keluh kesah. Semoga berbuah Jannah.

-Hasil obrolan pengasuhan dengan Dila-
Aldiles Delta Asmara (hanya seorang Umma)

Posted by
Aldiles Delta

More

Ibu bekerja vs Ibu RT (resume kajian ForUs2)

FORUM USROH 2 "Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga"
Ahad, 20 November 2016
Fasilitator: Ust Bendri Jaisyurrahman
Notulis: Aldiles Delta Asmara

Jika dilihat dalam rujukan fatwa para ulama mengenai hukum dasar ibu bekerja semua menyimpulkan boleh dengan syarat. Syarat tersebut yang berkaitan dengan hal-hal yang menjaga kemuliaan para wanita agar jangan sampai wanita bekerja justru menghilangkan status kemuslimahannya. Intinya boleh, apalagi bagi wanita yang pekerjaannya dibutuhkan oleh umat, seperti dokter kandungan atau perawat dan pekerjaan lain yang memang membutuhkan wanita. "Mana yang lebih utama?" Jika membahas tentang keutamaan maka bukan berarti pilihan yang lainnya merupakan kehinaan. Keutamaan hanya menunjukkan lebih tinggi dengan yang lain, itupun dengan syarat. Sebab banyak hadits yang membahas tentang keutamaan-keutamaan. Misal hadits "muslim yang kuat lebih dicintai daripada muslim yang lemah". Apakah muslim yang lemah itu hina? TIDAK. Hanya memang lebih utama muslim yang kuat. Begitupun perihal ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Maka jawabannya berdasarkan Al-qur'an dalam surat Al Ahzab: 33 "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, ...."
Ibu lebih utama di rumah. Apakah keutamaan ini terikat satu poin saja, tidak, sebab bersyarat. Ibu di rumah lebih utama jika menjalankan fungsi keibuan. Ibu rumah tangga akan mendapatkan sisi yang positif, mendapatkan derajat yang baik jika menjalankan fungsi keibuan.

Apa yg harus dimiliki seorang ibu terkait fungsi keibuan??

Dalam sebuah H.R. Muslim, Rosul menyebutkan "nikahilah olehmu seorang wanita yang
a. Al walud (subur, untuk perbaikan keturunan agar bisa dibanggakan Rosulullah di hari akhir);  dan

b. Al wadud, akar katanya al wudd (Q.S Maryam : 96 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.") Memiliki makna yang sama dengan al mawaddah (Q.S ArRum ayat 21"...Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang..."). Jika al mawaddah bermakna kasih dan sayang untuk pasangan, maka al wadud bermakna kasih dan sayang untuk anak yang menyebabkan seorang anak ingin selalu mendekat kepada ibu.

Indikator saat kita menjalankan fungsi keibuan adalah ketika anak selalu ingin menempel pada ibunya. Inilah yang akan kita bahas dan kita evaluasi apakah ibu rumah tangga dan ibu bekerja memiliki Al wadud ini.

Jika fungsi keibuan yaitu al wadud dijalankan, ciri keberhasilannya adalah apakah ibu dirindukan atau tidak?

Sebab petaka pertama pengasuhan adalah ketika ibu tak lagi dirindukan. Ibu bekerja dan ibu rumah tangga sama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi ibu yang dirindukan. Bukan lagi membahas mana yang lebih utama, karena saat ini banyak ibu rumah tangga namun tak dirindukan sebab hilangnya sifat Al wadud.

Awal seorang ibu memiliki anak sifat al wadud masih kuat. Bagaimana agar al wadud terjaga? Agar ibu tetap menjadi yang dirindukan, anak selalu ingin bersama ibunya, maka lihat ciri-cirinya. Saat anak dipeluk atau didekati apakah ia menolak atau merasa nyaman? indikasi kedua ketika anak tak mau bercerita karena kecelakaan bagi orang tua adalah ketika anak tak lagi bercerita dan memiliki wilayah privasi yang orang tua tidak boleh mengetahuinya.

Misi pertama ibu

Mengikat hati anak agar anak takluk hatinya
"Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota tubuh ibarat anggotanya". Majmu al Fatawa.

Tips mengikat hati anak

1. Senantiasa berpikir dan berperasaan positif

Terlepas ibu adalah seorang pekerja atau yang di rumah, jika emosi ibu negatif seperti bau busuk yang membuat anak tak mau mendekat. Anak membaca bahasa tubuh ibu. Maka tugas ibu adalah senantiasa berpikir dan berperasaan positif. Ketika ibu mulai memiliki perasaan negatif, maka menghindar dari anak adalah lebih baik. Sekaligus ibu mencari cara bagaimana agar ibu bisa berpikir dan berperasaan positif. Ibu harus memiliki beberapa skill salah satunya menulis, terutama bagi ibu-ibu yang memiliki kecenderungan berpikir dan berperasaan negatif. Ibu yang sering menulis emosinya lebih stabil. Seperti perkataan Iman An-Nawawi "menulis itu mencerahkan pikiran dan mencerahkan batin". Sebab jika ibu tidak menulis kecenderungan untuk melakukan hal buruk pada anak sangat besar.

2. Belajar menjadikan anak prioritas
a. (Al-'Isrā'):26 - Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, ....
(Ar-Rūm):38 - Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, ....

Jika ibu bekerja bisa bersabar menghadapi klien maka seharusnya bisa lebih sabar dalam menghadapi anak. Jika ibu bekerja sebagai guru TK dan sangat sabar menghadapi murid-murid, maka semestinya anak ibu lebih berhak mendapatkan kesabaran ibu.

Cara melatih agar anak selalu menjadi prioritas adalah sering melihat wajah anak ketika bayi. Jika sudah muncul amarah pada anak, mengingat wajah bayinya membuat kita akan menjadi lebih sabar.

3. Manajemen waktu
a. Me time adalah hak wanita, istri Rosulullah memiliki  'me time' untuk solat, berdoa, berpuasa dan ibadah lain saat ia tidak mendapat giliran. Ibu berhak solat, membaca alqur'an tanpa harus diburu oleh tangisan anak, dan ibu berhak melakukan kesenangan yang dibolehkan oleh agama ini. Suami ambil alih sementara untuk menjaga anak.

b. Couple time, untuk memberikan kekuatan energi pada ibu. Penting bagi ibu untuk punya waktu berdua dengan suami untuk berdiskusi, bercengkerama, bercanda tanpa menyertakan anak. Saat ibu mulai kehilangan al wadudnya, yang pertama kali harus dievaluasi adalah suami, sebab artinya itu mewakili perasaan bahwa ia sedang tidak bahagia dengan suaminya. Penting bagi suami membuat ibu bahagia agar al wadud tak hilang dari ibu.

c. Family time, berkumpul dengan keluarga.

d. social time, ibu berhak untuk berkumpul bersama teman-temannya.

4. Skill dasar seorang ibu

- Memasak, hal yang membuat anak selalu rindu kepada ibu adalah masakan ibu.
- Menulis (sudah dibahas)
- Memijat, agar anak selalu merasa dekat pada ibu. Sebab ketika anak nyaman dipijat oleh ibu di daerah tertentu, seperti perut, punggung dan telapak tangan, maka anak akan lancar bercerita dan cenderung terbuka.
- Mendengar, jadilah pendengar setia dengan respon terbaik, bukan sekadar menasehati ketika anak bercerita.

5. Merebut golden moment
Ada 3 waktu yang ibu tidak boleh absen, terutama bagi ibu yang bekerja.

-Hadirlah saat anak sedih, sebab ketika anak sedih ia memerlukan sandaran jiwa, siapapun yang hadir saat itu akan dianggap sebagai pahlawannya, maka ibu wajib menjadi pahlawan yang mendengar kesedihannya apapun dan bagaimanapun kondisi ibu saat itu. Jika tidak mendapati ibunya, maka ia akan mencari 'orang lain' yang bisa jadi berbahaya bagi dirinya. Dicontohkan oleh Rosulullah yang hadir saat ada seorang anak yang sedih karena kehilangan burung pipitnya.

-Hadirlah saat anak sakit, saat anak sakit yang sakit bukan sekadar fisiknya tapi juga jiwanya.

- Hadirlah saat anak unjuk prestasi, anak akan tidak percaya pada ibunya jika ibu tidak datang saat anak unjuk prestasi. Maka bagi ibu yang bekerja, serepot apapun agendakan dengan sekolah sang anak kapan jadwal unjuk prestasi. Hal ini dicontohkan oleh Rosulullah yang selalu hadir saat anak sedang mementaskan prestasinya, Rosulullah hadir saat bani Aslam sedang melakukan lomba memanah.

Maka bagi ibu wajib menjadikan 5 poin ini sebagai pegangan, sudahkah dirindukan, sudahkah anak dekat dengan kita.

Membahas kesadaran bersama bagi para ibu yaitu bahwa anak adalah prioritas. Profesi ibu adalah yang utama, sisanya SAMBILAN saja. Ada 7 indikasi yang ditunjukkan anak sebagai syarat bahwa mau tidak mau ibu harus kembali ke rumah, ibu tidak bisa memaksakan bekerja saat sudah tampak bahwa anak memiliki 7 indikasi kerusakan;

1. Anak selalu membangkang
Ibu yang gagal mengikat hati anak karena sibuk bekerja, indikasinya adalah anak selalu membangkang.
Sebab anak yang dekat dengan ibunya akan taat meskipun dalam keadaan terpaksa.

2. Anak tidak hormat pada ibunya terutama ketika ibu dalam keadaan marah. Jika ibu marah dan anak tambah melawan dan membantah, maka sangat disarankan lebih baik off bekerja daripada kehilangan momen

3. Anak punya privasi, saat anak memiliki banyak rahasia maka ini menunjukkan indikator bahaya. jika anak memiliki banyak rahasia dari ibunya, hak tersebut adalah tanda bahwa anak tidak nyaman dengan ibunya.

4. Ketika anak tidak pernah mendengar nasehat ibunya sebagau rujukan. Indikator anak yang dekat dengan ibunya adalag ketika anak selalu menjadikan ibu sebagai rujukan.

5. Saat anak tidak betah ada di rumah. Sebab rumah memiliki ratu bernama ibu, jika ibu tak lagi dirindukan maka anak tidak akan betah di rumah.

6. Anak sudah berani mengatakan kriteria jodoh "asal bukan seperti ibu".

7. Ketika anak tak memahami bahasa tubuh orang tua, bahkan cenderung membiarkan kita tersakiti.

Indikator-indikator ini mohon jadikan sebagai bahan evaluasi. Jangan menunggu 7 hal ini terjadi, selalu perbaiki kedekatan bersama anak agar menjadi ibu yang dirindukan.

Kenapa banyak ibu yang dimusuhi anaknya "sebab ada peran yg tertukar" antara ibu dengan ayah.

Peran ibu adalah sebagai pemberi rasa aman, sedangkan peran ayah sebagai penegak aturan.

Q.S An Nisa: 34 "laki-laki adalah pemimpin bagi wanita..."
Makna pemimpin dari ayat ini adalah sebagai penegak aturan. Ibu jangan mengambil alih peran ini.

Para ayah wajib bantu istri agar tidak kehilangan al wadudnya. Istri jangan mengambil wilayah aturan. Suami wajib mengingatkan istri bahwa yang menegakkan aturan adalah suami, maka jika ibu ingin memiliki aturan untuk anak, sampaikan pada suami. Istri hanya memberikan usulan. Anak rusak, itu tanggung jawab suami.

Semoga hal ini bisa menjadikan perbaikan bagi rumah tangga, ketika ibu dan ayah menjalankan fungsinya. Ibu dengan kasih sayang, ayah dengan ketegasannya. Lakukan diskusi bersama.

Penting agar ibu dan ayah selalu melakukan harmonisasi. Sebab biasanya permasalahan anak hanya 20% sisanya karena komunikasi ibu dan bapak yang tak selesai. Banyak anak yang tidak patuh pada orang tuanya karena sering melihat pemandangan konflik antara ibu dan ayahnya. Ayah wajib bantu ibu menjadi yang dirindukan terlepas ibu bekerja atau di rumah dengan memfasilitasi agar ibu memiliki pikiran dan perasaan yang positif.


Diskusi

1. Bagaimana meyakinkan istri untuk di rumah?karena istri punya karir yg cemerlang di pekerjaannya.

Tanggapan dari peserta:
- Dari pengalaman mengapa saya (seorang ibu) memilih resign, diawali oleh suami yang mengajak musyawara bukan hanya terkait finansial tapi lebih kepada hal pengasuhan anak. "jika kamu bekerja siapa yang mendidik anak". Hati seorang istri akan tersentuh.

- Temukan kekhawatiran istri mengapa ia masih bekerja. Misal jika finansial, suami pastikan dan meyakinkan bahwa tak akan kekurangan meski ibu tak bekerja.
- Sering diajak kajian tentang keutamaan istri di rumah.
- Suami wajib menunjukkan perhatiannya dengan memuji kelebihan istri.

Tanggapan dari Ust:
Bagaimana agar istri mau mendengar suami?
Dalam pepatah Arab "kebaikan akan menaklukkan manusia". Maka nasihat yang tidak masuk kepada pasangan karena dirasa mungkin belum baik. Bagaimana kebaikan yang menaklukkan manusia?
1. Kebaikan yang sering. Lakukanlah banyak kebaikan kepada istri agar imhati istri takluk kepada suami.
2. Kebaikan yang ekstrim. Tidak sering tapi sekalinya berbuat dengan kebaikan-kebaikan yang besar.

Inilah tradisi yang diajarkan Rosulullah "aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada perempuan"

Pertanyaan 2:
1.  Apakah wajar ketika anak lelaki saya yang berusia 4,5 tahun sangat nempel kepada saya?? Sampai usia berapa anak bounding kepada ibunya?
2. Saat suntuk dengan pekerjaan, saya membutuhkan me time, namun dzolimkah terhadap anak karena waktu bersama anak semakin berkurang untuk kerjaan ibu dan untuk me time ibu?

Tanggapan dari Mc:
1. Berikan kesempatan kepada suami agar lebih dekat pada abinya.

Tanggapan dari Ust:
1. Kedekatan kepada anak indikasinya bukan sekadaf nempel atau tidak nempel. Indikasi yang lain apakah mampu mengerjakan urusannya sendiri? karena jika umur 4 tahun masih ingin 'dilayani' oleh ibunya terkait urusan pribadi, maka harus diantisipasi. Sebab usia 4 tahun sudah masuk ke fase independent, fase ketika anak sudah mulai mandiri. Orang tua hanya sebagai partner. Jika terlalu nempel pada ibu bukan berarti ia sangat tergantung pada ibu, bisa jadi karena anak tak memiliki alternatif yang dilihat dari sosok ayah.

2. Me time yang kebablasan
Anak memang tidak bisa menunggu maka anak harus dipahamkan bukan dengan dibuat jarak antara ibu dan anak. Ibu bisa jujur kepada anak. Sebab menghindar dari anak justru memberikan persepsi yang buruk kecuali kita tidak bisa mengelola emosi yang negatif. Anak tidak bisa mentolerir pekerjaan, jika tidak bisa berdekatan dengan anak untuk sementara waktu maka lebih baik jujur pada anak. Cara yang berikutnya lakukanlah sandiwara pada anak, kalau sengan klien ibu bisa bersandiwara untuk bisa tersenyum, maka kepada anak harus juga ibu lakukan, jadilah ibu yang profesional sebagaimana ibu ingin menjadi pekerja yang profesional.

Posted by
Aldiles Delta

More

Menjadi Istri

Menjadi Istri

oleh: Aldiles Delta Asmara

Telah dikabarkan kepadamu duhai wanita, tentang sebuah jalan keabadian yang di sana terdapat singgasana terindah dan kau ibarat pemiliknya, sebab kau bebas masuk dari pintu yang mana saja. Dan jalan itu salah satunya bermula dari menjadi seorang istri.

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)


Pintu langit telah terketuk, pintu hati telah terbuka untuk satu jiwa, yang karenanya taatmu beralih. Dan pintu keberkahan, semoga mengalir terus menerus.


Dalam rupa sepertiga malam, kau kan terbangun dalam tunduk sujud bersama, melantunkan doa, mengeja tiap harapan dalam kehidupan yang sampai surga.

Menjadi istri adalah menjadi bidadari, dalam miniatur surga yang terketuk dengan salam dan kata-kata lemah lembut penuh cinta yang menyejukkan hati. Menjadi istri adalah melatih diri menjadi bidadari, tak mudah mengeluh, tak mudah mengubah raut wajah dari riang menjadi berang, tak mudah untuk ucap kata-kata yang menyakiti hati, selalu tersenyum dan membahagiakan suami.

Menjadi istri adalah menjadi separuh ragawi bagi suami. Melengkapi, menyertai, memperbaiki, dengan tanpa melupakan posisinya sebagai imam dalam rumah tangga iman ini. Jika surga menjadi tujuan, maka tetaplah berupaya bergandeng tangan dalam perbaikan. Tak perlu menuntut diperbaiki, tapi cobalah memperbaiki, tak menagih untuk dilayani tapi cobalah melayani.

Menjadi istri adalah menjadi penerang hati, kala gundah meliputi hari sang suami, senyummu bak rona mentari dalam penat lelah mengais rizki. Memberi cahaya yang menyinari, memberi kesejukan yang menentramkan hati. Menjadi penerang dan penyejuk dengan terjaga dari ketergesaan memburu tanya "ada apa?" pada tiap ubah ekspresi suami. Cukup menjadi tempat bersandar hingga sang suami tanpa ragu berbisik "mohon selimuti". Dan menjadi Qurrota a'yun bukan sekadar mimpi.

Menjadilah kamu seorang istri, yang mampu memahami suasana hati, bukan hanya menuntut untuk dipahami lagi dan lagi. Sebab suami bukan yang Maha Tahu, maka diammu tak akan mengubah kondisi. Pahami bahwa dia makhluk penuh khilaf diri.

Menjadilah kamu istri yang diridhoi, dalam langkah kemanapun kamu pergi, bukan dengan gerutu dihati. Agar cintanya dan cintamu berujung surgawi.

Suatu hari saat menjadi istri, akan banyak pertanyaan yang kau tanyakan pada Robbmu terkait takdir ini. Kadang kau syukuri, kadang kau ingkari.

"Mengapa dia?"

"Mengapa aku?"

"Mengapa tak seperti yang lainnya?"

Percayalah bahwa kau dipilih untuknya bukan tanpa sebab. Berlelah hari ini, bahagia suatu hari nanti. jika kau meyakini.

Maka kini genggamlah tangannya, tatap matanya, dan bisik dalam mesra "jadikan aku bidadarimu, di dunia dan di surgaNya".

Pengingat diri dihari menggenapnya adik tercinta pagi tadi, Ayu Sulistia dan suami.

Barokallahu Laka wa baroka 'Alaika wa jama'a bainakuma fii khoir..

Posted by
Aldiles Delta

More

Kebaikan yang Sia-Sia

Mamah muda ini sekarang punya kebiasaan cek tombol pencarian instagram, kemudian kalo muncul postingan tak layak, semacam buka aurat, pornografi baik sekadar dengan kata ataupun dengan gambarnya. Banyak banget akun gak jelas yang kalo kata suami saya akun nyari duit dan like, jadi yang porno-porno pun diposting.

Kebayang gak kalo yang liat gambar itu anak-anak kita? duh naudzubillah. Maka, akhirnya saya memilih untuk selalu jadi 'satpam' akun-akun tersebut. Bukan dengan komen yang berakibat semakin tingginya 'harga' tuh akun, tapi dengan langsung mereport-nya. Meski kemudian saya pun berpikir dan menanyakan hal ini kepada suami.

"Emas, ada pengaruhnya gak sih aku mereport akun-akun abal yang porno macam ini? kayaknya gak ngaruh apa-apa ya?"

"Pasti pengaruh donk, setidaknya menentukan posisi adek ada di mana dalam dunia pornografi ini."

Jadi inget kisah tentang binatang kecil yang membantu memadamkan nyala api untuk membantu Ibrahim.

Tapi yang saya maksud sebenarnya, adakah dampak langsung terhadap akun-akun tersebut kalau hanya satu orang yang mereport. Dan suami saya menjawab... "sepertinya enggak, kecuali kalau banyak yang mereport".

Sedihlah saya, meski gak menyurutkan kebiasaan itu.

Hingga suatu hari....

Ada pemberitahuan dari instagram kalau laporan saya diterima dan akun tersebut sudah menghapus postingan yang saya adukan (meskipun saya gak tahu postingan yang mana, yang jelas muatan pornografi).


Dan itu rasanya....


"tuh kan dek, ga ada kebaikan yang sia-sia dimata Allah."

Allah Maha Pemurah, setiap kebaikan yang hambaNya lakukan akan selalu dibalas, termasuk dibalas dengan rasa bahagia.

yuk, mamah papah dan semua hamba Allah, jangan sekadar ngeri dengan banyaknya korban pornografi, tapi lakukan hal yang bisa kita lakukan, dengan mereport atau bahkan menegur langsung pasangan yang kita lihat asyik berpacaran. Jangan hanya jadi penonton yang meringis :)


-Aldiles Delta Asmara-

Semoga hati kita selalu condong pada kebaikan.

Posted by
Aldiles Delta

More

PROPOSAL PERMINTAAN (2)

Saat menuliskan 'proposal permintaan' untuk anak perempuan, saya lupa melibatkan suami dalam pembuatannya, karena proposal tersebut dibuat ketika menanti kepulangan suami. Maka untuk 'proposal permintaan' bagi anak laki-laki, saya tak lupa menyertakannya. Sekaligus ingin tahu harapan ia kepada anak laki-lakinya nanti.

"Emas, proposal permintaan apa yang emas minta pada Allah untuk anak laki-laki kita nanti." Pembuka obrolan disuatu subuh.

Kemudian mengalirlah dari lisannya Q.S Albaqoroh ayat 131-134 sebagai pembukanya..

"Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!'. Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam'." – (QS.2:131)

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya, Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama yang lurus (Islam)'." – (QS.2:132)

"Adakah kamu (Muhammad) hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku'. Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya'." – (QS.2:133)

"Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya, dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak dimintai pertanggung-jawaban, tentang apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.2:134)

"Seperti yang para nabi pesankan kepada anaknya bahkan sampai mendekati ajal, yang dipesankan dan diminta hanya agar anak-anak keturunannya hanya menyembah Allah, bukan wasiat atau pertanyaan tentang harta benda. Begitupun Emas ingin anak-anak kita kelak menjadi pejuang tauhid. Yang mengEsakan Allah di atas segalanya, di atas harta, di atas nafsu, di atas syahwat dunia lainnya. Emas ingin anak laki-laki kita menjadi sebenar-benarnya lelaki dalam kehidupannya, dari awal kelahiran hingga wafatnya. Gak akan Emas biarkan ia menyerupai perempuan, meski apapun alasannya, entah karena hanya ingin mendapatkan rupiah atau karena dorongan syahwat yang katanya naluriah". Penjelasan suami dengan panjang dan tepat.


Kemudian saya mengingat apa yang melatarbelakangi suami saya punya harapan seperti itu. Beberapa hari yang lalu, kami kaget dengan akun personal seorang laki-laki yang mencari nafkah untuk keluarganya, untuk anak istrinya dengan menyerupai perempuan. Memakai baju perempuan, dan bergaya layaknya perempuan. Yang membuat kami kaget karena ia yakin apa yang ia lakukan adalah kebaikan dan HALAL karena tidak merampok, korupsi, dan lain-lain.


Kami langsung sama-sama istighfar, betapa 'halal' melenceng begitu jauh dari maknanya. Hati kami ngilu. Dan berharap agar kami mampu mendidik anak kami, mengenalkan kepadanya ketaatan-ketaatan yang berupa perintah dan larangan Allah, bukan sekadar menjauhi larangan yang akan merugikan orang, tapi juga larangan yang dalam bentuk menukar akhirat dengan dunianya. Kami meminta pada Allah, agar kami mampu mengasuh anak kami sesuai dengan fitrahnya. Berlandaskan pada perintah Allah, bukan pada perasaan belas kasih sayang sebagai orang tua. Sebab kami khawatir, rasa sayang kami mendahului ketaatan pada Allah, hingga meridhoi permintaan anak meskipun tidak sesuai dengan fitrah dirinya sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Bukankah kini semakin banyak terjadi???


Kami sebagai orang tua, akan meminta bimbingan Allah agar mengajarkanmu tentang kelembutan pada sesama. Kelembutan yang tak menghilangkan kelelakianmu, sebab menjadi lembut, mengerti perasaan orang lain, memahami kondisi, dan ringan tangan membantu pekerjaan perempuan terdekatmu (umma dan keluargamu) tetap bisa engkau lakukan tanpa harus mengubah sosokmu menjadi yang Allah murkai. Bapakmu akan mengajarkanmu dengan berusaha agar menjadi contoh yang baik untukm.


Anak lelakiku, berjalanlah di atas bumi Allah dengan segala aturannya. Bukan dengan 'batas wajar' yang kau karang sendiri. Tumbuhlah dengan belas kasih pada sesama sebagai bentuk ketaatan pada Allah bukan karena kau mengharapkan nilai dari dunia.
Anakku, banyak-banyaklah berkaca pada Rosul kita tentang bagaimana memahami perempuan (umma, adik/kakakmu, istrimu nanti) yang kau cinta. Besarlah menjadi segagah-gagahnya laki-laki yang berdiri tegap membela agamamu, bukan yang dengan ikhlas membela para penista dan pencela. kenali pahlawan negerimu yang dengan pekik takbirnya bergetarlah kemerdekaan di negerimu. Hiduplah dengan pemahaman yang baik tentang orang-orang di sekitarmu. Jadilah lelaki yang terjaga dan menjaga, dirimu dan keluargamu dari panasnya api neraka.

Anak lelakiku, hanya kepada Allahlah kami meminta bimbingan.


Duhai Allah, inilah 'proposal permintaan' untuk anak laki-laki kami. Mohon ridhoi...


-Aldiles Delta Asmara-

'proposal permintaan' bagi calon pemuda kami di hari SUMPAH PEMUDA

Posted by
Aldiles Delta

More

USG 2 (26 Okt 2016)

Bismillahirrahmanirrohim..

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmsholihaat..

Banyak yang bertanya pada umma tentang kamu, "laki-laki atau perempuan?" pertanyaan yang umma belum tahu jawabannya. Pertanyaan yang membuat umma pun ingin tahu hingga menghadirkan rindu. Padahal tadinya umma dan bapak memasrahkan penuh pada Allah, ingin menjaga rahasia ini, ingin menjaga rasa penasaran ini hingga umma bertatap langsung denganmu.

Umma dan bapak berubah pikiran, lagipula mengetahui jenis kelaminmu dari awal bukan suatu dosa kan?? hehehe. Maka hari ini, dengan meminta ridho dari bapak, umma pun USG dengan diantar uwo ke RS. Bukan hanya ingin tahu siapa kamu, tapi lebih terdorong rasa ingin tahu bagaimana keadaanmu.

Perasaan umma begitu bahagia saat mengetahui bahwa kamu tumbuh dengan baik, sehat dan dengan posisi sujud pada Robbmu. Dan, kamu laki-laki, insyaa Allah :)

Bahagia yang entah bagaimana melukiskannya. Senyum-senyum syukur bahkan senyum itu masih membekas ketika umma menulis ini. Uwo pun terlihat sangat bahagia. Kita patut bersyukur ya sayang.

Sayang, umma ingin bercerita sedikit tentang sisi lain dari kebahagiaan yang umma rasakan. Umma bahagia dengan hadirnya kamu, sehatnya kamu dan kabar-kabar kebaikan tentangmu yang lain, tapi ada rasa 'sedih' karena umma membayangkan calon kakak sepupumu. Sayang, sebelum ini kamu punya calon kakak sepupu yang kini sudah di surga. Entahlah, tiba-tiba umma merasa menjadi sangat sedih saat membayangkan mintuwo dan makdangmu pasti dulunya berharap kabar baik saat pertama kali ingin bertemu calon anak mereka, ada perasaan tidak sabar, perasaan segera ingin tahu dan perasaan-perasaan lain yang umma rasakan seharian ini. Tapi apa yang mereka dapat? Qodarullah, ternyata Allah menakdirkan yang lain. Dihari pertama mereka USG, mereka malah mendapati kabar bahwa calon anak mereka sudah tidak hidup dalam rahim mintuwo mu. Ya Allah sayang, umma tak bisa membayangkan kesedihan itu. Pasti hancur dan menyesal berkali-kali meski tak tahu apa yang disesali.


Maka kini, saat umma mendapatimu Allah izinkan tumbuh dengan baik dan sehat, umma benar-benar berlimpah rasa syukurnya, berlapis rasa bahagianya dan berkali-kali senyum merekahnya.

Dan rasa syukur ini yang mengiringi umma untuk melakukan yang terbaik untukmu, untuk keshalihanmu, untuk kehidupanmu. Bantu umma dan bapak ya sayang.


Tetaplah dalam pertumbuhan dan kesehatan serta ketakwaan yang baik.

-Aldiles Delta Asmara-

Ummamu, dalam surat cinta di usiamu yang 26w

Posted by
Aldiles Delta

More

PROPOSAL PERMINTAAN

"Dek, kan bentar lagi jadi seorang ibu, bicaranya dijaga ya, kurangi ngeluh, kurangi ketus, judes, dan lain2. Ganti aja jadi istighfar" -Pesan mama-

Menjadi seorang ibu artinya menjadi "manusia sakti". Yang dari lisannya, kehidupan seorang anak seolah terletak padanya. Baik dan buruk anak tergantung pada ucap saktinya. Kita banyak mendengar ada seorang ulama yang menjadi imam besar masjid di kota suci merupakan dampak dari ucap sakti seorang ibu. Maka, apa yang menghalangimu untuk berkata yang baik pada anakmu jika hal itu adalah yang menentukan masa depan anakmu??

Tak berhenti sampai di situ. Ketika mama menitipkan nasihat yang berharga ini, tiba-tiba jiwa saya menjelajahi waktu. Jika suatu saat nanti Allah beri amanah pada kami seorang anak perempuan, maka semoga Allah bimbing kami agar mengasuh anak perempuan kami menjaga lisan. Agar ia sedari dini hanya mengucapkan kata-kata yang baik yang semoga terbawa sampai kelak mereka menjadi seorang ibu.

Sebab di jaman kini, semakin banyak wanita-wanita yang berkata penuh makian dan hinaan. Saya pernah beberapa kali mendapati siswi saya dengan lancarnya berbicara buruk. Entah bagaimana ia dibesarkan di keluarga, dan entah bagaimana ia akan membesarkan keluarganya nanti. Yang semakin membuat sedih, mereka mengira bicara kasar adalah batas wajar, dan dengan bangga menyebut dirinya 'bad girl'.
Menghina teman, "batas wajar"
Berbicara kasar, "batas wajar'
Pulang malam, "batas wajar"
Pacaran berduaan, "batas wajar"
Membuka aurat, "batas wajar"

Duhai anakku, semoga tak terjadi padamu. Dan semoga kami mampu mengenalkan padamu apa itu "batas wajar" yang Allah ridhoi. Termasuk dalam menjaga ucapan-ucapanmu.

Di waktu yang lain, suami saya pernah berpesan "Adek kan bentar lagi jadi seorang ibu, kalau lagi ngambek atau cemberut tetap doa yang baik ya. Tuh doa adek sekarang banyak diijabahnya sama Allah".

Pesan ini memberikan lagi beberapa hikmah, bahwa wajar jika dalam perjalanan seorang perempuan pasti ada berbagai macam rasa, dan artinya menjadi seorang perempuan haruslah melatih diri agar apapun yang dirasa, jangan sampai mengubah keadaan menjadi buruk dengan ucap yang tidak patut. Saya pernah ngambek sengambek-ngambeknya pada suami yang lembur, pulang malam, entah apa yang waktu itu saya ucapkan, intinya saya ngambek. Dan ngambeknya saya berbuah musibah bagi suami saya yang menyebabkan saya menyesal sejadi-jadinya dan ketika suami sudah sampai di rumah, saya langsung memeluknya sambil berkali-kali minta maaf. Duh, perempuan.

Sejak itu saya melatih diri untuk mengatur emosi dengan sangkaan yang baik dan juga ucapan yang baik agar tak ada musibah yang terjadi karena emosi yang buruk.

Lagi-lagi teringat, betapa pentingnya meminta bimbingan Allah agar kita mampu mengasuh seorang anak perempuan agar mampu mengontrol emosinya. Marah, sedih, kecewa, pasti akan dirasakan oleh anak kita. Hanya saja cara menyelesaikannya perlulah kita bimbing karena kita orang tuanya. Itulah perlunya seorang ibu berlatih mengontrol emosi, sebab sang anak pasti meniru. Artinya, mengontrol emosi bagi seorang ibu adalah cara membimbing anak perempuan agar kelak mampu mengontrol emosi mereka pula. Sebab kini, banyak kerusakan yang terjadi karena perempuan-perempuan tak sanggup mengontrol emosi.

Saya pernah mendapati seorang siswi SMP kelas awal yang marah hanya karena pendingin di ruang belajar rusak. "GIMANA SIH, SAYA UDAH BAYAR, MASA SAYA GA DAPET FASILITAS". lawan bicaranya tentu bukan yang seumur olehnya, tapi jauh-jauh sekali.

PR menjadi ibu banyak sekali ya Diles, mengajarkan anak perempuan kita menjaga lisannya, mengontrol emosinya serta mengajari mereka untuk menerima keadaan dengan hati dan prasangka yang lapang. Agar makian tak terucap, agar hati yang lapang membawa kedamaian untuk sekitar.


Sanggup?? Hanya kepada Allah lah kita memohon bimbingan. Sebab anak kita adalah ciptaan Allah, hati mereka, lisan mereka, dan pikir mereka adalah Allah yang menguasai. Ajukan 'proposal permintaan' anak sedari dini dengan doa-doamu. Sebab mengikuti seminar parenting tak akan cukup menggenggam hati anakmu jika tak kau barengi dengan mengajukan 'proposal permintaan' dalam bentuk doa pada Allah.

Ya Allah, inilah sebagian 'proposal permintaan'ku bagi anak perempuan kami kelak. Mohon ridhoi.

-Aldiles Delta Asmara-

'proposal permintaan' untuk anak laki-laki segera dibuat.

Posted by
Aldiles Delta

More

Guru

Banyak beredar video ketidaksopanan murid kepada gurunya, dengan caption makian. Anak-anak seperti itu tidak perlu dimaki, cukup dicintai. Mereka kenyang dengan makian dari segala penjuru hingga berlaku seperti itu bagi mereka bukan hal baru.

Mau menasihati?? Mereka lebih kenyang lagi. Kalau menurut ajo Bendri ikatlah hati sebelum menasihati. Jadi sebelum menasihat, mari mencintai.

Sebagai seorang guru, saya pernah beberapa kali merasakan kejadian serupa. Badan didorong keras disertai tatapan galak oleh seorang anak kelas 5 SD, diancam dilaporkan ke polisi oleh anak kelas 6 SD, diamuk dengan banting kursi di depan saya, juga oleh anak kelas 6 SD. Baper? Jelas, rasanya gemes banget pengen jitak dan nabok balik bahkan pengen banget bilang "Besok jangan belajar sama saya, cari sana guru yang lain!".

Tapi saat berada di tengah kejadian itu, rasa iba lebih banyak muncul. Ketika mereka berbicara melotot sambil menunjuk-nunjuk muka saya, yang hadir di benak justru sesosok anak kecil yang teramat ketakutan karena sering diperlakukan seperti itu, hingga tanpa sadar ia merefleksikan ulang pada saya.
Jadi apa yang harus dilakukan?
TENANG dan CINTA.

"Kamu gak suka sama kakak? Oke gapapa, tapi kamu bisa kok bicara yang lembut tanpa harus kasar begini, yaudah kalo kamu udah tenang, kakak ada di ruang pengajar".

-jalan ke ruang pengajar sambil nahan air mata-

Qodarullah, 10 menit siswa tersebut menghampiri saya dan keluarlah semua keluh kesahnya. Pertemuan-pertemuan berikutnya, sikapnya berubah layaknya bayi. Bicara manja khas anak-anak yang ga mau lepas. "Aaaa kakak, ayo kita belajar". 😍

Intinya jangan pernah memarahi balik, jangan pernah membuat tembok penolakan pada, jangan pernah mengasingkannya dengan label "anak nakal". Karena tanpa kita beri label, mereka sudah kenyang dengan label yang sudah telanjur menempel pada mereka.

"Hai anak baik" Sapa saya suatu hari pada siswa SMP.

"Kakak salah, sangat salah, saya ini anak nakal, kakak gak usah bohong. Semua orang juga bilangnya saya nakal."

Konsep diri yang negatif mungkin salah satunya tercipta karena label dari kita. Padahal mereka masih sangat berpeluang menjadi baik.

Si bocah SD yang pernah mengancam akan melaporkan saya pada polisi, di akhir pertemuan ajaran beberapa bulan setelahnya dia bicara dengan bahasa khas ala anak-anak. "Kakak, waktu itu aku pernah ngancem-ngancem kakak ya, hehehe maapin aku ya kak. Ya ampun, malu ih ngingetnya kenapa bisa begitu".

Beri mereka porsi cinta, meski makan hati. Jangan jadi orang dewasa yang menambah luka anak-anak. Maka cinta kitalah yang dapat menuntunnya ke dalam cahaya. Dan itu sebaik-baik karunia yang Allah titip pada kita. SEMOGA.

*Sesedih-sedihnya dimaki sama murid, lebih sedih lagi saat justru melihat murid yang baik di depan, nurut, kelihatan baik-baik saja bahkan berprestasi, tapi saat tak di depan kita, mereka justru menikam dengan perilaku mereka yang bermudah-mudah membuka aurat, bergaya tak pantas dan melepaskan kehormatan mereka. Sakitnya lebih dalam. 😩

Wahai guru, PR kita masih banyak.

-Aldiles Delta Asmara-

catatan untuk nabok diri sendiri, jangan ikut-ikut menilai mereka buruk.

Posted by
Aldiles Delta

More

Gadget, Dicintai namun Diwaspadai

For Us (Forum Usroh)
Ahad, 16 Oktober 2016
Fasilitator: ust Bendri Jaisyurrahman
Tema: Gadget, dicintai namun diwaspadai


Pembahasan 30 menit oleh ust Bendri


Gadget memiliki dua sisi, positif dan negatif. Saat ini, kita seolah tak bisa lepas dari gadget. Ia tidak diharamkan karena faktanya ia dibutuhkan. Maka penting bagi kita mengetahui dampak penggunaan gadget terhadap keluarga.

1. Dampak fisiologis:
Gadget menjadikan anak fokus ke layar, bola mata cenderung statis. Anak yang terpapar gadget sejak kecil dijamin tidak menyukai aktivitas yang membutuhkan pergerakan bola mata, seperti membaca buku. Dampak fisiologis yang dirasakan berikutnya yaitu anak yang terpapar gadget sejak dini akan mengalami beberapa penyakit seperti RSI, kerusakan bagian tulang belakang karena sering menunduk, dan luka di dalam retina.


2. Dampak psikologis:
Gadget dapat mempengaruhi perilaku, bukan hanya pada anak-anak tapi juga pada orang dewasa. Disebut generasi asosial, generasi yang tidak peka terhadap keadaan sekitar, karena dalam dunia maya kepekaan hanya diukur dengan seberapa banyak like atau share yang tanpa sadar berpengaruh pada kehidupan nyata. Gadget juga dapat mengakibatkan munculnya generasi yang lemah akibat terpengaruh fasilitas-fasilitas yang ada di dunia maya seperti tombol unfriend, atau block yang bisa kita pilih jika tidak sependapat  dengan orang lain. Hal ini berdampak di dunia nyata yang mempengaruhi hubungan sosial, anak mudah berpindah-pindah sekolah hanya karena ada masalah dengan guru atau temannya. Pada orang dewasa dampak seperti ini terlihat semakin meningkatnya angka perceraian. Jika tidak suka, dengan mudah akan memilih 'cerai' karena terbiasa dengan intoleransi dari dunia maya.


3. Dampak sosial:
Ikatan antar saudara berkurang. Kita lebih terbiasa berjauhan dengan saudara kandung daripada gadget kita. Gadget seumpama saudara yang paling dekat, yang selalu dicari bahkan jika sekejap saja menjauh dari mata.

Apa yg harus dilakukan orang tua agar anggota keluarga tidak mengalami dampak tersebut??


1. Menjalin kedekatan batin:
Orang yang aktif di gadget adalah orang yang kesepian. Anak yang lari ke gadget adalah anak yang tidak diperhatikan oleh orang tuanya. ISTRI YANG SERING CURHAT DI DUNIA MAYA (GADGETNYA) adalah istri yang sering diabaikan suaminya. Maka tugas bagi seorang suami dan ayah harus menjalin kedekatan batin, pada istri dan anak agar tak lagi mengumbar kesedihannya di dunia maya.

Jika ingin mendekatkan batin pada anak, tumbuhkan al wadud (kasih sayang yang membuat anak ingin mendekat) dan al mawaddah (untuk kedekatan antara suami istri) dengan sering meluangkan waktu bersama, sering menggenggam tangan, bersandarlah atau izinkan pasangan bersandar pada bahu kita, dll. Dampak kedekatan batin bagi anak, akan menjadikan orang tua sebagai rujukan pertama, bukan dengan gadgetnya.
Batin yang sudah mulai dekat ditandai dengan 'no privacy". Jika anak atau pasangan tidak mau ketahuan isi gadgetnya, aktivitas dunia mayanya, bahkan mulai mempassword handphonenya, maka ini berbahaya. Buatlah kedekatan batin agar kita lebih dibutuhkan dibanding gadget anak dan pasangan kita.

Jika batin antar keluarga sudah dekat, maka cinta  akan membawa anak dan pasangan kembali pada kita.


2. Manajemen hiburan
Orang tua harus memiliki agenda alternatif untuk menghibur anak. Menyediakan hiburan yang bukan hanya dengan kemewahan tetapi bisa dimulai dengan hal sederhana. Misal pada anak usia dini, hiburan terbaik bagi mereka adalah ekspresi wajah dan eksplorasi tubuh orang tuanya dengan bercerita dan mendongeng. Poin pentingnya adalah kebersamaan tiap anggota. Jangan memberikan hiburan dengan gadget, anak-anak yang mencari hiburan dengan gadget salah satu penyebabnya karena orang tua atau keluarga tak memenuhi hiburan bagi anak. Sebab hiburan bagi anak ibarat makanan, jika tak dikenyangkan di rumah, mereka akan mencari jajanan lain di luar. Keluarga yang sehat adalah yang selalu punya rencana untuk selalu menghibur tiap anggotanya.
Manajemen hiburan yang diberikan orang tua pada anak akan menaklukan kebosanan yang mereka alami, buatlah kebersamaan yang bermakna tanpa gadget dengan menumbuhkan skill menghibur, seperti mengajak anak bermain (bukan permainan di gadget) bercerita dan berpetualang.


3. Membuat rundown aktivitas
Terinspirasi dari Q.S Al Hasyr: 18 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

"besok mau ngapain?" adalah kunci yang akan kita terapkan pada anggota keluarga. Sebab anak yg tidak punya planning agenda tiap harinya, hanya akan diisi oleh gadget.



MANAJEMEN GADGET


Boleh memegang gadget asal memenuhi beberapa syarat, sebagai berikut;
Waktu: Buat kesepekatan kapan boleh dan tidak boleh dalam memegang gadget, misal jam 18.00 s/d jam 21.00 untuk tidak memegang gadget.


Lokasi: Tentukan lokasi yg tidak boleh ada gadget di dalamnya. Seperti di kamar tidur dan di kamar mandi. Banyak anak yang betah menyendiri di dalam kamar karena terpengaruh oleh gadget, yang mengakibatkan orang tua tidak tahu apa saja yang sudah anak lihat. Ingatkan juga agar anak tidak membawa gadget ke kamar mandi, sebab kamar mandi adalah tempat bersarangnya jin, dan kita tidak boleh berlama-lama dalam kamar mandi.

Isi: Terapkan aturan aplikasi mana yang boleh atau tidak boleh untuk anak.

Durasi: Buat kesepakatan waktu kapan dan berapa lama anak boleh memegang gadget.

Situasi: Jelaskan pada anak ada beberapa situasi yang tidak boleh memegang gadget, seperti saat ibadah, saat makan bersama, saat berbicara dengan orang lain, saat naik kendaraan, saat bermain, dan saat liburan.


13.30 mulai diskusi antar peserta dan fasilitator.


Penanya 1: 
a. Memiliki anak usia 18 bulan, dengan istri fokus di rumah untuk mengasuh anak. Anak dekat dengan abinya meskipun abinya kerja dari jam 07-17. Karena ketika kerja sering memberi kabar pada keluarga. Yang ditanyakan, seberapa intensifkah seorang ayah/abi perlu memberi kabar kepada keluarga di rumah??
b. Baik atau tidak menakut-nakuti anak dengan hal yang tidak dia sukai "kalo ga mau mandi nanti dikasih jamu"??


Tanggapan dari ust Bendri:

1. Kedekatan yg dijalin sudah benar, bahkan wajib. Pada usia 0-2 tahun anak mutlak bergantung pada bapak dan ibunya. Dalam bahasa arab ada panggilan khusus kepada seorang ayah, bukan sekadar abi, tapi 'abati' menunjukkan kedekatan secara emosi, atau kerinduan pada abi. Ayah yg dirindukan saat jauh ataupun dekat. Dicontohkan oleh kedekatan antara Ismail dengan Ibrahim dan Yusuf dengan Ya'qub.
Pada usia 0-5 tahun anak butuh wajah ayah, maka saat berjauhan dengan adanya gadget ayah bisa membuat anak dekat dengan mengirim foto atau video. Berbeda ketika anak berusia di atas 5 tahun, saat berjauhan ayah tak mesti mengirim video atau foto wajah ayah, cukup dengan video perjalanan dan pengalaman ayah agar anak merasa dekat dengan ayahnya.

Ada hak anak yang harus orang tua penuhi terkait dengan perkembangannya, yaitu;

a. Tidak boleh membentak atau berbicara yang kencang dengan anak, terutama pada usia balita. karena 10rb sel otak anak akan hangus.
b. Anak tidak ditakuti atau diancam. Tidak perlu mengancam anak agar makan, karena manusia punya naluriah sendiri untuk kebutuhan pokoknya. Kewajiban orang tua adalah memenuhi asupannya bukan sekadar mengenyangkan perutnya.


Penanya 2: Dari mana sumber yang mengatakan bahwa "anak fitrahnya ketergantungan/nempel sama orang tua"?


Tanggapan ustadz Bendri:


Masa kedekatan antara anak dan orang tua dibagi menjadi 3 periode, yaitu:
a. Dependent, saat anak berusia 0-2 tahun, ditandai dengan ciri anak yang selalu bergantung pada orang tua, dekat dekat orang tua dan tidak mau lepas dari orang tua.
b. Independent yang dimulai ketika anak berusia 2 tahun yaitu dengan menyapihnya, yang bertujuan untuk mengajari anak bahwa keinginannya tidak  bisa selalu terpenuhi.
c. Interdependent, masa ketika anak berusia di atas 3 tahun: Ketika anak mulai bisa membedakan antara kanan dan kiri maka orang tua wajib mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab pada dirinya.


Penanya 3:
Bagaimana cara menghilangkan ketergantungan jika anak sudah terpapar gadget?

Tanggapan dr peserta:
Jika anak sudah berusia remaja, maka beri  ia pengertian dan aturan, misal akan dikasih gadget jika...


Tanggapan ustadz Bendri:
Banyak orang tua yang tidak bisa menghindar saat anak meminta sesuatu. Penting bagi orang tua untuk mengajarkan pada anak bahwa ia harus mendeskripsikan apa yang ia minta sebagai "kebutuhan atau keinginan".

Mengapa remaja banyak yang meminta dibelikan gadget canggih seperti teman-temannya? Salah satu faktornya karena anak merasa kesepian, antisipasi agar anak tidak meminta gadget sekadar untuk ikuta-ikutan bukan dengan nasihat tapi harus dengan kedekatan hati.
Ingat, sebelum menerapkan aturan, buatlah anak jatuh cinta pada kita (ayah & bunda). Ikatlah hati sebelum menasihati. Ikatan emosional ini penting untuk kita jaga.


Penanya 4:
1. Seberapa besar pengaruh kuantitas waktu terhadap kebersamaan antara anak dan orang tua, karena ibu bekerja lebih banyak di luar?

2. Kondisi seperti apa yg membolehkan wanita bekerja?


tanggapan ustadz Bendri:
1. Ibu boleh bekerja namun penuh dengan konsekuensi, profesi ibu yg utama adalah mengasuh anak, sisanya sambilan saja. Jika masih punya suami serahkan kewajiban mencari nafkah pada suami. Agar anak tidak merasa kesepian yang akhirnya ia mencari hiburan lewat gadget.


Tapi jika ibu terpaksa bekerja, selama ibu bisa menjamin saat pulang kerja tidak membawa emosi negatif pada anak maka silakan bekerja, asal ketika pulang kerja ibu sudah membuang emosi negatif dan menggantinya dengan emosi positif saat bertemu anak, agar anak tetap dekat meskipun ibu bekerja. Pembahasan tentang ibu bekerja membutuhkan waktu lebih panjang, insyaa Allah akan diusulkan menjadi tema pada pertemuan berikutnya.


Notulis: Aldiles Delta Asmara

Posted by
Aldiles Delta

More

Saat Kau dekat denganku

Saat Kau dekat denganku, hari terasa lapang, senin kamis terasa longgar, jumat ke jumat pun penuh riang.


Saat Kau dekat denganku, aku bagaikan ratu, yang tak sedih karena pilu, yang tak murka karena cemburu.


Kau dekat, dalam Muharrom hingga Dzulhijjah. Tak terhitung banyaknya bahagia, meski hilir mudik sedih hadir dengan setia. Namun Kau buat semua menjadi pahala, saat ku pilih syukur dan sabar dalam mengiringinya.


Kau dekat, dalam penantian maupun kesakinahan. Asal takwa menjadi pegangan, takdir apapun yang Kau berikan, selalu bersanding dengan keberkahan. Bagi jiwa-jiwa yang tak lelah meminta dekat padaMu di waktu siang dan malam.


Kau dekat, dalam tiap usahaku sebagai seorang hamba untuk selalu mendekat. Dalam sendiri maupun ramai yang memenuhi rintik-rintik asa. Mendekat padaMu adalah kekuatannya.


Aku berusaha mendekat, meski bergelimang harta adalah masih impian, berganti dengan tumpukan-tumpukan rincian. Namun Kau ingin aku mendekatiMu dengan sedekah-sedekah jariah, meski kembang kempis napasku mengusahakannya.


Aku berusaha mendekat, meski goda fana tampak silau memukau mata, menjadi terkenal dalam satu klik saja, yang mencari cara untuk dikenal banyak masa dunia, agar mengangguk-ngangguk semua jiwa saat ku sebutkan hanya nama. Namun Kau ingin aku memilih untuk dekati Kau dengan kelapangan jiwa, dalam kerendahan hati tanpa ingin dipuji dan puja. Sebab terkenal di langit lebih menyenangkan gelombang rasa, dekat padaMu seumpama telah memiliki semua.


Saat Kau dekat denganku, ku tandai dengan banyaknya sholeh-sholeha yang mendekat pada raga. Menasehati dengan jiwa, menegur dengan penuh rahasia, dan menyayangi dengan setulus-tulus harga, Fillah. Tak terhitung banyaknya dari orang tua, suami, keluarga, kerabat, dan yang lainnya.


Saat Kau dekat denganku, ku rasakan kehadiranMu memenuhi relung-relung jiwa yang hampa. Ketika belahan jiwa tak bersisian raga, namun ucapnya, bahwa Kau selalu ada. Membuat hati ringan seketika.


Saat Kau dekat denganku, selalu aku meyakini bahwa dimulai dengan usahaku mendekatiMu, dimulai dengan meyakini bahwa Kau selalu dekat dan mendengarkan doaku, dimulai dengan mengimani Kau dekat bahkan dari urat dan detak nafasku.


Saat Kau dekat denganku, adalah bertumpuk bahagia dalam nikmat hidup di duniaMu.


Kau dekat, tanpa sekat.
Saat ku mendekat, Kau makin merapat.
Sejengkal, sehasta, sedepa.
Kau dekat dan mendekatkan.


Maka buat aku lebih mendekat, di 1438 HijriahMu.


-Aldiles Delta Asmara-
*doa dalam tulisan*

Posted by
Aldiles Delta

More

Catat Kebaikan

Bismillaahirrohmanirrohim..

Mungkin kita perlu mencatat dengan rinci tiap-tiap kebaikan yang orang lain lakukan. Mencatat dengan jelas pada buku harian, bahkan jika perlu menempelnya di dinding rumah kita. Kebaikan yang dilakukan pada diri kita secara pribadi maupun kebaikan yang ia lakukan pada makhluk Allah lainnya yang pernah kita tangkap dalam memori. Mencatat tiap lekuk kebaikan, dari kata yang terucap santun, dari maaf yang mudah terulur, dari raga yang terjaga dari memukul, dari sedekah yang sekali dua kali atau lebih yang kita rangkum.

Agar jika suatu hari orang tersebut digelincirkan setan melakukan keburukan pada kita, lisan tak akan mudah membicarakan keburukannya, tangan kita tak ringan menulis segala lalainya, -apalagi di jaman keburukan dengan mudah tersebar luas dengan sekali tekan- dan yang terpenting hati kita yang luka akan mudah terobati dengan ucap "wahai saudara, aku maafkan, sebab kebaikanmu berjuta banyaknya dibanding lalaimu yang hanya satu".
Indahnya :)

Tapi, hidup bukan hanya diiringi oleh orang-orang dengan kebaikan yang banyak dan keburukan yang sedikit, ada bahkan yang berkebalikannya. Banyak keburukan, sedikit kebaikan. Lalu kita harus apa?

Tak banyak, hanya semoga kita tak sampai hati terlupa meminta penjagaan dari Allah agar kita tak menjadi salah satu darinya. Meminta penjagaan Allah agar kita tak membalas keburukan dengan keburukan. Meminta penjagaan Allah agar keburukan yang dilakukan pada kita adalah kebaikan bagi hari penghitungan di masa mendatang. Meminta penjagaan Allah, agar kita bisa menjadi salah satu jalan agar orang tersebut berubah menjadi penuh dengan kebaikan.

Bukankah Allah sebaik-baik pemberi balasan? :)

Jangan ragukan dan jangan lelah menjadi hamba Allah yang baik.

Sebab, tak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.

Q.S Ar-Rahman: 60

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Kala Aku Berbaik Sangka

Kala aku berbaik sangka

Aku pernah kecewa oleh janji yang ingkar, dan kata yang hampir dusta
Namun, kala aku berbaik sangka
Kecewa lenyap tanpa membekas, bermetamorfosa menjadi penjelasan yang terang benderang.

Aku pernah murung atas perlakuan yang bagiku tak setara
Padanya begini padaku begitu
Padanya manis, padaku kecut selalu
Namun, kala aku berbaik sangka
Allah ganti kesedihan dengan kebahagiaan yang berlipat ganda, tak terhitung lagi banyaknya.

Aku pernah marah pada hal yang membuat hatiku tak nyaman, rumah yang tak kunjung rapi, uang yang mudah habis, badan yang cepat lelah, keinginan yang tak terpenuhi, pada semua apapun pemantik kemarahan.
Namun, kala aku berbaik sangka
yang marah jadi ikhlas, yang keluh jadi syukur, yang belum terpenuhi jadi sabar.

Aku pernah menyalahi kebodohan yang ku lakulan, yang berujung ucap kata "harusnya tak begini jika tak ku lakukan itu"
Namun, kala aku berbaik sangka
Aku temukan bahwa ada hikmah dibalik kesalahan, ada ilmu dibalik kekeliruan, dan ada kebaikan dalam kesabaran.

Aku pernah mengeluh atas takdir yang terjadi
"oh Allah, mengapa padaku terjadi seperti ini?"
Meski tak selalu, meski hadirnya diujung-ujung waktu.
Namun, kala aku berbaik sangka
Aku mantap menjawab segala takdirku "Ya Allah, terima kasih sudah memilihku, mohon sertai aku tiap waktuku".

Aku pernah menangis tersedu-sedu, terisak-isak, dan berteriak tanpa suara.
Ketika ada luka yang dalam pada rindu yang datang mencekam.
Namun, kala aku berbaik sangka
Allah kirimkan obat rindu dalam hadiah yang tak disangka dan tak terduga. Ajaib, kataku suatu hari.

Aku pernah, dalam upaya pencarian makna hidupku, merintih menagih, menuntut agar segera, bertanya mengapa belum juga, dan segala daftar tuntutan lainnya.
Namun, kala aku berbaik sangka
Allah mengajariku makna sabar, dan menghadiahi sebab sabar dengan jawaban doa yang berlipat-lipat tebal kebaikannya, penuh barokahnya, berkali-kali ucap syukurnya.

Oh ya Allah, kala aku berbaik sangka, padaMu maupun pada hambaMu, betapa banyak kebahagiaan tertera di dalamnya.

Maka, jika berbaik sangka adalah kebaikan, jangan hilangkan hal ini pada seluruh kebiasaan hidup hambaMu.

Agar duka berganti suka.

Kala kita berbaik sangka.

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Sebuah Pertanyaan

"Adek kenapa mau nerima Emas yang gak ganteng, gak kaya, yang cuma orang biasa aja??".

- Sebab menerimamu artinya aku memiliki tiga emas, emas atas segala rasa yang aku tahan untuk tak berserakan di beranda lini masa, emas berupa lelaki yang tanpa tebar pesona di sini dan di sana, langsung mantap menjawab iya dan emas berupa amanah Allah yang dititipkan pada kita, yang akan kita jaga sampai akhir usia.

Dan atas keberanianmu sejak 30 Januari 2016 yang lalu justru membuat Emas terlihat ganteng, kaya, dan bukan lagi orang biasa bagi singgasana jiwa.

Justru aku bertanya, mengapa dulu Emas begitu mantap memilih seorang wanita yang tak bisa apa-apa?

8 bulan kebersamaan ini, kita sama-sama penuh dengan pertanyaan bukan? Hingga masing-masing dari kita menjawab sama "sebab Allah ridho, atas pernikahan kita".

Memilikimu adalah jawaban atas jerih payah dalam panjangnya masa, dan memperbarui sakinah bersamamu adalah upaya menuju impian kita berupa jannahNya.

Jalan kita masih amat panjang, semoga Allah bimbing kita.
-Aldiles Delta Asmara-

#catatanSyahiDiles #merendaKeluarga #SyahidDalamDeltaAsmaraNya

Posted by
Aldiles Delta

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger