hanya sebuah rasa

Pada nonton Assalamualaikum Beijing ya?
Sudah baca bukunya dan emang bagus, tp hmmm buat nonton ntar dulu deh, agak gimana gitu kalo nonton tp ga sama mahrom, seinget saya pernah 3 kali nonton dan 3 kali itu sama keluarga..
Film ini bagus, tp seperti kebanyakan ustadz yg bilang, bagus untuk mereka2 yg emang hobi banget nonton, yaaahhh drpd nonton ga jelas, mending nonton assalamualaikum beijing. 
Tp kalo nonton sbg salah satu agenda para aktivis, nonton bareng ikhwan akhwat, duh duh duh.. pikir ulang cobaaa..
Di ruangan yg gelap, sama temen2 yg saya yakin jaraknya ga terlalu jauh.
Emang perlu ya??disekian banyak agenda penting menanti, nonton bareng rame2 ikhwan akhwat, penting juga kah??

Huaaa maapkan aku nyinyir lagiihhh, agak panas aja mendapati hasil foto2 dan cerita ikhwan akhwat setelah pulang dr nonton tsb, ada rasa cemburu, kenapa itu bisa terjadi 
Memendam ini setelah seminggu ini denger cerita2 yg pd jadikan nonton sbg agenda tiap organisasi.

Okeh, ini saya share puisinya bunda asma ya, lumayan menggambarkan kegelisahan saya.

Maafkan, jika senyumku tersembunyi dibalik air mata..
Dan kata2 mesra menjadi tanpa daya karena terperangkap dalam prasangka..
Tapi Tuhan tahu, cinta yang ku punya lebih berwarna dari yang kau kira..
Maka izinkan AKU CEMBURU hanya pada detik disaat aku merasa Allah pun tengah cemburu padamu (asma nadia)

Posted by
Aldiles Delta

More

Stand by me, dila

Menonton "stand by me" betapa membawa saya dalam ingatan beberapa tahun yang lalu, ketika saya dan orang yang membersamai saya selama ini terpisah sangaaattt jauh. Jelas, saya berada pada sisi nobita. Ada ruang hampa yang hampir menguras seluruh daya untuk tetap menatap masa dalam bahagia. Adegan-adegan yang sama dalam mengenang dan terkenang. Menatap kamar kosong yang dulunya terisi riuh renyah cerita kita, meraba jalan-jalan yang pernah kita lalui tiap harinya, menikmati makan dengan suap demi suap sambil membawa memori saat bersama.

Saya sadar ini akibat saya terlalu menikmati dalam menjaganya dan dihaganya, hingga ketika ada yang menjaganya selain saya, benar-benar seperti kehilangan harta. Saat itu benar-benar tersiksa dan menyiksa. Lemah tanpa daya, hingga perpisahan itu sendiri yang akhirnya menguatkan. Menyadarkan saya bahwa hidup kita tak boleh bergantung pada yang selain Ia. Lagi dan lagi, berkali-kali ratap pun akhirnya tumpah dalam tatap manja dilima waktunya, kepada Ia, pemilik kita.

Dan kemudian, saat kamu tiba-tiba hadir di depan kamar dan mengejutkan malamku, keadaannya saat itu persis ketika Nobita melihat Doraemon muncul dari laci belajarnya, tanpa ia duga. Tatap haru, histeria bahagia, peluk hangat, lompatan-lompatan syukur, terlampiaskan sudah malam itu.

Dari sana saya belajar, bahwa mudah bagi Allah untuk mengubah langit gelap pada siang hari menjadi langit yang begitu terik dalam sekejap, apalah mempertemukan kita, mudah baginya mengakhiri sebuah perpisahan menjadi pertemuan. Seperti malam itu.

Maka kini, ketika perpisahan itu hadir kembali, kau dapati aku insyaa Allah sebagai orang yang sabar, meski mungkin jauh dari sabarnya Nabi Ismail ketika meminta ayahnya, Nabi Ibrahim, untuk menaati yang Allah perintahkan. Setidaknya, kini aku yakin bahwa dibalik perpisahan akan selalu ada pertemuan, lagi dan lagi, selalu dan selamanya, dalam raga dan dalam rasa.

Aku tak akan lelah berkata:

Stand by me, dila :)

Meski dalam rupa yang berbeda.

Posted by
Aldiles Delta

More

Kepada yang menjalani sebaikbaiknya peran

Kepadamu yang menjalani sebaik-baiknya peran, dalam keheningan kata yang tersabari untuk keluar dalam bentuk cacimaki. Diam adalah sebaikbaiknya kata, yang kau utarakan lewat mata yang jua tersandarkan padaNya, agar tatapmu menembus hatinya, menyadarkan nuraninya, dan mengetuk keinsyafannya. Jika telah kau dapati sabar dalam bentuk teori, mungkin kini sabar dalam bentuk hakiki, yang lagi-lagi merupakan jalan yang kau pilih dengan diammu. Getarkan hatinya dengan getaran kalimat cintaNya, dan jika gunungpun luluh, apalah dengan hati yang mudah meluruh.

Kepadamu yang menjalani sebaik-baiknya peran, dalam cinta yang kau titipkan mewujud rupa gelisah dalam upaya menjaga fitrah kesucian cinta. Tak ada yang bisa mengalahkan cinta selain cinta yang lebih besar, maka jangan pernah terpikir untuk mundur, kembalilah, dengan cinta yang kau bawa dan kau upayakan untuk mengalahkan cinta yang ternampak belum waktunya. Dan cinta pun menyabari, dalam segala rahasia ketidaktahuan, geliat ketaknyamanan, dan rupa wujud sangkaan. Hingga, cinta pun menuju jalur fitrahnya, atas izinNya.

Kepadamu yang menjalani sebaik-baiknya peran, dalam rasa halus akan sebuah persaudaaran yang kau sadari kehadirannya. Tak memilah dalam pilih, hanya ingin berperilaku sebaik-baiknya manusia, menyampaikan amanah kasih sayang pada yang memang semestinya. Tak memihak kanan dan kiri, tak tumpang tindih dalam menengahi, sealaminya persaudaraan lebih kau nikmati, tanpa tatap sinis, senyum meringis dan dengki yang tipis.

Merangkul berbagai warna untuk kau ukir menjadi seindah pelangi. Bentangkan sayap sayap kebaikanmu agar warna pun terpadupadankan menjadi keindahan yang meneduhkan, tanpa kau sendiri yang kehilangan warna.

Kepadamu yang menjalani sebaik-baiknya peran, dalam gelora perbaikan umat yang tersandarkan pada pundak kokohmu. Kokohkanlah pula adab dalam persaudaraan yang kau jalin untuk sama-sama berjuang memperbaiki umat. Menjaga fitrah, menahan amarah, menentramkan segala rasa. Agar dalam upaya memperbaiki, terbaiki pulalah dirimu terlebih dahulu, hingga semua pun menyelaras dalam perbaikan bersama, indah dalam keridhoan Allah.

Kepadamu yang menjalani sebaik-baiknya peran, dalam mata yang berkaca-kaca tanpa kata yang menjelaskannya. Allah, Rabb kita selalu hadir dalam waktumu, berceritalah padaNya yang mengetahui segala rahasia, meski tak kau jelaskan lewat kata. Ia dalam lima waktu yang tercipta, bahkan menambahkan pula diwaktu-waktu terbaikNya, menciptakan tentram untuk hati-hati yang mulai menyerah. Kembalilah, hanya pada Ia.

Kepadamu dan kepada kita yang berupaya menjalani sebaik-baiknya peran, ada resah yang tak mampu teraba selain jika kau sandarkan pada Allah, yang menghilangkan segala resah, menghilangkan segala lelah, tanpa keluar dari fitrah, kataNya dalam surat cinta untuk kita, hanya dengan mengingat Ia hati kita menjadi tentram. Maka, tak ada cara untuk menyandarkan segalanya selain dengan lirih-lirih doa, tatap mesra mengeja ayat-ayat cinta, berdiri kokoh dan tunduk bersujud dalam keimanan serta menjaga persaudaraan dengan saudara-saudara yang saling menjaga. Hingga suatu hari, kita pun akan dikumpulkan bersama yang paling kita cinta, lelaki yang belum kita jumpai sebelumnya, ia yang mencintai kita melebihi segala, adalah ia, Rosul kita.

Shalawat serta salam tercurah penuh mesra untuk Rosul tauladan kita, semoga Allah mampukan kita untuk meneladani peran-peran terbaik yang ada pada ia, nabi kita.

Posted by
Aldiles Delta

More

2014 dalam goresan takdirNya

Teristimewa dalam 2014 adalah ketika Allah menakdirkan kamu mendekat dalam raga, bukan sekedar rasa. Awal 2014 adalah puncak dari segala rindu, tatap sendu pada sepi, sajak sajak resah menanti kabar yang tak pasti, dan tentunya lirih doa dalam pengharapan pada Ilahi. Kemudian, Allah menganugerahi kehadiranmu, menjadi kado terspesial bagi hati yang merindu. Aku masih ingat malam itu, malam yang terganggunya tidur pada jam 12 malam adalah menjadi hal yang rumit tergambar dalam rasa bahagia, membuncah, melengkingkan riak haru, dan kemudian rasa kita berhamburan dalam pelukan, yang kemudian disusul dengan tatap linglung rafa yang seolah berkata "ummi ada dua" hahahaha...
Rafa yang belum pernah menatap umma yang begitu mencintainya benar-benar linglung, kadang ada moment umminya tertukar :D, kalau rafa sudah bisa menulis, mungkin ia akan menulis suatu naskah yang berjudul "ummi yang tertukar" hehehe
Rafa mengira ummi adalah umma dan umma adalah ummi. Saat ummi rafa batuk parah, umma menggantikan ummimu untuk menemani rafa bobo, eh ternyata rafa mengira itu masih ummi yaaa. Ummi atau umma, percayalah, cinta yg kami miliki adalah sama.

Kemudian, rafa beserta ummi pulang lagi ke samarinda menyusul abi rafa yang selesai tugasnya, waktu itu sih umma melepas tanpa tangis, karena janji ummimu, bahwa akan ke Jakarta lagi saat idul fitri, yeyeyeye.. segala puji untuk Allah yang mengabulkan pinta dalam perjumpaan.

Tak terasa waktu perjumpaan hadir kembali,tapi yang berbeda, rafa kini sudah tahu mana ummi mana umma, sedih atau bahagia? Bahagia donk, karena kamu bisa mengenal umma dengan sosok umma yang asli tanpa kira-kira. Dari waktu ke waktu, ummi mu makin genduuuttt, tahu kan penyebabnya apa?
Selain karena ummimu doyan makan, ummi juga sedang mengandung dede p, yang suka rafa elus-elus sebelum, saat dan sesudah bobo sambil berucap "dedeeee". Dua bulan kemudian, dede nan cantik dan soleha terlahir dan akan menemani harihari kita bang, ih sekarang rafa punya panggilan baru, yaitu "abang". Akur-akur dengan dede ya sayang, meski umma tahu di awal kehadiran dede betapa sulit untukmu beradaptasi dengan hadirnya dede. Mungkin abang takut, perhatian dan cinta ummi akan terbagi, nyatanya? Tidak terbukti kan sayang? Kamu tetap mempesona dalam doa dan harapan. Jejak-jeka kebersamaan kita sudah umma tulis dalam catatan sebelumnya yaaa.

Huaaaa hingga perpisahan itu hadir lagi, padahal umma masih ingin mendengar celoteh mu yang semakin hari semakin bertambah kata-katanya. Tapi umma percaya, ini adalah bagian dari rahasia indahNya. Umma percaya, perpisahan kali ini akam berakhir dengan pertemuan lagi, benar kan sayang? Berjanjilah :)

Tapi, hari ini, di akhir 2014 umma mendapat kabar bahwa bang rafa harus di rawat di RS, karena sakitmu yang membuat lemah semalaman, untung ummi dan abi mu bertindak cepat hingga abang segera diobati ya..

Dengan kabar ini, sesak rasanya mendapati umma tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu abang dan ummimu, tapi percayalah doa umma selalu hadir. Jakarta-samarinda selalu terlintasi dengan berbait-bait doa. Hingga membuat harapan terbesar dalam tahun 2015 adalah melihat kesembuhanmu yang menghadirkan ceria selalu. Sehat dalam berkahNya ya sayang umma.

Goresan takdir 2014 ini menjadi luar biasa karena ada kamu dil, dan tentu anak-anakmu. Berharap dalam gores takdir 2015 nanti, akan Allah goreskan takdir terbaik, untuk hidupku, hidupmu yang berarti hidup kita. Yang perlu kita ingat selalu bahwa..
Takdirku adalah membersamaimu, dan takdirmu adalah membersamaiku, dalam rasa, doa dan cinta.
Selamanya....

Posted by
Aldiles Delta

More

Getar suatu kata

Ada takdir yang mengantarkan kita di suatu pagi dalam peluk bahagia yang mungkin bukan kini, tapi percayalah sebentar lagi :)

Berkatalah ia dalam isak yang menyesak, bahwa rasa ini memang tak semestinya hinggap dalam hati para penerus Hawa. Kau tahu mengapa? Tersebab Allah memang menggariskan yang berbeda.

Untukmu dan untukku, adalah rasa yang pastinya tak melulu sama, meski kita berdampingan. Tapi tak apa, sebab jika kau percaya, Ia sudah mempersembahkan yang lebih mulia untukmu, lebih bahagia sesuai denganmu, dengan rasamu, dengan tatapmu, dan dengan pengharapanmu.

Dalam getar suatu kata, aku yakin kau mampu mengangkat tunduk tanpa dahaga, mengembang senyum tanpa terpaksa, dan menatap mesra tanpa kau duga, dengan doa.

Ya dengan doa, yang tersujud tersembahkan dalam waktu malam disepertiganya, mengiba dengan mesra, berlirih dengan manja, mengusap air mata, hingga Ia menyingkapkan bahagia yang tanpa terhijabi, teruntukmu suatu hari nanti.

Tegarlah, selayaknya hajar nan penuh baik sangka terhadap gores takdirNya, hanya berdua, berkeliling safa dan marwa dalam pencapaian ikhtiarnya.

Dan keajaiban suatu hari hadir dalam waktu yang tak kau sangka, selayaknya zamzam yang justru terpancar dari jemari lentik kaki bayi tak bernoda.

Percayalah...
Untuk bahagia yang telah tercipta...

Posted by
Aldiles Delta

More

Fitrah ketaatanku

Aku tak lagi tahu tentang rasa ini. Ketika aku utarakan pada sederet keyboard penyusun kata, tiba-tiba ia membeku, melemah dalam lunglai yang mengabaikan perintahku. Ingin ku ayunkan jemari perlahan-lahan agar rasa tak tumpah tercecer pada tempat yang tak semestinya. Ia, hanya pantas ku utarakan padaNya. Tentang suatu tanya yang memang tak semestinya.

Kini biarkan saja tanyaku, tanpa perlu mencari tahu pada sosok yang tak lagi malu-malu. Membiarkan prasangka terbalut oleh keacuhan. Ini caraku, dengan segenggam kata-kata yang tetap akan ku pertahankan hingga tak lagi melumuri sudut kelamku.

Aku, dalam penjagaan fitrahku.

Posted by
Aldiles Delta

More

Bolehkah aku menjadi sepertimu, mama??

Aku ingin menjadi sepertimu, dalam hari-hari usiaku, mencintai dalam sajak yang tak terdefinisikan oleh berjuta aksara, katamu tentang cinta. Cinta adalah tindakan, tindakan berbuat untuk bahagia kami, anak-anakmu.

Aku ingin menjadi sepertimu, yang sakit adalah rahasia, agar tak terasa pada buah cintanya. Tak mau menyusahkan, selalu itu yang kau gambarkan. Meski hidupmu terlalu susah karena kami.

Aku ingin menjadi sepertimu, yang mencintai dengan setia, seseorang yang membawamu dalam keabadian cinta, seseorang yang kau bangun cita masa depan bersamanya, seseorang yang dengannya kau membesarkan kami anakmu tercinta, seseorang yang sejak puluhan tahun lalu kami sapa dengan kata cinta, ayah, meski kini ia tiada.

Aku ingin menjadi sepertimu, dalam masa penantian 9 tahunmu, menanti dengan sabar yang setia serta harap yang hanya pada Ia dalam menanti buah cinta dari pernikahan yang barokah antara engkau dan dia. Hingga sabarmu berbuah bahagia, dalam tangis anak pertama dan empat tahun berikutnya anak kedua, hingga dua tahun berikutnya Allah beri engkau hadiah berupa 2 janin dalam rahimmu yang serupa,buah sabarmu mama.

Aku ingin menjadi sepertimu, yang syukur dan sabar bukan lagi tentang teori, tetapi menjadi teman setiamu dalam membesarkan kami. Hingga besarnya kami adalah buah yang dapat kau petik hingga kini dan semoga hingga nanti.

Aku ingin menjadi sepertimu, yang tiada keluh pada seorang hamba, satu pun tak ada, hanya kepada Ia kau curahkan rasa, disepertiga malam penuh cinta.

Aku ingin menjadi sepertimu, dalam bijaknya nasehat menjalani kejamnya dunia. Katamu "cukup Allah yang tahu, tidak dengan yang lainnya". Hingga ternampak tegar namun bermanja pada Rabb semesta.

Aku ingin menjadi sepertimu, menjadi tempat untuk sebagian manusia mencurahkan segala kecewa, memberikan cinta hingga mewujud suatu baik sangka, pada mereka yang tergores hatinya.

Aku ingin menjadi sepertimu, yang tiada menuntut balas meski kau berhak, atas segala peluh, atas segala keluh, atas segala rupiah yang kau keluarkan untuk empat anak. Katamu, cinta bukan tentang balas jasa, cinta adalah senyum yang menyeka air mata.

Aku ingin menjadi sepertimu, yang tak pernah menutup pintu maaf untuk segala duka yang tercipta karena kami yang tak memahami jiwa. Tercipta dari apakah hatimu ma?

Aku ingin menjadi sepertimu, dalam kerja-kerja rahasia untuk sebuah cita-cita mulia, hanya tercurah pada Ia yang mampu mengabulkan segala pinta.

Aku ingin menjadi sepertimu, yang begitu mesra dengan Pemilik Hidupmu, dalam tiap lima waktu, dhuha, bahkan malam panjangmu, malam yang kau upayakan untuk berjaga disepertiganya hingga subuh menjelang dalam lantunan syahdu ayat-ayat Al-qur'an..

Mama, percayalah, betapa aku ingin menjadi sepertimu, dalam cinta, dalam kerja, dalam upaya, dalam usaha. Meski kau tak menyetujuinya.

Aku ingin menjadi sepertimu, namun menurutmu, aku tak boleh menjadi sepertimu, katamu "menjadilah lebih baik dari mama, dengan meneladani ia, tauladan agama kita".

Dan kini, aku hanya ingin menjadi yang terbaik bagiNya dan bagimu, semoga surga untukmu mama dan ayahku...

Posted by
Aldiles Delta

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger