Bermanfaatkah?

#catatanharianseorangGuru

Sedikit sentilan, sedikit nasehat dari seorang murid ketika akan memulai pembelajaran hari ini.

"Belajar apa kak hari ini?" Tanyanya.

"BIP, materi keIslaman". Jawab saya, pada siswa yang belum lama bergabung dengan kami.

"Oh, bermanfaat gak?" Tanyanya kembali.

Saat pertanyaan terakhir, muka saya langsung pucat pasi, seolah berhadapan dengan tanya yang butuh jawaban dengan segudang teori.

Astaghfirullah, bermanfaatkah yang selama ini saya berikan pada mereka? Bermanfaatkah pada tiap-tiap amanah yang dititipkan pada diri ini?
Entah, saya merasa dia benar-benar memberikan pertanyaan yang menghujam, menusuk ke relung, tepat ke ulu nurani.

Bermanfaatkah hidupmu? Duhai diri...

Robb, mohon ampuni..

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Masih Ragu?

(An-Najm):55 - Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragu-ragu?

Maka terhadap ketetapan Allah yang mana yang kau selipi keraguan?
Kegagalan
Kekecewaan
Penantian
Kebahagiaan
Keberlimpahan
Perjumpaan

Maka terhadap nikmat, adakah kening bersimpuh dalam syukur tak berkeluh?

Adakah teguh dalam keyakinan yang utuh bahwa Allah selalu menyiapkan indah yang tak hingga? Sebagai peneduh, sebagai penyambung, sebagai penyimpul tali-tali kokoh.

Mohon ampuni lalainya syukur kami yang tak terhitung.

Aldiles Delta Asmara
Jumat, 15 hari.

Posted by
Aldiles Delta

More

4 Tahun Perbedaan

Bismillahirrohmanirrohim..

Malam ini mari kita bertemankan dengan seteguk mesin waktu yang memutar kenangan pada 4 tahun silam. Sambil memandangi Rafa yang telah lebih dulu terlelap di samping umma.

Malam menuju 13 Januari 2012.

Malam itu, bukan hanya kau yang tidak bisa tidur, aku pun iya. Menanti bergantinya waktu yang juga berperan sebagai pergantian status. Dari anak menjadi istri. Itu bagimu, bagiku malam ini adalah pergantian status, dari bersama menjadi sendiri, dari menjaga menjadi melepas, dari memiliki penuh menjadi hanya kenangan yang utuh. Tak bahagiakah aku dengan pernikahanmu? Hei, aku tak sejahat itu, kalau kau bisa melihat hatiku, aku adalah orang yang paling pertama berbahagia atasmu, sebab artinya tugasku menjagamu telah usai, sebab tak ada yang paling membahagiakan selain melihatmu bahagia. Tapi dibalik itu, aku pula orang yang paling pertama kehilangan dengan pernikahanmu :(

Kau tahu apa yang paling membuatku bersedih hari itu? Bukan, bukan karena perbandingan antara Aldila dengan Aldiles akan segera dimulai, toh sejak dulu orang-orang memang selalu membandingkan antara aku dan kamu kan? Aldiles yang cerewet Aldila yang kalem, Aldiles yang ketus Aldila yang santun, Aldiles yang tak pernah senyum Aldila yang selalu senyum, Aldiles yang pemalas Aldila yang rajin, Aldiles yang biasa aja Aldila yang cantik, -bahkan kini bertambah Aldiles yang gendut Aldila yang kurus- dan perbandingan-perbandingan lainnya. Nyatanya bukan itu, sebab perbandingan antara takdir kita sudah biasa bagiku, dan akupun bukan orang yang menuntut takdir harus selalu beriringan sejalan antara si kembar. Lalu karena apa?

Maafkan, kau tahu? Bagaimana sulitnya bertarung melawan dua rasa yang berlawanan? Antara bahagia dengan sedih yang mendalam, mana yang harus ku ekspresikan pada hari itu? Duhai saudariku yang telah bersama sejak rahim, maafkan jika saat itu aku memenangkan kesedihan untuk menemani hari bahagiamu. Dua malam-bahkan lebih- aku tak tidur menerima kenyataan bahwa 'kau pergi, sungguh kau akan pergi'. Kenyataan bahwa kau akan meninggalkanku yang membuat sedih bertumpuk-tumpuk. Hingga ia menjelma menjadi ucap ketus, tatap tak acuh, dan senyum palsu. Kau membaca, aku tahu kau membaca. Sebab memang sejak dari dulu hanya kau yang pandai membaca 'pesan' ku.

Maafkan, sungguh maafkan. Aku merenggut kebahagiaanmu dengan tak senyumnya mama pada hari itu tersebab sedih memikirkanku. Maafkan, sungguh maafkan, dihari pertama pernikahanmu kau dihadapkan dengan sebuah tanya "sebenarnya keluargamu setuju kamu nikah denganku gak sih?"

Terima kasih atas kesabaranmu melewati masa berat itu, terima kasih atas pengertianmu mendampingi aku yang malah sebagai ujian awal bagi pernikahanmu. Terima kasih atas pemahaman bahwa ini adalah cinta, saat yang lain menatap dengan tatapan yang tak pernah mereka mengerti, iya, hanya kita yang mengerti perasaan ini, dan kau melewatinya dengan nilai yang begitu sempurna. Hingga aku kembali memelukmu, hingga Allah kembali lembutkan aku tuk menerimamu. Jalan yang panjang bukan? Dan itu mungkin tak akan berhasil jika bukan karena perjuanganmu bersabar terhadapku. Ssssttt, betapa suamimu beruntung memilikimu yang telah teruji kesabarannya.

Segala puji atas tarbiyah Allah yang mengiringi kisah kita, meneguhkan keyakinanku bahwa "meski engkau pergi, namun Allah takkan pernah pergi". Dan keteguhan serta keyakinan itu membuatku kembali memilikimu. Seiring waktu berjalan, kau buktikan padaku bahwa kau tak pernah meninggalkanku, meski tak bertemu raga. Nyatanya kau temani aku dengan jiwa, dengan rasa, dan dengan berlinpahnya doa untuk kebaikan-kebaikanku. Bahkan kadang tanpa kata, kau hadir lewat perwujudan raga menjelma dihadapanku, di Jakarta, seperti saat ini. Itukan bukti cintamu?

Kau bertanya "4 tahun itu waktu yang sebentar atau lama buat kamu, Diles?"
Cukup lama, bagiku cukup lama untuk mencuri ilmu dari pernikahanmu yang 4 tahun itu. Terima kasih ya, atas ilmu yang tidak sengaja aku curi dari 4 tahun pernikahanmu. Banyak sekali, hingga mungkin kau tak tahu bahwa begitu banyak yang telah aku curi secara diam-diam darimu. Ketangguhanmu melewati dua kali kelahiran tanpa pendampingan suami, kesabaranmu mengasuh, terampilnya membereskan rumah, kreatifnya membuat makanan untuk suami dan anak, pandai menjaga amanah keuangan suami, lihai mengatur cemburu, marah, dan lainnya. Semua ku curi. Hingga aku berpikir bahwa inilah hikmah baik sangka pada tiap takdir Allah yang sejak awal pernikahanmu susah payah untuk ku bangun. Alhamdulillah.

Dan kini, aku terpesona dengan takdirNya. Allah kirimkan kau untukku, untuk membersamaiku, menyertaiku, menguatkanku, menopang rapuhku, di hari 4 tahun pernikahanmu, dengan ditemani dua malaikat penghilang sedih yang bertumpuk. Tak ada ucap yang layak berderet-berderet untuk ku katakan padamu, selain Barokallahu laka wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoiir. Semoga Allah memberi barokah padamu dan semoga Allah memberi barokah atasmu, dan semoga Ia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.

Kini mari kita tertawa mengenang 4 tahun lalu dengan ucapanmu "tenang Diles, aku gak bakal cemberutin kamu disaat hari pernikahanmu kok" :)



-Aldiles Delta Asmara-
Dalam detik-detik

Posted by
Aldiles Delta

More

N.I.K....... M.A.T

Ada nikmat disela waktu yang semestinya berakhir untuk aktifitas, tapi terpaksa beraktifitas lagi karena dua batita di rumah belum lelah meski malam sudah hampir habis untuk menjelajah.

Ada nikmat dijeda berdiri, berlari, menggendong dan beralih menjadi berbaring, namun didapati ada penjajahan 'hak milik' tempat tidur oleh dua batita.

Ada nikmat ditiap putaran pagi menuju siang, siang menuju petang, dan petang berubah malam saat memandangi gemericik tangis, gemuruh tawa, gelombang rengek, guyuran manja dari dua batita.

Ada nikmat dihembusan gamang kala waktu menunjukkan harus bekerja namun terdramakan kata "umma ga boleh kerja" dan tangisan tak ingin lepas dari dua batita.

Ada nikmat disisipi oleh Allah lewat tak ingin lepasnya raga kecil dari pelukan lunglai sang umma.

Ada nikmat dikala sajak rindu tersingkirkan dengan ungkap bahagia "abang mau makan apa? Umma masakin yah?"

Ada nikmat, ya Allah ini nikmat, ini nikmat. Dan bolehkah jika nikmat ini terus ada?

22:54 saat Rafa dan Raisya mengakhiri petualangannya.

-Aldiles Delta Asmara-
Dari seorang umma yang menikmati tiap lapis nikmat

Posted by
Aldiles Delta

More

Jilbabmu

Ruang tunggu puskesmas.

Tivi di sini menayangkan acara gosip nasional, ada yang menarik untuk ditonton, bukan, bukan tentang perceraian para artis atau skandal hina lainnya. Melainkan tentang kembalinya juara ajang dangdut ke sekolah untuk pertama kali semenjak ikut ajang tersebut. Apa yang menarik?
Pakaiannya saat bersekolah. Cantik, rapi, tertutup, santun, sholiha sekali, sangat kontras dengan dangdut :(
Ah ya Allah, semoga kebaikannya dan kesholihannya saat bersekolah mampu menarik dirinya untuk juga mensholihkan diri ketika di luar sekolah.

Dan yang menarik berikutnya adalah, penyambutan yang dilakukan oleh pihak sekolah. Dihormati, dipuja, dibanggakan, seolah mereka mengangkat derajat sekolah dan juga para guru.
Wahai 'orang tua' bagi akhlak dan kepribadian para siswa di sekolah, yang bukan hanya mengenalkan deret angka dan aksara, tapi terlebih soal rasa malu pada Robb kita, tidakkah justru merasa gagal karena mengantarkan siswi untuk membuka auratnya dan terlihat seluruh penonton *apalagi ini ajang dangdut seasia*

Sungguh, mata saya basah. Entah mengapa saya sebagai pendidik -meski bukan yang mendidiknya- yang justru merasa sedih, malu, ingin menangis melihat ia dengan jilbab rapi, panjang , dan tertutup berdiri di podium saat upacara dan di lain tempat ia membuka auratnya.

Bukankah semestinya kita mengenalkan malu pada siswa kita? :(
Ah ya Robb, ampuni jiwa yang berprasangka ini :(

Adik manis, semoga setelah ini hidayah Allah membawamu 'pulang' berhijrah dalam kebaikan, yang kau mulakan dengan patuhnya diri terhadap perintah Allah menutup aurat.

Semoga setelahnya, kau mau berlelah-lelah untuk akhirat, bukan lagi untuk dunia yang sekejap ini.

Semoga setelahnya, panggilan jiwa kebaikan yang kau tanam di sekolah mampu menyuburkan berjuta-juta kebaikan yang mewujud taat dalam kehidupan luar sekolah yang lebih panjang.

Semoga...

Dan semoga tulisan ini bukan bagian dari ghibah.

Ya Robb, mohon bimbing kami menyelamatkan generasi.

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Ujian

Saat aktifitas rutin pagi hari, hari ini, -lari mengitari masa lalu dan masa depan- tak sengaja lewat depan 2 anak laki-laki yang sedang main ayunan. Yang unik adalah yang mereka bicarakan, saya mendengar selintas sambil merenungi ucapannya.

"Kita diuji Allah dulu, kan selalu begitu. Sebelum Allah kasih musim hujan, Allah kasih kita ujian lewat kemarau, rumput pada kering, air susah,..."

Gak denger kelanjutan pembicaraannya, karena mencurigakan banget kalo tiba-tiba ngikut naik ayunan dan nimbrung obrolan, hehe.

Intinya, ah iya, kita memang akan mendapatkan ujian agar kemudian Allah kasih kebahagiaan. Selalu begitu kan?
Dicontohkan para nabi dan sahabat.
Maka, maukah kau mengambil hikmah??

Berlalu meninggalkan mereka sambil melantunkan doa "ya Allah jadikan mereka sholih hingga kematiannya".

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Awal Kebaikan -2016-

1 Januari 2016

Meninggalkan 2015 dengan keharuan, kebahagian, tawa, duka, aaah semoga bukan dengan menumpuknya dosa. Jika iya? Mohon ampuni Robb.

2015 dengan serbaserbi, penuh mimpi, berkecamuk tanpa ilusi, prestasi? Duhai, apa yang telah kau persembahkan untuk ad-Din?
Mari evaluasi!

***
Dulu diawal tahun 2015, punya target untuk selalu menulis, minimal 10 tulisan tiap bulannya mampir di blog senyumdonkdiles.blogspot.com

Mengapa menargetkan menulis? Karena menulis adalah terapi bagi jiwa yang berkelana mencari makna. Menulis adalah sapa halus untuk perintah membaca, sebab sebelum menulis harus diawali dengan membaca. Menulis adalah pengasah nurani dalam lingkup memahami jiwa, dengannya ia bisa merevisi makian menjadi untaian, kerinduan menjadi harapan, dan kesedihan menjadi lompatan kebangkitan. Menulis adalah dorongan tak langsung untuk berbisik pada Allah, dengan setelahnya menuangkan pada aksara. Maka blog hadir sebagai 'rumah' bagi segala mimpi dan upaya. Menulis adalah perebut takhta kebathilan dunia, dengannya ia bisa meluruskan, menunjukkan, mengenalkan, dan menjaga diri dari bathilnya jiwa.

Menulis?
Ah, entah dengan apa harus ku ukir bahagia jika bukan melewati aksara.

Suatu hari:
"Ih nulis kok curhat mulu, nulis tuh yang manfaat kek". Kata seorang teman saat melihat hobi ini.

Tak apa kawan, jika kau tak suka, aku tak pernah memintamu membaca seluruhnya hingga kau bisa menilai bahwa semua tulisan adalah curahan.

Lainnya:
"Hah, ini beneran tulisan kamu? Kok beda sama aslinya? Aslinya cerewet, bawel, gak bisa diem, kok tulisannya 'kalem' dan 'lembut'". Kata teman yang lain.

Itulah sebabnya kawan, aku tak pernah ingin ada yang tertipu dengan tulisanku, sebab bisa jadi jiwa yang nyata ini masih butuh nasehat, jiwa yang nyata ini tak sebaik tulisannya(begitukan maksudmu?). Jiwa yang nyata ini masih bertumpuk-tumpuk dosa, dan semoga kebaikan-kebaikan yang ada dalam tulisan mampu menghapusnya.
Tak apa ya? Setidaknya masih ada sisi kebaikan dari diri ini.

Semoga Allah masih mampukan tahun 2016 ini untuk tetap menulis, lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga kepekaan jiwa semakin terasah, sebab tulisan rajin mengasahnya. Semoga keshalihan makin menebal, bukan menipis, sebab tulisan yang jadi penasehatnya, iya, menulis adalah menasehati diri sendiri.

Apa yang paling diharapkan dari sebuah tulisan?
BerkahNya dan ridhoNya, meski mungkin salah dalam pencatutan sumber, meski mungkin hilang nama dalam tersebarnya, tak apa, semoga tak hilang berkahNya.

***

Nah sekarang tentang impian dan doa yang lain. Suatu hari di 2015 pernah ada yang bertanya "Diles, kapan target menikah?"
"Tahun ini, insyaa Allah". Jawab dengan keoptimisan.

Iya, selalu optimis tiap tahunnya, bahwa akan menggenapkan agama ditahun ini, tahun berapapun saat orang bertanya.

Makaaaa, meski 2015 kemarin nyatanya belum tergenapkan, tak apa, optimislah untuk 2016. Semoga 2016 adalah tahun pertemuan :)


Begitupun untuk teman-teman yang lain yaaaa, optimislah untuk sebuah kebaikan, apalagi yang tercatat sebagai janji Allah.

*Ini kenapa jadi ngomongin nikah? :D

***
Impian berikutnya, membawa mama melangkah menuju baitullah. 2015 belum terwujud, semoga Allah mudahkan ditahun 2016. Melangkah bersama, meski tak setangguh Uwais yang menggendong ibundanya menuju rumah Allah. Aamiin ya Rob..

***

Intinya?
Iya, semoga membaik, baik tulisan, lisan, keshalihan, ketaatan, impian, perbuatan, serta keikhlasan, harus lebih baik dari tahun sebelumnya.

Semoga Allah mudahkan lirih-lirih doa selama ini.
Aamiin, insyaa Allah.

Eh iya, setelah Januari akan selalu ada Februari kan? (jika Allah ridho)

-Aldiles Delta Asmara-


Posted by
Aldiles Delta

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger