Menciptakan indah yang tanpa hingga

Aku bukan hanya menanti kedatanganmu, namun bahkan aku menanti keberanianmu, berani untuk menyampaikan pada dunia, bahkan langit beserta penghuninya, bahwa akan ada yang bertanggung jawab bagi jalan surga untuk masa depanku.

Sampai kapan?
Kemudian tiba-tiba, hentakan tanya itu menghentikan lamunanku. Ia menanti sebuah jawab berujung kepastian. Iya, sampai kapan?

Kau perlu tahu, wahai yang diliputi tanya, bahwa tiap masa, sudah ada jalan takdirnya, jika kau percaya. Maka, merontokkan tanya dengan berderai-derai doa, adalah sebaik-baiknya cara dalam menanti jawab. Untukmu, yang diserang rasa ingin tahu.

Kita bisa saja berlindung pada indahnya semesta hingga lupa bahwa di ujung sana ada sisi dari semesta yang Allah uji dengan derita. Namun katamu, kita bukan yang seperti itu. Kita tak boleh berlindung pada keindahan, sebab indah adalah rumah yang hanya sementara bagi dunia, sedang derita, bukankah dunia adalah penjara pencipta derita bagi kita?

Kita perlu menitipkan jejak-jejak hidup kita pada derita, agar selanjutnya kita mampu, memperjuangkan keindahan yang indahnya sungguh tiada hingga. Menitipkan rasa pada mereka-mereka yang berduka adalah salah satu cara menguji rasa kasih pada hati kita. Bukan lagi dengan serentetan tanya tentang kapan, di mana, dan dengan siapa bahagia mereka akan bermuara. Bukankah merekapun belum tahu jawabannya? Semoga bahagia kita bukan suatu awal bagi deritanya mereka.

Kamu paham kan maksudnya?

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Ujianmu bukan pujianmu

Hai kamuuu, sudah berapa tahun yaaa kita berkenalan, menjalin suatu hubungan yang amat serius antara adik dengan kakak. Jumpa pertama dulu, kamu masih seorang remaja galau bimbang yang selalu diliputi resah tak berkesudahan. Tapi aku bangga, kamu tau kenapa? Karena yang membuatmu bimbang adalah suatu resah yang bersebab oleh dirimu telah memeluk hidayah. Memang, awal mula terpeluknya hidayah akan ada banyak keresahan yang kau temui. Sejak itu, azzamku untuk tetap tumbuh dalam perjalanan hidayahmu. Insyaa Allah. Biidznillah.

Dan kisahmu kemudian berlanjut hingga kini, seorang remaja yang bermetamorfosa menjadi muslimah dewasa yang hatinya dipenuhi cinta pada sesama. Yang hatinya disibuki peduli kepada mereka. Yang resahnya kini diiringi dengan doa. Adalah kamu..

Sayang, semakin tinggi tegakmu, semakin jauh jalan tempuhmu, semakin pula kamu akan merasa bahwa Allah makin mencintaimu, baik dengan uji, maupun dengan puji yang Ia selipkan pada saudari dan saudaramu. Tak mengapa, semoga semakin membuatmu mengenali ragam warna yang Allah ciptakan kepada sesamamu hingga pada akhirnya jiwamu membentuk karakter hamba Allah yang penyayang, yang memahami, yang mudah memaafkan.
Semoga ya :D

Berkah Allah atas usiamu, tak ada karunia yang lebih besar melainkan karunia atas hidayah yang telah engkau genggam. Tetap genggam ia, dan kami akan di sini mendampingimu menggenggam hidayah itu. Insyaa Allah..

Aku mencintaimu, dan tak habis-habis cintaku kepadamu..

-Aldiles Delta Asmara-

Dihari milad Ayu Sulistia

Posted by
Aldiles Delta

More

Cinta dalam Taat

Membiarkan hidup berjalan sesuai rencanaNya, adakah bentuk kepasrahan? Bentuk keteguhan? Ataukah bentuk kemalasan?

Dan diakhir Mei ini, deret tanya itu menghiasi malam-malam kelelahan, lelah dalam pengharapan? *ups*

Semoga bukan kelelahan dalam berharap padaMu, duhai Ilahi..

Aku akan tetap berharap padaMu, meminta kepadaMu, mengais manja dalam sujudku untukMu, meski mungkin akan tampak tak berikhtiar. Tapi ya Allah, inilah ikhtiarku, dalam berharap padaMu.

Ada kebaikan kebaikan yg tampak, ada keburukan keburukan yang tampak, jika begitu, mana yg kita pilih sebagai jawaban dr Allah?
Dan keyakinan menjawab bahwa biarkan hidup berjalan dengan takdirNya.

Jika memang bukan ia yang tercatat, maka izinkan hati tetap merapat, dalam cinta dan dalam taat. PadaMu.

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

MATI

Aku menyukai warna kuning, entah sejak kapan aku menyukainya, yang aku ingat, kebiasaanku mengumpulkan barang-barang berwarna kuning sudah ku lakukan sejak SMP. Apapun itu, hingga kini. Hampir semua barang adalah warna kuning, dinding kamar, tas, Alat komunikasi, botol minum, tempat makan, jam, pulpen, buku, dan lain-lain, bahkan 3 dari 4 kamar di rumah juga berwarna kuning ^^v

Jika ditanya mengapa suka warna kuning, ah entahlah. Kadang rasa suka itu tidak memiliki alasan. Begitulah, kuning sudah menjadi prioritas pilihan dalam barang-barang yang aku miliki. Apapun, yang berwarna kuning, akan selalu menggoda untuk dimiliki. Tapi tidak untuk bendera.

Ya, di antara barang-barang yang berwarna kuning, bendera kuning adalah yang paling tidak ku sukai. Ia memang menjadi sebuah nasehat akan kematian, tapi ia nya juga menjadi pengingat sebuah perpisahan, bagi diriku. 9 tahun silam, Juli 2006.

Bendera dengan warna kuning tertuju pada rumahku, dengan tertulis di dalamnya nama seseorang yang paling ku cinta, yang menjadikanku wanita, yang sepenuh hati dalam menjaga. Aku yang dalam usia 16 tahun saat itu sudah sangat mengerti artinya berpisah. Memahami bahwa, ini kehendak Allah, ada cinta untuknya hingga Ia mengambilnya. Aku menahan air mataku sedemikian rupa agar tak banjir di suasana duka, aku tak mau -bukan karena malu- melihat ia perlahan mengenakan pakaian akhirnya seketika itu pula melihat rona kehilangan yang teramat pada wajah keibuan mama.

Tak ingin membuatnya lebih lemah, karena perpisahan  ini sudah menjadikannya lemah, meski hanya sesaat..
Dan kemudian rumah dipenuhi oleh warga yang beriringan berdatangan untuk sejenak menatap tubuh kaku berbungkus kain putih ini, kemudian menepuk pundak salah satu di antara kami dan membisikan sesuatu. "Sabar ya" hanya itu.

Sejak saat itu, aku mengenal arti sabar, bukan karena banyaknya kata sabar yang ku terima hari itu, tetapi aku mengenal sabar karena dikenalkan oleh mama yang berjuang membesarkan 4 anak. Hingga sabar kemudian tak terdefinisi, ia telah menyelinap bergabung dan tumbuh dalam keseharian mama. Tiada keluh meski mungkin berkeluh. Katanya "biar hanya Allah yang tahu". Tiada marah meski terseret berdarah-darah. Katanya "Allah pasti akan membalas segala kebaikan".
Tiada berduka meski sesekali terkenang tentang suka. Katanya "dulu ayah selalu begini dan begitu".

Cerita yang tiada pernah habis, wujud bukti cinta seorang wanita terhadap lelakinya. Yang selalu bangga dalam kalimat aksaranya, seolah memiliki ayah kami adalah karunia terindah bagi mama.

Begitulah, saya terlalu percaya bahwa tiap zaman akan selalu melahirkan kisah cinta yang indah melebihi kisah picisan yang disanjung dan puja bak Romeo dan Juliet. Ini kisah cinta yang sesuai syariat Allah,  cinta yang semoga diiringi ridhoNya, cinta yang tumbuh dengan diawali mitsaqon golidzo sepasang manusia.

Jika Khadijah, Allah pasangkan bagi Muhammad Rosulullah, Siti Raham bagi buya Hamka, Ainun bagi Habibie, dan kini mama adalah pasangan yang paripurna bagi ayah, pun sebaliknya.

Dan kematian yang ditandai dengan bendera berwarna kuning selalu memberikan hikmah -meski diawali dengan kesedihan-, bahwa kematian bukan perpisahan, bahwa kematian bukan sebuah tanda lahirnya kesengsaraan, sama sekali bukan. Karena dari kematian kita belajar, bahwa yang menjamin kehidupan bukanlah darinya, ia yang Allah panggil terlebih dulu, tapi kehidupan kita sepenuhnya adalah jaminan Allah. Hanya pada Allah.

Hingga kini, kesedihan yang bermetamorfosa menjadi sebuah keyakinan itu selalu muncul ketika melihat bendera kuning yang terhempas pelan tertiup angin di sepanjang jalan yang terlewati. Keyakinan bahwa Allah tak akan pernah menelantarkan kita, kita yang masih Allah beri nafas sampai kini. Kita yang masih bisa merasakan indahnya warna warni. Dan yakin itu, semoga akan terus tertanam, meski sulit, meski sedihnya berhari-hari.

Untuk kamu, yang baru saja ditinggalkan.

Percayalah, Allah tak pernah meninggalkanmu dengan meninggalnya ia.
Percayalah, bahwa Allah memberimu satu lagi kesempatan untuk merasakan warna-warni takdirNya.


Percayalah, Allah sudah mengaturnya. Baik kita suka maupun tak suka, dengan segala warnaNya.

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Suka ga Ngerti

Tulisan ini judulnya "Suka ga ngerti"

Suka ga ngerti sama remaja-remaja yang ngambek cuma gara2 postingannya di instagram ga di'like'

Suka ga ngerti sama orang-orang yang harus banget ya kalo difollow maka wajib memfollow?? Jargonnya "follback kakaaa"

Suka ga ngerti sama orang dewasa yang gaya fotonya masih kaya remaja yang bibir dimacem-macemin, mata disipitbelo'in, rambut yang digembel-gembelin. Biar dibilang apah?

Suka ga ngerti sama pasangan yang suka ngeskrinsut percakapan mesra dengan pasangannya yang meski halal, bukan iri sik, tapi bukannya itu rahasia yak? Hehe *siap-siap ditimpuk sama yg pada udah nikah*

Suka ga ngerti sama orang-orang yang ga sabar banget menanti lampu merah yang padahal cummmmma beberapa detik

Suka ga ngerti sama orang yang dalam beberapa menit gonta-ganti DP yang entah apa maksudnya

Suka ga ngerti sama cewe-cewe yang suka pamer auratnya, apa sih yang didapat dari pamer itu?

Suka ga ngerti sama cewe-cewe yang menikmati banget diPHPin, padahal tegas lebih enak loh, sumpeeeh

Suka ga ngerti sama yang dalam masa penantian tapi hidup dalam kode-kodean yang menyatakan diri belum dimiliki. Situ promosi?

Suka ga ngerti sama orang-orang yang kudu harus wajib banget dipanggil dengan panggilan kehormatan. Apa malah tak berakibat rusaknya hati karena kesombongan?

Suka ga ngerti sama orang-orang yang sukaaaaa banget membenci, padahal benci bikin hidup ga nyaman, gelisah, tak tenang dan kerugian lainnya. Terus mengapa masih membenci? *plak, nampar pipi sendiri*

Suka ga ngerti sama diri sendiri yang suka ga ngerti dengan apa yang dilakukan oleh orang lain, padahal jargonnya "pahami mereka" hehe.. intinya sih itu.

Ada hal-hal yang tidak kita tahu dari orang lain, dan juga ada suatu hal yang tidak perlu untuk kita mengerti, karena hidupmu tidak beredar luas seluas lingkaran bumi yang diisi oleh makhluk Allah yang penuh warna-warni. Apa yang bisa dinasehati maka nasehati, apa yang tidak perlu dipikirkan, maka tidak usah dipikirkan. Bukan meminta untuk tidak peduli, hanya saja hiduplah dalam keharmonisan dalam bersosial, karena itu yang Rosulullah wariskan, bukan malah hidup dalam ketidakmengertian yang malah berakibat meninggalkan.

Jangan ya, jika mereka kau tinggalkan, maka sesungguhnya kau yang merugi, wahai diri.

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

masihkah terbuka selalu?

Bolehkah ku lihat rupa wajahmu dalam kilaunya rinai hujan subuh tadi?

Ia serupa genangan dalam rupa penuh kenangan, membanjiri sawah hijau, membasahi tanah merah, meneduhi kota-kota tua yang penuh dengan pekikan keluh anak manusia. Dan itu kota ku.

"Assalamualaikum pagi". 

Ku buka mataku dengan syukur karena Allah memberiku satu hari lagi untuk merasakan cintaNya. Semalam, tertidur dengan mata yang basah, diiringi isak yang terlantun tiada bernada. Oooh Allah, aku sungguh hamba penuh dosa, ku abaikan baktiku pada ia yang tiada abai untuk hidupku. Kembali ku ingat rupa ceria wajahnya yang memenuhi langit kamar yang tiba-tiba bermuram, karena tingkahku yang bagai meringanringankan yang berat dan memberatkan yang ringan, ah entahlah, bahkan aku sendiri sulit mendefinisikannya.

Yang aku tahu hanya, aku salah, dan dalam diammu bagiku terbaca bagai sebuah kecewa. Hingga dalam perjalanan menuju upayaku menjerihpayahkan peluh, mataku basah, tak deras memang, hanya linangannya terjebak dalam lingkaran-lingkaran mata yang kemudian kering tersapu debu pekatnya jalanan, selanjutnya Allah masih membimbingku untuk memohon ampun. Semoga Allah memberiku waktu untuk mencintaimu tanpa syarat, mengasihimu tanpa menguasai penuh hasrat, dan membaktikan hidup untukmu tanpa wajah yang muram suram. Meski yang ku yakini, maafmu bagai samudera yang tak hingga.

Detik pagi kemudian berlalu menuju terik, sinar yang menyeringai tetap dirasa hingga bagai meniadakan penyejuk dalam ruangan ini. Serupa bapak penuh kasih bagi putri bergelayut manja yang kini mampir dihadapanku. Tak dirasakannya segala peluh yang ia upayakan bagi satu kata 'bahagia' bagi putrinya. Aku hanya ingin berkata, "kamu beruntung teman", ya beruntung, masih dibersamai olehnya hingga baligh menjelang. 

Hei ini bukan wujud ketiadaan syukur kan? Ah semoga tidak. Yang jelas, adegan penuh kasih ini kembali sukses membuatku mengevaluasi perjalanan cinta terhadapnya. Terhadap ia yang penuh kasih tanpa pernah menagih. 

Aku ingin pulang...

Dan ketukan-ketukan merdu dari suara adzan memecahkan lamunanku dalam perjalan pulang petang ini, maghrib menjelang, selangkah lagi wajah kumal ku kembali menatapnya. Meski raguku kembali menyiratkan kesedihan, masihkah senyum itu tetap sama?

-Aldiles Delta Asmara-

Posted by
Aldiles Delta

More

Menguntai doa

Ini tentang doa, 
tentang lisan yang tiap hari berkata, tentang hati sebagai pemicu dalam berucap.

Semarah apapun kamu, semoga lisan mampu mengeluarkan kata2 yang tetap baik, doa2 yang juga baik, untuk dirimu, atau bahkan untuk yg membuatmu marah, agar segala kebaikannya juga melingkarimu, juga menyapamu, dan setidaknya doa yang baik akan meredakan sedikit amarahmu, hingga melengkungkan senyum yang meski beberapa detik di wajahmu.

Bersabarlah sayang, bersabarlah dengan kesabaran yang baik.
Tidak memaki, tidak mendoakan keburukan, tidak membenci.

Semoga kamu paham :)



Posted by
Aldiles Delta

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger