Sajak "Maka" Ramadhan

Maka pada senja yg kemarau di tengah jiwa, ia merindukan hati yang berdoa...

Maka pada pagi yang menelantarkan terik, adakah peduli terusik?ataukah hanya menjadi penonton bagi gaza yang tercabik?

Maka pada malam yang tertaburi bintang dan bulan yang terpampang, kemanakah kau sandarkan kening? pada sajadah dalam harapan yang hening, ataukah pada bantal yang tak bergeming?

Maka pada terik yang tak berarti kemarau, ku sebut pinta dalam doa yang parau. Ia gelisah, menyebut pagi yang masih rahasia dalam usia, sedang angka kealpaan menjejak nyata.

Maka ketika pagi menyingkap kelam malam, akankah nurani terdiam? ataukah larut dalam doa-doa panjang yang mendalam, tentang kekejian yang terekam?

Maka pada deru takbir yang menderu, aku menyisakan harapku yang membeku, beratus, berjuta bersekian pun terangkum menjadi satu, yang aku mau kamu :)

Maka, ramadhan pun berlalu dalam suatu pinta yang kian syahdu. Aku tentang ibadahku dan pengharapanku..
Rabbku, Kau Maha Tahu :)


Taqabbalallahu minna wa minkum..

Jejak ramadhan 1435 H

@diles_delta

Posted by
Aldiles Delta

More

Dia, Penggenggam Hati

Bismillahirrahmanirrahim..

Ya muqollibal quluub, tsabbit qolbi 'ala diinik
Wahai zat yang membolakbalikan hati, tetapkan hatiku di atas agamamu...

Duhai, Pemilik segala hati-hati yang resah, duhai yang padaNya termuara segala bahagia, duhai Yang Maha Mengetahui yang tersembunyi pada hati, segala resah, segala desah, segala lelah, telahkah tersandar penuh Lillah?

***
Hidayah itu diraih, bukan dinanti. Begitu yang ku tahu tentang hidayah. Hey, kita bukan sedang membicarakan siapa, tapi ini adalah tentang apa. Tentang pencarian kebenaran yang padanya Allah lengkapi akal untuk menuntunkan langkah. Malu kita pada Allah, yang tak segera taat padaNya, tapi sering memaksa dalam pinta. Ketika Ia perintahkan "ulurkan jilbabmu", kau bilang "nanti dulu, aku belum dapat hidayah". Tanpa sesal, tanpa malu, dan tanpa pikir dulu. 

Padahal kita sama-sama tahu, hidayah bukan tunjangan yang diberi pada pekerja, yang sifatnya adalah hak kita, tapi ia adalah bagaikan rizki yg mesti diraih, diupayakan, bahkan dipertahankan. Pernah saya bahas tentang kisah beberapa sahabat yang berjuang menjemput hidayah di sini, betapa berat. Mungkin, kau pun juga merasakan, aku pun begitu, jika mengingat masa itu, berazzam tak akan melepas hidayah Maha Dahsyat dariNya. Kau memang layak untuk berbahagia, tapi bukan dengan menggadaikan kewajibanmu.

Kau memang layak berbahagia dengan segala keputusanmu tanpa mempertimbangkan pendapat dari yang lain, tapi? Tidakkah terpikir untuk menyertakan Ia dalam setiap pilihan, dalam setiap keputusan, dalam setiap sedu sedan?
Karena, tak mengapa jika tak ingin mendengar segala nasihat dari hamba Allah yang penuh maksiat. Namun, tetaplah Allah sebagai pertimbangan akhirat.

Tiada daya, jika tanpa upaya untuk mempertahankan hidayah ini. Tak berdaya, tanpa meminta Sang Pemilik hidayah untuk tetap mengenggam hati kita. Berdoalah, mintalah padaNya, Bukan hanya tentang bahagia, tapi juga tentang berada di jalanNya, selamaNya.. 

('Āli `Imrān):8 - (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".

***
Ya Allah, ramadhanMu akan pergi, meski kami tak mau ia pergi.
Ya Allah, ramadhan memang pergi, namun bantu kami agar hidayahMu tak jua ikut pergi.

-Langit pinta milikNya, 29 Ramadhan-


Posted by
Aldiles Delta

More

Keluarga Baru itu Keluargaku :)

Bismillahirrahmanirrahim..

Ketika kita telah memutuskan untuk menikah, artinya kita pun juga memutuskan untuk menerima keluarga calon pasangan kita. Karena, seperti yang kita ketahui, bahwa menikah bukan hanya menyatukan dua insan, namun menikah adalah menyatukan 2 keluarga. Kebanyakan dari kita sangat hafal dan paham dengan kalimat tersebut, dan semoga kebanyakan kita juga ikhlas menerima apapun kondisi keluarga pasangan kita.

Ah ngomong apaan sikk, kek ngerti aja...hahahaha

Intinya ini adalah harapan, atau ajakan untuk semua saudara-saudara saya, jika memang sudah siap menikah, siap menerima calon pasangan, semestinya siap pula menerima calon keluarga baru. Mereka memang orang baru, tapi tak melulu harus berseteru kan? Kalau bisa mencintai yang akan jadi pasangan kita, semestinya juga bisa mencintai bagian yang telah dilalui pasangan kita. Tapi sulit beradaptasi? Banyak yang bilang seperti itu, saya pun sebenarnya belum tahu, hehe.
Tapi, sulit bukan berarti memutus silaturrahim kan?
Jangan batasi, jangan halangi pasangan kita dari keluarganya. Karena, salah satu kemungkinan bisa menikah dengannya, bisa jadi karena dukungan dari keluarganya, maka pantaskah memusuhinya?

Pun bagi kita, sebuah keluarga yang akan menerima "orang baru" dari anggota keluarga lainnya, atau mungkin kau mengistilahkan dengan ipar.
Ketika kau memutuskan untuk mengikhlaskan bagian dari keluargamu untuk menikah, maka dalam sekejap pun kau juga mesti memutuskan bahwa "orang baru" itu akan jadi keluarga. Tak ada lagi waktu "ingin seperti dulu" karena jika mengucapkan itu artinya kamu tidak mengharapkan hadirnya "orang baru" tersebut. Family time, bukan lagi tentang, orang tuamu, kamu, dan adik atau kakakmu, tapi kini family time adalah tentang orang tuamu, kamu, serta keluarga dari adik/ kakakmu. Yang dulu kau ikhlaskan pernikahannya, yang dulu kau bahagia karena bahagianya.

Maka? Saling menerima lebih baik dari pada saling berselisih..

***
Maafkan jika tulisan ini sangat terbaca sok tahu, dengan pandangan "diles kan belum ngerasain ribetnya berurusan sama orang baru".
Ya saya memang belum merasakan, mohon doakan semoga bisa melakukan apa yang saya tulis di sini. 

Ini cuma nasihat pribadi kok ...
Salam :)


*dalam dekapan penuh pinta di langit 28 ramadhan*
diles_delta

Posted by
Aldiles Delta

More

Aksara Jiwa

Dia menciptakan semburat cahaya, pada langit yang ternampak jingga, mengadu segala pesona pada alam nyata..
duhai dunia, adakah segala indahmu sepertinya?

Pada kerak bahagia, ada rasa yang membuncah meloncati asa.
ia tersedu tanpa sedan, sesekali berkelana mencari arti dari tiap definisi bahagia yang ada.

Tanpa Sang Pemilik Cinta, apalah arti segala rasa yang kita punya?
tanpa Sang Pemilik Asa, masihkah bahagia menyambut segala rupa takdirNya?

Tak mesti manis dalam tiap kata, jika pahitpun nyatanya membuat kita berkarya.
kita tak bisa meminta pada semua manusia, untuk menyembunyikan segala keburukannya, seperti halnya kitapun tak mampu memaksa diri menyembunyikan keburukan diri.

Ah prasangka, kau macam anak panah, pisau belati, silet tipis, atau gergaji bertaring..
siap mengolah dan mengaduk emosi jika tak dijaga sampai batas maksimal..

TanpaNya aku terpedaya, dengan segala tipu daya macam cerita cinderella..
Robbi, aku tak mau hidup hanya dunia khayal, karena yang ku tahu, dunia Mu adalah nyata..

Kemudian aku menginsyafi alfa pada denyut nadi yang tersisa. Bertarung melawan sunyi, mencabik segala dengki, menyayat segala iri hati. Terluka? namun lebih baik dari pada ku pelihara sejak dini.

Lalu rengekanku padaMu hadir lagi, rengekan yang nampak seperti isakan. Tak bertata dalam krama menyusun kata.
satu persatu hingga perseratus pun Engkau tetap sama, tetap mendengarkanku mengutarakan rasa, bahkan Kau bilang "Aku dekat"

Segala puji teruntukMu, duhai Robb alam semesta.

Posted by
Aldiles Delta

More

Salah satu takdirNya #pengumumanSBMPTN

Tidak diterima di PTN pilihan kamu, itu bukan kiamat kan?bukan juga suatu aib kan?

Allah mencintaimu dg caraNya yg luar biasa, Ia sudah menempatkan kebahagiaan lain selain #PengumumanSBMPTN yg mengecewakan itu

Apapun, sy sbg guru BIP sdh sangat bangga dg kerja keras tmn2 dlm perjuangan meraih PTN ini.. semoga jd pemberat amal kebaikan di sisi Allah

Semoga, apapun yang terjadi kalian tetap menikmati, pahatan takdirNya  #AYTKTM

Selamat bagi teman-teman yang diterima di PTN tahun ini, saat daftar ulang segera merapat ke Lembaga @Dakwah_Kampus yaa

Salam, dari kami para pengajar BIP di AKSEL dan Nurul Fikri

Posted by
Aldiles Delta

More

Menanti keputusanNya

2 hari lagi
Apakah iya
Apakah tidak

Lalu kenapa?

Kita tetap menjadi hamba Allah kan apapun hasilnya?
Kita tetap berbaik sangka pada keputusan Allah kan?
Kita tetap percaya bahwa Allah Maha Tahu kan?

Lalu apa lagi?

Pada yang bermuarakan segala pinta, semoga berujung bahagia, pada apapun takdirNya..

*coretan buat adik2 yang menanti pengumuman SBMPTN*

@diles_delta

Posted by
Aldiles Delta

More

Tak akan ada

Pada yang Allah ciptakan selain kita, ada muhasabah yang Allah minta meski tak kita sadari caraNya.
Agar segala tuduhan kita kepada Allah pun terbantahkan.
Ya, tanpa kita minta, tanpa kita sengaja, kadang ada bisik "mengapa Allah tak adil kepadaku?"
Dan lihat? Lagi-lagi Allah mengajakmu membuka mata

Di sisi mana Allah tak adil?ketika Allah membiarkanmu hidup di negeri penuh kedamaian, meski kini agak terguncang bakda coprascapres. Setidaknya, kau tidak menatap langsung salah satu keluargamu atau bahkan satu persatu keluargamu pergi melepas raga menuju Rabbnya..
Di sisi mana Allah tak adil?ketika Allah membiarkanmu menyantap ilmu di sekolah-sekolah yang terbayang pun tidak oleh mereka, mereka yang kesehariannya dipenuhi sesak akankah masih hidup esok hari?
Di sisi mana Allah tak adil?ketika Allah mengizinkanmu menatap tawa ceria anak-anak bangsa yang tak pernah jadi luka menganga seperti mereka.
Di sisi mana Allah tak adil?ketika kau mampu membangun rumah hingga menggapai langit sedang di sana mereka hidup dengan sisa puing bangunan hati yang mulai terkoyak, terampas paksa oleh penjajah.
Di sisi mana Allah tak adil?

hei tak sadarkah bahwa sebenarnya kitalah yang tak adil pada Allah
Mereka yang hari dan hati terpenuhi duka, tak pernah sedikitpun terlupa akan nikmat Allah, hingga mereka menjadi kuat karena iman yang bergemuruh dalam dada, berbekal ayat Allah yang selalu tertanam dijiwa.
Mungkin itu rahasianya, rahasia mereka mampu berbahagia dengan segala kondisi mereka, karena hidup mereka bukan lagi menuntut keadilan Allah, tapi justru membawa firman Allah dalam tiap kata dalam rutinitas.
Kini jangan lagi menuntut bahagia, jika sumber bahagia pun tak kau dekati dan kau bawa dalam tiap agenda.

Berbahagialah dengan apa yang kau punya
Berbahagialah dengan dekat padaNya
Berbahagialah dengan syukur yang mengakar dalam jiwa

hingga kau rasakan indahnya surat cinta untukmu..
duhai jiwa, nikmat Aku yang mana yang kau dustakan?
Tak akan ada

Posted by
Aldiles Delta

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger