ruh yang (katanya)dipersatukan oleh Iman

Ruh-ruh yang dipersatukan oleh iman, semestinya saling menjaga dan terjaga. Maaf jika ini terbaca sebagai sebuah tuntutan. Bukankah persaudaraan juga tuntutan? tuntutan agar tak hanya bersaudara di dunia, pun di hari akhir yang syurga menjadi mimpi kita, tak inginkah juga bersama dan bersaudara di sana??

Maka, menjagalah kita dalam keterikatan iman, keterikatan hati yang saling terpaut karena dan olehNya, oleh Ia yang menyatukan hati dan hati kita.

Semestinya aku tahu, tugas ini tak ringan. Tapi, kau pun harus tahu, bahwa tugas ini tak berat. Allah yang sudah satukan kita.
Kecewa? Ah tentu saja, sudah berapa banyak kecewa yang luluh lantak tersebab kata maaf dari masing-masing kita? Hingga, ia mengubah rasa menjadi bahagia.

Aku tahu, perjalanan ini tak selamanya dan tak melulu tentang mencipta suatu bahagia, karena hidup bukan hanya tentang bahagia kan? Kita pun sesekali perlu berkenalan apa itu kecewa. Aku terhadapmu, ataukah kamu terhadapku.
Kita sama saja, sama-sama terlahir sebagai manusia, yang punya segudang rasa. Namun begitu, kita punya alat yang bisa kita pergunakan untuk memperbaiki itu semua kan?

Cobalah memahami, jika sulit, mungkin kata memahami perlu kita ganti dengan selamatkan. Ya, cobalah selamatkan. Selamatkan rasa bahagia yang terampas dari persaudaraan kita. Selamatkan persaudaraan kita dari segala buruk sangka. Selamatkan persangkaan kita dari kecewa yang mengores luka.

Aku terhadapmu, ataukah kamu terhadapku.
Sama saja, kita sama-sama berpeluang untuk saling menjaga, dalam keterjagaan dengan iman yang kita punya. Kita bersaudara. Katamu, karena Allah kan?
Itu saja, semoga nyata segala mimpi kita untuk tetap bersama, dalam kecewa dan bahagia, hingga menuju syurga.
Selamanya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger