Sabtu, 28 Maret 2015

Jangan Lelah...

Kamu tahu gak? Susah loh tetap memaksakan senyum padahal hati udah kesel luar biasa. Susah. Meski tetap harus. Semoga senyum ini bernilai ibadah, bukankah Rosulullah bilang bahwa pahalamu tergantung kadar lelahmu? Iya lelah, sungguh deh. Lelah untuk tetap berhati pemaaf, lelah untuk tetap mengembangkan senyum dan mengeluarkan jurus memahami lagi dan lagi "iya, gak papah kok"
Uuuuggghhh...

Mungkin memang nasibmu untuk selalu menunggu, menunggu, menunggu, apapun peranmu.

Daaaaaannn mungkin memang harus selalu baik sangka, meski setiap hari, meski berulang kali, meski belum terlihat perubahan yang baik.

Semoga Allah mengaruniakan kesabaran yang tak hingga.

-Aldiles Delta Asmara-

Takdir yang Penyempurna...

Kalau kamu yakin bahwa Allah berkuasa menjadikan yang tak bertemu raga akan pula berjumpa di suatu masa, maka tak apa jika berawal dengan sebuah pinta, pinta yang hanya pada Ia.

Apa-apa yang Allah tetapkan, yang Allah takdirkan, yang Allah hadiahkan, adalah suatu rupa kebaikan bagi tiap jiwa yang menghamba. Tak mesti selalu bahagia memang, tak juga tentang berkesesuaiannya ia dengan tiap rencana yang terlebih dulu kita ukir sedepa demi sedepa dalam tiap jejaknya. Ada saja air mata, ada saja luka, ada saja kecewa. Jika sabar jadi teman setianya, maka itu pun tak mengapa.

Pada akhirnya kita akan tahu, bahwa pencapaian kita sangat bergantung dengan segala lelah yang meluruhkan raga serta bergantung pula pada ridhoNya. Ini bukan hanya tentang penyempurnaan yang mesti disempurnakan. Lebih dari itu, ini tentang kita yang tengah menghamba. Pada apapun, gores rahasia takdirNya.

-Aldiles Delta Asmara-

Jumat, 20 Maret 2015

Membunuh rindu

Akan ku bunuh rindu, jika ia nya membuatmu malu..
Akan ku bunuh rindu, jika hadirnya membuatmu terganggu..
Akan ku bunuh rindu, sebab aku meragu..
Bahwa hanya aku yang merindu, tidak kamu..
Akan ku bunuh ia, sebuah rindu yang bahkan lama-lama membunuhku..

Akan ku bunuh dengan caraku, agar ia nya tidak mengganggumu jika memang kau terganggu, agar ia nya tidak lagi mengejar-ngejar kabarmu yang padanya kau tidak tahu, agar ia nya tak lagi mendesak sebuah jawab pada tanya di suatu waktu..

Akan ku bunuh, dengan hanya bertumpah duka padaMu...

-Aldiles Delta Asmara-

Kamis, 19 Maret 2015

Ya Allah aku ingin...

Ya Allah aku ingin..
Tiap cerita menjadi pahala, tiap tatap menjadi penenang, tiap bergores-gores kata menjadi bertumpuk-tumpuk makna, dan tiap diam menjadi penyejuk duka.

Ya Allah aku ingin..
Mengajak semesta dengan cinta, mencinta semesta dengan percaya, mempercayai semesta dengan sebening prasangka, agar semesta pun perlahan menghadirkan cinta tanpa jeda bagi sesama manusia.

Ya Allah aku ingin..
Membaguskan akhlak, memperindah ucap, mempercantik tiap sangka agar tak sesat berujung siksa, karena sungguh merugi jika semua itu tiada dimiliki.

Ya Allah aku ingin..
Membersamai pergantian rasa bagi dia, dari jenuh menjadi teduh, dari resah menjadi berkah, dari duka menjadi suka, dari luka menjadi penawarnya. Bagi ia, yang Kau persaudarakan bahkan sejak dalam rahim yang penuh detakdetik doa.

Ya Allah aku ingin..
Menjadi perantara bahagia bagi ayah, mama dan para keluarga, lewat kata yang terjalin mesra menerbangkan segala gelisah menuju suatu cahaya, bermakna kepastian, kepastian dalam bahagia dengan suatu kata yang dapat mengguncang arsy-Nya

Ya Allah aku ingin..
Membangun rumah surga sebata demi sebata dengan kata-kata cintaMu yang kami susun menjadi bertumpuk-tumpuk akhlak surgawi, menjadi penghias diri, dalam berinteraksi dan bersinergi dengan yang Engkau ridhoi.

Ya Allah aku ingin..
Mengamalkan ilmu yang Kau karuniai, lewat jemari-jemari mungil untuk ku ajarkan agar senantiasa bermunajat padaMu, agar senantiasa menghamba kasihMu, agar senantiasa menjadikan surga terlahir di dunia, lewat rumah yang menjadi miniaturnya.

Ya Allah aku ingin..
Menjalani hidup sesuai dengan apa yang Kau inginkan, karena yang ku yakini, Engkau Maha Tahu, sedangkan aku hanya sok tahu, dengan segala ketetapan yang terbaik dariMu dan terbaik menurutMu, maka ya Allah aku ingin agar Kau anugerahi kami iman untuk mempercayai...

-Aldiles Delta Asmara- dalam sisa-sisa kuota :D

Rabu, 18 Maret 2015

Kesabaran yang disyukuri...

Kalau mengamati kehidupan-kehidupan orang lain, baik kerabat dekat, teman biasa, bahkan kehidupan orang yang tidak sengaja dikenal lewat media sosial atau dari tulisan-tulisan yang bersangkutan, sepertinya memang kita tak boleh kehilangan syukur, pada apapun takdir kita. Sekali lagi, yap pada apapun, yang Allah tetapkan untuk kita.

Ini terinspirasi dari ‘celoteh” saudari kembar saya di FB, yang pada intinya menginginkan merasakan jadi wanita pekerja, yang selama ini, semenjak Allah tetapkan menikah ketika diakhir perkuliahan belum pernah ia rasakan, terlebih ketika Allah mengamanahkan dua manusia yang terlahir dari rahimnya. Saat membaca itu, sedikit terkejut. Sebenarnya dia bisa saja mencoba tanpa waktu lama, alias cicip-cicip sementara kehidupan yang dia inginkan lewat kehidupan saya, hehehe. Kehidupan perempuan pekerja yang malam hari pukul 20.30 saja masih di luar rumah *curhat selentingan* tinggal nanti dua anaknya saya yang asuh. Yaaa kalau mau mencoba, cobalah sehari, hehe. Agar kamu merasakan betapa nikmatnya hidupmu, nikmatnya menjalani  keseharian bersama celoteh riang dua anak yang menggemaskan, meski kadang lelah, meski kadang mencipta stress, meski kadang mau menjerit, meski kadang berkeluh kesah.

Eh tapi kalo baca tulisan ini kamu pasti bilang “iyak, udah tahu” ya kan ya kaaaan????? Kamu kan kece :D

Jadi pada intinya, saat kita iri dengan kehidupan orang lain, saat itu juga sebenarnya banyaaaak banget yang iri dengan kehidupan kita, dengan kebahagiaan yang kita miliki, dengan keriangan yang mengisi hari. Kemudian berkilah, tapi dari semua kehidupan saya tidak ada bahagia sedikitpun. Emmm kalau seperti itu, coba singgah sejenak ke negeri-negeri yang terjajah, atau baca kumpulan kisah-kisah mereka, betapa sengsaranya kita tidak ada apa-apanya dibanding sengsaranya mereka, dan sebaliknya, keshalihan kita tak sebanding dengan keshalihan mereka. Duh...

Atau kalau negeri-negeri itu terlalu jauh untuk diinsyafi, mampirlah ke panti-panti sosial untuk melihat anak-anak yang diuji dengan fisik dan perkembangan mereka. Semoga kemudian kesyukuran itu berkenan pula mampir di hati kita. Sedih kita tidak ada apa-apanya, kesulitan kita bukan yang terberat bagi penduduk bumi, kelelahan kita bahkan sesuatu yang dimimpikan oleh mereka.

Karena memang hidup kita berkisah antara sabar dan syukur kan? Bahkan kadang kita perlu memilih untuk mensyukuri kesabaran dan menyabari kesyukuran. Bukankah keduanya sama baik?? Bersyukur ketika musibah, bersyukur ketika bahagia, begitupun dengan bersabar ketika musibah dan bersabar dalam bahagia.

Hai Diles, kamu baru sekedar teori, belum merasakan kesulitan-kesulitan dan kejenuhan berumah tangga dan bertumpuk rasa..

Iya, maaf ya.. doa terbaik untuk kita semua, semoga Allah limpahi karunia kesyukuran dan kesabaran hingga menuju tempat yang bahagianya adalah mimpi dan cita para penduduk bumi.

Insyaa Allah..

-Aldiles Delta Asmara-

Teriring ucap jazakallah khoir bagi yang meminjamkan laptop hingga terurai sudah tulisan ini.

Jumat, 13 Maret 2015

ada cinta yang bukan sisa..

Hei kamu..
Yang berdiam diri menyeka mata yang basah di pojok sana, bolehkah aku mendekat untuk mendekapmu agar tak meratap?

Di ujung sana, di suatu masa saat beranjaknya usia, percayakah kau akan sebuah cahaya yang mengantarkanmu menuju bahagia?? Meski bukan kini, percayalah, suatu hari...

Akan kau temukan, akan kau temukan, bahkan sebelum sampai di ujungnya jika Allah ridho. Ia yang akan membimbingmu penuh kasih dengan langkah-langkah perlahan menuju sebuah kepastian, tentang ketetapanNya yang memang sudah tetap dan tepat...

Telaga doa yang kau persembahkan, semoga tiada lelah untuk mengulang-ulang bait cinta dalam doa dengan lirih yang meluruhkan duka, menatap mesra, mengeja makna, pada Ia, Pemilik kebahagian kita.

Menyeka sisa-sisa kabut di mata, kau nampak lebih bercahaya, dengan cinta yang bukan sisa, untuk sekelilingmu, untuk bahagiamu, meski kini duka dulu, meski kini merindu yang terlalu...

Dan bisik kan lah kata pada ia,,,
"Aku pun bahagia dengan bahagiamu"


-Aldiles Delta Asmara-

Selasa, 10 Maret 2015

Berjawab olehmu...

Alhamdulillahirobbil 'alamin..

Salam ku berjawab salam
Sapa ku berjawab sapa
Dan tanya ku pun terjawab sudah

Kini senyumku seakan tertahan  beberapa senti dari garis wajarnya
Ketika kau dengan riangnya mengetuk-ngetukkan jemari bertanda tiada abai dalam cakap kita
Aku melompat dalam riang, seakan ingin ku kabarkan pada semesta
Ketika kau dengan kata-kata sapa yang bukan lagi menjawab sekadarnya
Mataku seakan tiada henti menatap dalam harap-harap yang tiada terucap
Ketika kau dengan lincahnya membalas tanya demi tanya dengan keakraban yang dulu pernah tergambar rupa

Kemudian hatiku berujar,
"Selamat hadir kembali duhai saudariku"

Entah memang engkau yang kembali, ataukah kami yang memang baru peduli

Mohon jangan pergi lagi ya..

Aku, dan tentu saja kami, masih mencintaimu..