Ibu bekerja vs Ibu RT (resume kajian ForUs2)

FORUM USROH 2 "Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga"
Ahad, 20 November 2016
Fasilitator: Ust Bendri Jaisyurrahman
Notulis: Aldiles Delta Asmara

Jika dilihat dalam rujukan fatwa para ulama mengenai hukum dasar ibu bekerja semua menyimpulkan boleh dengan syarat. Syarat tersebut yang berkaitan dengan hal-hal yang menjaga kemuliaan para wanita agar jangan sampai wanita bekerja justru menghilangkan status kemuslimahannya. Intinya boleh, apalagi bagi wanita yang pekerjaannya dibutuhkan oleh umat, seperti dokter kandungan atau perawat dan pekerjaan lain yang memang membutuhkan wanita. "Mana yang lebih utama?" Jika membahas tentang keutamaan maka bukan berarti pilihan yang lainnya merupakan kehinaan. Keutamaan hanya menunjukkan lebih tinggi dengan yang lain, itupun dengan syarat. Sebab banyak hadits yang membahas tentang keutamaan-keutamaan. Misal hadits "muslim yang kuat lebih dicintai daripada muslim yang lemah". Apakah muslim yang lemah itu hina? TIDAK. Hanya memang lebih utama muslim yang kuat. Begitupun perihal ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Maka jawabannya berdasarkan Al-qur'an dalam surat Al Ahzab: 33 "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, ...."
Ibu lebih utama di rumah. Apakah keutamaan ini terikat satu poin saja, tidak, sebab bersyarat. Ibu di rumah lebih utama jika menjalankan fungsi keibuan. Ibu rumah tangga akan mendapatkan sisi yang positif, mendapatkan derajat yang baik jika menjalankan fungsi keibuan.

Apa yg harus dimiliki seorang ibu terkait fungsi keibuan??

Dalam sebuah H.R. Muslim, Rosul menyebutkan "nikahilah olehmu seorang wanita yang
a. Al walud (subur, untuk perbaikan keturunan agar bisa dibanggakan Rosulullah di hari akhir);  dan

b. Al wadud, akar katanya al wudd (Q.S Maryam : 96 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.") Memiliki makna yang sama dengan al mawaddah (Q.S ArRum ayat 21"...Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang..."). Jika al mawaddah bermakna kasih dan sayang untuk pasangan, maka al wadud bermakna kasih dan sayang untuk anak yang menyebabkan seorang anak ingin selalu mendekat kepada ibu.

Indikator saat kita menjalankan fungsi keibuan adalah ketika anak selalu ingin menempel pada ibunya. Inilah yang akan kita bahas dan kita evaluasi apakah ibu rumah tangga dan ibu bekerja memiliki Al wadud ini.

Jika fungsi keibuan yaitu al wadud dijalankan, ciri keberhasilannya adalah apakah ibu dirindukan atau tidak?

Sebab petaka pertama pengasuhan adalah ketika ibu tak lagi dirindukan. Ibu bekerja dan ibu rumah tangga sama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi ibu yang dirindukan. Bukan lagi membahas mana yang lebih utama, karena saat ini banyak ibu rumah tangga namun tak dirindukan sebab hilangnya sifat Al wadud.

Awal seorang ibu memiliki anak sifat al wadud masih kuat. Bagaimana agar al wadud terjaga? Agar ibu tetap menjadi yang dirindukan, anak selalu ingin bersama ibunya, maka lihat ciri-cirinya. Saat anak dipeluk atau didekati apakah ia menolak atau merasa nyaman? indikasi kedua ketika anak tak mau bercerita karena kecelakaan bagi orang tua adalah ketika anak tak lagi bercerita dan memiliki wilayah privasi yang orang tua tidak boleh mengetahuinya.

Misi pertama ibu

Mengikat hati anak agar anak takluk hatinya
"Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota tubuh ibarat anggotanya". Majmu al Fatawa.

Tips mengikat hati anak

1. Senantiasa berpikir dan berperasaan positif

Terlepas ibu adalah seorang pekerja atau yang di rumah, jika emosi ibu negatif seperti bau busuk yang membuat anak tak mau mendekat. Anak membaca bahasa tubuh ibu. Maka tugas ibu adalah senantiasa berpikir dan berperasaan positif. Ketika ibu mulai memiliki perasaan negatif, maka menghindar dari anak adalah lebih baik. Sekaligus ibu mencari cara bagaimana agar ibu bisa berpikir dan berperasaan positif. Ibu harus memiliki beberapa skill salah satunya menulis, terutama bagi ibu-ibu yang memiliki kecenderungan berpikir dan berperasaan negatif. Ibu yang sering menulis emosinya lebih stabil. Seperti perkataan Iman An-Nawawi "menulis itu mencerahkan pikiran dan mencerahkan batin". Sebab jika ibu tidak menulis kecenderungan untuk melakukan hal buruk pada anak sangat besar.

2. Belajar menjadikan anak prioritas
a. (Al-'Isrā'):26 - Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, ....
(Ar-Rūm):38 - Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, ....

Jika ibu bekerja bisa bersabar menghadapi klien maka seharusnya bisa lebih sabar dalam menghadapi anak. Jika ibu bekerja sebagai guru TK dan sangat sabar menghadapi murid-murid, maka semestinya anak ibu lebih berhak mendapatkan kesabaran ibu.

Cara melatih agar anak selalu menjadi prioritas adalah sering melihat wajah anak ketika bayi. Jika sudah muncul amarah pada anak, mengingat wajah bayinya membuat kita akan menjadi lebih sabar.

3. Manajemen waktu
a. Me time adalah hak wanita, istri Rosulullah memiliki  'me time' untuk solat, berdoa, berpuasa dan ibadah lain saat ia tidak mendapat giliran. Ibu berhak solat, membaca alqur'an tanpa harus diburu oleh tangisan anak, dan ibu berhak melakukan kesenangan yang dibolehkan oleh agama ini. Suami ambil alih sementara untuk menjaga anak.

b. Couple time, untuk memberikan kekuatan energi pada ibu. Penting bagi ibu untuk punya waktu berdua dengan suami untuk berdiskusi, bercengkerama, bercanda tanpa menyertakan anak. Saat ibu mulai kehilangan al wadudnya, yang pertama kali harus dievaluasi adalah suami, sebab artinya itu mewakili perasaan bahwa ia sedang tidak bahagia dengan suaminya. Penting bagi suami membuat ibu bahagia agar al wadud tak hilang dari ibu.

c. Family time, berkumpul dengan keluarga.

d. social time, ibu berhak untuk berkumpul bersama teman-temannya.

4. Skill dasar seorang ibu

- Memasak, hal yang membuat anak selalu rindu kepada ibu adalah masakan ibu.
- Menulis (sudah dibahas)
- Memijat, agar anak selalu merasa dekat pada ibu. Sebab ketika anak nyaman dipijat oleh ibu di daerah tertentu, seperti perut, punggung dan telapak tangan, maka anak akan lancar bercerita dan cenderung terbuka.
- Mendengar, jadilah pendengar setia dengan respon terbaik, bukan sekadar menasehati ketika anak bercerita.

5. Merebut golden moment
Ada 3 waktu yang ibu tidak boleh absen, terutama bagi ibu yang bekerja.

-Hadirlah saat anak sedih, sebab ketika anak sedih ia memerlukan sandaran jiwa, siapapun yang hadir saat itu akan dianggap sebagai pahlawannya, maka ibu wajib menjadi pahlawan yang mendengar kesedihannya apapun dan bagaimanapun kondisi ibu saat itu. Jika tidak mendapati ibunya, maka ia akan mencari 'orang lain' yang bisa jadi berbahaya bagi dirinya. Dicontohkan oleh Rosulullah yang hadir saat ada seorang anak yang sedih karena kehilangan burung pipitnya.

-Hadirlah saat anak sakit, saat anak sakit yang sakit bukan sekadar fisiknya tapi juga jiwanya.

- Hadirlah saat anak unjuk prestasi, anak akan tidak percaya pada ibunya jika ibu tidak datang saat anak unjuk prestasi. Maka bagi ibu yang bekerja, serepot apapun agendakan dengan sekolah sang anak kapan jadwal unjuk prestasi. Hal ini dicontohkan oleh Rosulullah yang selalu hadir saat anak sedang mementaskan prestasinya, Rosulullah hadir saat bani Aslam sedang melakukan lomba memanah.

Maka bagi ibu wajib menjadikan 5 poin ini sebagai pegangan, sudahkah dirindukan, sudahkah anak dekat dengan kita.

Membahas kesadaran bersama bagi para ibu yaitu bahwa anak adalah prioritas. Profesi ibu adalah yang utama, sisanya SAMBILAN saja. Ada 7 indikasi yang ditunjukkan anak sebagai syarat bahwa mau tidak mau ibu harus kembali ke rumah, ibu tidak bisa memaksakan bekerja saat sudah tampak bahwa anak memiliki 7 indikasi kerusakan;

1. Anak selalu membangkang
Ibu yang gagal mengikat hati anak karena sibuk bekerja, indikasinya adalah anak selalu membangkang.
Sebab anak yang dekat dengan ibunya akan taat meskipun dalam keadaan terpaksa.

2. Anak tidak hormat pada ibunya terutama ketika ibu dalam keadaan marah. Jika ibu marah dan anak tambah melawan dan membantah, maka sangat disarankan lebih baik off bekerja daripada kehilangan momen

3. Anak punya privasi, saat anak memiliki banyak rahasia maka ini menunjukkan indikator bahaya. jika anak memiliki banyak rahasia dari ibunya, hak tersebut adalah tanda bahwa anak tidak nyaman dengan ibunya.

4. Ketika anak tidak pernah mendengar nasehat ibunya sebagau rujukan. Indikator anak yang dekat dengan ibunya adalag ketika anak selalu menjadikan ibu sebagai rujukan.

5. Saat anak tidak betah ada di rumah. Sebab rumah memiliki ratu bernama ibu, jika ibu tak lagi dirindukan maka anak tidak akan betah di rumah.

6. Anak sudah berani mengatakan kriteria jodoh "asal bukan seperti ibu".

7. Ketika anak tak memahami bahasa tubuh orang tua, bahkan cenderung membiarkan kita tersakiti.

Indikator-indikator ini mohon jadikan sebagai bahan evaluasi. Jangan menunggu 7 hal ini terjadi, selalu perbaiki kedekatan bersama anak agar menjadi ibu yang dirindukan.

Kenapa banyak ibu yang dimusuhi anaknya "sebab ada peran yg tertukar" antara ibu dengan ayah.

Peran ibu adalah sebagai pemberi rasa aman, sedangkan peran ayah sebagai penegak aturan.

Q.S An Nisa: 34 "laki-laki adalah pemimpin bagi wanita..."
Makna pemimpin dari ayat ini adalah sebagai penegak aturan. Ibu jangan mengambil alih peran ini.

Para ayah wajib bantu istri agar tidak kehilangan al wadudnya. Istri jangan mengambil wilayah aturan. Suami wajib mengingatkan istri bahwa yang menegakkan aturan adalah suami, maka jika ibu ingin memiliki aturan untuk anak, sampaikan pada suami. Istri hanya memberikan usulan. Anak rusak, itu tanggung jawab suami.

Semoga hal ini bisa menjadikan perbaikan bagi rumah tangga, ketika ibu dan ayah menjalankan fungsinya. Ibu dengan kasih sayang, ayah dengan ketegasannya. Lakukan diskusi bersama.

Penting agar ibu dan ayah selalu melakukan harmonisasi. Sebab biasanya permasalahan anak hanya 20% sisanya karena komunikasi ibu dan bapak yang tak selesai. Banyak anak yang tidak patuh pada orang tuanya karena sering melihat pemandangan konflik antara ibu dan ayahnya. Ayah wajib bantu ibu menjadi yang dirindukan terlepas ibu bekerja atau di rumah dengan memfasilitasi agar ibu memiliki pikiran dan perasaan yang positif.


Diskusi

1. Bagaimana meyakinkan istri untuk di rumah?karena istri punya karir yg cemerlang di pekerjaannya.

Tanggapan dari peserta:
- Dari pengalaman mengapa saya (seorang ibu) memilih resign, diawali oleh suami yang mengajak musyawara bukan hanya terkait finansial tapi lebih kepada hal pengasuhan anak. "jika kamu bekerja siapa yang mendidik anak". Hati seorang istri akan tersentuh.

- Temukan kekhawatiran istri mengapa ia masih bekerja. Misal jika finansial, suami pastikan dan meyakinkan bahwa tak akan kekurangan meski ibu tak bekerja.
- Sering diajak kajian tentang keutamaan istri di rumah.
- Suami wajib menunjukkan perhatiannya dengan memuji kelebihan istri.

Tanggapan dari Ust:
Bagaimana agar istri mau mendengar suami?
Dalam pepatah Arab "kebaikan akan menaklukkan manusia". Maka nasihat yang tidak masuk kepada pasangan karena dirasa mungkin belum baik. Bagaimana kebaikan yang menaklukkan manusia?
1. Kebaikan yang sering. Lakukanlah banyak kebaikan kepada istri agar imhati istri takluk kepada suami.
2. Kebaikan yang ekstrim. Tidak sering tapi sekalinya berbuat dengan kebaikan-kebaikan yang besar.

Inilah tradisi yang diajarkan Rosulullah "aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada perempuan"

Pertanyaan 2:
1.  Apakah wajar ketika anak lelaki saya yang berusia 4,5 tahun sangat nempel kepada saya?? Sampai usia berapa anak bounding kepada ibunya?
2. Saat suntuk dengan pekerjaan, saya membutuhkan me time, namun dzolimkah terhadap anak karena waktu bersama anak semakin berkurang untuk kerjaan ibu dan untuk me time ibu?

Tanggapan dari Mc:
1. Berikan kesempatan kepada suami agar lebih dekat pada abinya.

Tanggapan dari Ust:
1. Kedekatan kepada anak indikasinya bukan sekadaf nempel atau tidak nempel. Indikasi yang lain apakah mampu mengerjakan urusannya sendiri? karena jika umur 4 tahun masih ingin 'dilayani' oleh ibunya terkait urusan pribadi, maka harus diantisipasi. Sebab usia 4 tahun sudah masuk ke fase independent, fase ketika anak sudah mulai mandiri. Orang tua hanya sebagai partner. Jika terlalu nempel pada ibu bukan berarti ia sangat tergantung pada ibu, bisa jadi karena anak tak memiliki alternatif yang dilihat dari sosok ayah.

2. Me time yang kebablasan
Anak memang tidak bisa menunggu maka anak harus dipahamkan bukan dengan dibuat jarak antara ibu dan anak. Ibu bisa jujur kepada anak. Sebab menghindar dari anak justru memberikan persepsi yang buruk kecuali kita tidak bisa mengelola emosi yang negatif. Anak tidak bisa mentolerir pekerjaan, jika tidak bisa berdekatan dengan anak untuk sementara waktu maka lebih baik jujur pada anak. Cara yang berikutnya lakukanlah sandiwara pada anak, kalau sengan klien ibu bisa bersandiwara untuk bisa tersenyum, maka kepada anak harus juga ibu lakukan, jadilah ibu yang profesional sebagaimana ibu ingin menjadi pekerja yang profesional.

Posted by
Aldiles Delta

More

Menjadi Istri

Menjadi Istri

oleh: Aldiles Delta Asmara

Telah dikabarkan kepadamu duhai wanita, tentang sebuah jalan keabadian yang di sana terdapat singgasana terindah dan kau ibarat pemiliknya, sebab kau bebas masuk dari pintu yang mana saja. Dan jalan itu salah satunya bermula dari menjadi seorang istri.

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)


Pintu langit telah terketuk, pintu hati telah terbuka untuk satu jiwa, yang karenanya taatmu beralih. Dan pintu keberkahan, semoga mengalir terus menerus.


Dalam rupa sepertiga malam, kau kan terbangun dalam tunduk sujud bersama, melantunkan doa, mengeja tiap harapan dalam kehidupan yang sampai surga.

Menjadi istri adalah menjadi bidadari, dalam miniatur surga yang terketuk dengan salam dan kata-kata lemah lembut penuh cinta yang menyejukkan hati. Menjadi istri adalah melatih diri menjadi bidadari, tak mudah mengeluh, tak mudah mengubah raut wajah dari riang menjadi berang, tak mudah untuk ucap kata-kata yang menyakiti hati, selalu tersenyum dan membahagiakan suami.

Menjadi istri adalah menjadi separuh ragawi bagi suami. Melengkapi, menyertai, memperbaiki, dengan tanpa melupakan posisinya sebagai imam dalam rumah tangga iman ini. Jika surga menjadi tujuan, maka tetaplah berupaya bergandeng tangan dalam perbaikan. Tak perlu menuntut diperbaiki, tapi cobalah memperbaiki, tak menagih untuk dilayani tapi cobalah melayani.

Menjadi istri adalah menjadi penerang hati, kala gundah meliputi hari sang suami, senyummu bak rona mentari dalam penat lelah mengais rizki. Memberi cahaya yang menyinari, memberi kesejukan yang menentramkan hati. Menjadi penerang dan penyejuk dengan terjaga dari ketergesaan memburu tanya "ada apa?" pada tiap ubah ekspresi suami. Cukup menjadi tempat bersandar hingga sang suami tanpa ragu berbisik "mohon selimuti". Dan menjadi Qurrota a'yun bukan sekadar mimpi.

Menjadilah kamu seorang istri, yang mampu memahami suasana hati, bukan hanya menuntut untuk dipahami lagi dan lagi. Sebab suami bukan yang Maha Tahu, maka diammu tak akan mengubah kondisi. Pahami bahwa dia makhluk penuh khilaf diri.

Menjadilah kamu istri yang diridhoi, dalam langkah kemanapun kamu pergi, bukan dengan gerutu dihati. Agar cintanya dan cintamu berujung surgawi.

Suatu hari saat menjadi istri, akan banyak pertanyaan yang kau tanyakan pada Robbmu terkait takdir ini. Kadang kau syukuri, kadang kau ingkari.

"Mengapa dia?"

"Mengapa aku?"

"Mengapa tak seperti yang lainnya?"

Percayalah bahwa kau dipilih untuknya bukan tanpa sebab. Berlelah hari ini, bahagia suatu hari nanti. jika kau meyakini.

Maka kini genggamlah tangannya, tatap matanya, dan bisik dalam mesra "jadikan aku bidadarimu, di dunia dan di surgaNya".

Pengingat diri dihari menggenapnya adik tercinta pagi tadi, Ayu Sulistia dan suami.

Barokallahu Laka wa baroka 'Alaika wa jama'a bainakuma fii khoir..

Posted by
Aldiles Delta

More

Kebaikan yang Sia-Sia

Mamah muda ini sekarang punya kebiasaan cek tombol pencarian instagram, kemudian kalo muncul postingan tak layak, semacam buka aurat, pornografi baik sekadar dengan kata ataupun dengan gambarnya. Banyak banget akun gak jelas yang kalo kata suami saya akun nyari duit dan like, jadi yang porno-porno pun diposting.

Kebayang gak kalo yang liat gambar itu anak-anak kita? duh naudzubillah. Maka, akhirnya saya memilih untuk selalu jadi 'satpam' akun-akun tersebut. Bukan dengan komen yang berakibat semakin tingginya 'harga' tuh akun, tapi dengan langsung mereport-nya. Meski kemudian saya pun berpikir dan menanyakan hal ini kepada suami.

"Emas, ada pengaruhnya gak sih aku mereport akun-akun abal yang porno macam ini? kayaknya gak ngaruh apa-apa ya?"

"Pasti pengaruh donk, setidaknya menentukan posisi adek ada di mana dalam dunia pornografi ini."

Jadi inget kisah tentang binatang kecil yang membantu memadamkan nyala api untuk membantu Ibrahim.

Tapi yang saya maksud sebenarnya, adakah dampak langsung terhadap akun-akun tersebut kalau hanya satu orang yang mereport. Dan suami saya menjawab... "sepertinya enggak, kecuali kalau banyak yang mereport".

Sedihlah saya, meski gak menyurutkan kebiasaan itu.

Hingga suatu hari....

Ada pemberitahuan dari instagram kalau laporan saya diterima dan akun tersebut sudah menghapus postingan yang saya adukan (meskipun saya gak tahu postingan yang mana, yang jelas muatan pornografi).


Dan itu rasanya....


"tuh kan dek, ga ada kebaikan yang sia-sia dimata Allah."

Allah Maha Pemurah, setiap kebaikan yang hambaNya lakukan akan selalu dibalas, termasuk dibalas dengan rasa bahagia.

yuk, mamah papah dan semua hamba Allah, jangan sekadar ngeri dengan banyaknya korban pornografi, tapi lakukan hal yang bisa kita lakukan, dengan mereport atau bahkan menegur langsung pasangan yang kita lihat asyik berpacaran. Jangan hanya jadi penonton yang meringis :)


-Aldiles Delta Asmara-

Semoga hati kita selalu condong pada kebaikan.

Posted by
Aldiles Delta

More

PROPOSAL PERMINTAAN (2)

Saat menuliskan 'proposal permintaan' untuk anak perempuan, saya lupa melibatkan suami dalam pembuatannya, karena proposal tersebut dibuat ketika menanti kepulangan suami. Maka untuk 'proposal permintaan' bagi anak laki-laki, saya tak lupa menyertakannya. Sekaligus ingin tahu harapan ia kepada anak laki-lakinya nanti.

"Emas, proposal permintaan apa yang emas minta pada Allah untuk anak laki-laki kita nanti." Pembuka obrolan disuatu subuh.

Kemudian mengalirlah dari lisannya Q.S Albaqoroh ayat 131-134 sebagai pembukanya..

"Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!'. Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam'." – (QS.2:131)

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya, Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama yang lurus (Islam)'." – (QS.2:132)

"Adakah kamu (Muhammad) hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku'. Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya'." – (QS.2:133)

"Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya, dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak dimintai pertanggung-jawaban, tentang apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.2:134)

"Seperti yang para nabi pesankan kepada anaknya bahkan sampai mendekati ajal, yang dipesankan dan diminta hanya agar anak-anak keturunannya hanya menyembah Allah, bukan wasiat atau pertanyaan tentang harta benda. Begitupun Emas ingin anak-anak kita kelak menjadi pejuang tauhid. Yang mengEsakan Allah di atas segalanya, di atas harta, di atas nafsu, di atas syahwat dunia lainnya. Emas ingin anak laki-laki kita menjadi sebenar-benarnya lelaki dalam kehidupannya, dari awal kelahiran hingga wafatnya. Gak akan Emas biarkan ia menyerupai perempuan, meski apapun alasannya, entah karena hanya ingin mendapatkan rupiah atau karena dorongan syahwat yang katanya naluriah". Penjelasan suami dengan panjang dan tepat.


Kemudian saya mengingat apa yang melatarbelakangi suami saya punya harapan seperti itu. Beberapa hari yang lalu, kami kaget dengan akun personal seorang laki-laki yang mencari nafkah untuk keluarganya, untuk anak istrinya dengan menyerupai perempuan. Memakai baju perempuan, dan bergaya layaknya perempuan. Yang membuat kami kaget karena ia yakin apa yang ia lakukan adalah kebaikan dan HALAL karena tidak merampok, korupsi, dan lain-lain.


Kami langsung sama-sama istighfar, betapa 'halal' melenceng begitu jauh dari maknanya. Hati kami ngilu. Dan berharap agar kami mampu mendidik anak kami, mengenalkan kepadanya ketaatan-ketaatan yang berupa perintah dan larangan Allah, bukan sekadar menjauhi larangan yang akan merugikan orang, tapi juga larangan yang dalam bentuk menukar akhirat dengan dunianya. Kami meminta pada Allah, agar kami mampu mengasuh anak kami sesuai dengan fitrahnya. Berlandaskan pada perintah Allah, bukan pada perasaan belas kasih sayang sebagai orang tua. Sebab kami khawatir, rasa sayang kami mendahului ketaatan pada Allah, hingga meridhoi permintaan anak meskipun tidak sesuai dengan fitrah dirinya sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Bukankah kini semakin banyak terjadi???


Kami sebagai orang tua, akan meminta bimbingan Allah agar mengajarkanmu tentang kelembutan pada sesama. Kelembutan yang tak menghilangkan kelelakianmu, sebab menjadi lembut, mengerti perasaan orang lain, memahami kondisi, dan ringan tangan membantu pekerjaan perempuan terdekatmu (umma dan keluargamu) tetap bisa engkau lakukan tanpa harus mengubah sosokmu menjadi yang Allah murkai. Bapakmu akan mengajarkanmu dengan berusaha agar menjadi contoh yang baik untukm.


Anak lelakiku, berjalanlah di atas bumi Allah dengan segala aturannya. Bukan dengan 'batas wajar' yang kau karang sendiri. Tumbuhlah dengan belas kasih pada sesama sebagai bentuk ketaatan pada Allah bukan karena kau mengharapkan nilai dari dunia.
Anakku, banyak-banyaklah berkaca pada Rosul kita tentang bagaimana memahami perempuan (umma, adik/kakakmu, istrimu nanti) yang kau cinta. Besarlah menjadi segagah-gagahnya laki-laki yang berdiri tegap membela agamamu, bukan yang dengan ikhlas membela para penista dan pencela. kenali pahlawan negerimu yang dengan pekik takbirnya bergetarlah kemerdekaan di negerimu. Hiduplah dengan pemahaman yang baik tentang orang-orang di sekitarmu. Jadilah lelaki yang terjaga dan menjaga, dirimu dan keluargamu dari panasnya api neraka.

Anak lelakiku, hanya kepada Allahlah kami meminta bimbingan.


Duhai Allah, inilah 'proposal permintaan' untuk anak laki-laki kami. Mohon ridhoi...


-Aldiles Delta Asmara-

'proposal permintaan' bagi calon pemuda kami di hari SUMPAH PEMUDA

Posted by
Aldiles Delta

More

USG 2 (26 Okt 2016)

Bismillahirrahmanirrohim..

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmsholihaat..

Banyak yang bertanya pada umma tentang kamu, "laki-laki atau perempuan?" pertanyaan yang umma belum tahu jawabannya. Pertanyaan yang membuat umma pun ingin tahu hingga menghadirkan rindu. Padahal tadinya umma dan bapak memasrahkan penuh pada Allah, ingin menjaga rahasia ini, ingin menjaga rasa penasaran ini hingga umma bertatap langsung denganmu.

Umma dan bapak berubah pikiran, lagipula mengetahui jenis kelaminmu dari awal bukan suatu dosa kan?? hehehe. Maka hari ini, dengan meminta ridho dari bapak, umma pun USG dengan diantar uwo ke RS. Bukan hanya ingin tahu siapa kamu, tapi lebih terdorong rasa ingin tahu bagaimana keadaanmu.

Perasaan umma begitu bahagia saat mengetahui bahwa kamu tumbuh dengan baik, sehat dan dengan posisi sujud pada Robbmu. Dan, kamu laki-laki, insyaa Allah :)

Bahagia yang entah bagaimana melukiskannya. Senyum-senyum syukur bahkan senyum itu masih membekas ketika umma menulis ini. Uwo pun terlihat sangat bahagia. Kita patut bersyukur ya sayang.

Sayang, umma ingin bercerita sedikit tentang sisi lain dari kebahagiaan yang umma rasakan. Umma bahagia dengan hadirnya kamu, sehatnya kamu dan kabar-kabar kebaikan tentangmu yang lain, tapi ada rasa 'sedih' karena umma membayangkan calon kakak sepupumu. Sayang, sebelum ini kamu punya calon kakak sepupu yang kini sudah di surga. Entahlah, tiba-tiba umma merasa menjadi sangat sedih saat membayangkan mintuwo dan makdangmu pasti dulunya berharap kabar baik saat pertama kali ingin bertemu calon anak mereka, ada perasaan tidak sabar, perasaan segera ingin tahu dan perasaan-perasaan lain yang umma rasakan seharian ini. Tapi apa yang mereka dapat? Qodarullah, ternyata Allah menakdirkan yang lain. Dihari pertama mereka USG, mereka malah mendapati kabar bahwa calon anak mereka sudah tidak hidup dalam rahim mintuwo mu. Ya Allah sayang, umma tak bisa membayangkan kesedihan itu. Pasti hancur dan menyesal berkali-kali meski tak tahu apa yang disesali.


Maka kini, saat umma mendapatimu Allah izinkan tumbuh dengan baik dan sehat, umma benar-benar berlimpah rasa syukurnya, berlapis rasa bahagianya dan berkali-kali senyum merekahnya.

Dan rasa syukur ini yang mengiringi umma untuk melakukan yang terbaik untukmu, untuk keshalihanmu, untuk kehidupanmu. Bantu umma dan bapak ya sayang.


Tetaplah dalam pertumbuhan dan kesehatan serta ketakwaan yang baik.

-Aldiles Delta Asmara-

Ummamu, dalam surat cinta di usiamu yang 26w

Posted by
Aldiles Delta

More

PROPOSAL PERMINTAAN

"Dek, kan bentar lagi jadi seorang ibu, bicaranya dijaga ya, kurangi ngeluh, kurangi ketus, judes, dan lain2. Ganti aja jadi istighfar" -Pesan mama-

Menjadi seorang ibu artinya menjadi "manusia sakti". Yang dari lisannya, kehidupan seorang anak seolah terletak padanya. Baik dan buruk anak tergantung pada ucap saktinya. Kita banyak mendengar ada seorang ulama yang menjadi imam besar masjid di kota suci merupakan dampak dari ucap sakti seorang ibu. Maka, apa yang menghalangimu untuk berkata yang baik pada anakmu jika hal itu adalah yang menentukan masa depan anakmu??

Tak berhenti sampai di situ. Ketika mama menitipkan nasihat yang berharga ini, tiba-tiba jiwa saya menjelajahi waktu. Jika suatu saat nanti Allah beri amanah pada kami seorang anak perempuan, maka semoga Allah bimbing kami agar mengasuh anak perempuan kami menjaga lisan. Agar ia sedari dini hanya mengucapkan kata-kata yang baik yang semoga terbawa sampai kelak mereka menjadi seorang ibu.

Sebab di jaman kini, semakin banyak wanita-wanita yang berkata penuh makian dan hinaan. Saya pernah beberapa kali mendapati siswi saya dengan lancarnya berbicara buruk. Entah bagaimana ia dibesarkan di keluarga, dan entah bagaimana ia akan membesarkan keluarganya nanti. Yang semakin membuat sedih, mereka mengira bicara kasar adalah batas wajar, dan dengan bangga menyebut dirinya 'bad girl'.
Menghina teman, "batas wajar"
Berbicara kasar, "batas wajar'
Pulang malam, "batas wajar"
Pacaran berduaan, "batas wajar"
Membuka aurat, "batas wajar"

Duhai anakku, semoga tak terjadi padamu. Dan semoga kami mampu mengenalkan padamu apa itu "batas wajar" yang Allah ridhoi. Termasuk dalam menjaga ucapan-ucapanmu.

Di waktu yang lain, suami saya pernah berpesan "Adek kan bentar lagi jadi seorang ibu, kalau lagi ngambek atau cemberut tetap doa yang baik ya. Tuh doa adek sekarang banyak diijabahnya sama Allah".

Pesan ini memberikan lagi beberapa hikmah, bahwa wajar jika dalam perjalanan seorang perempuan pasti ada berbagai macam rasa, dan artinya menjadi seorang perempuan haruslah melatih diri agar apapun yang dirasa, jangan sampai mengubah keadaan menjadi buruk dengan ucap yang tidak patut. Saya pernah ngambek sengambek-ngambeknya pada suami yang lembur, pulang malam, entah apa yang waktu itu saya ucapkan, intinya saya ngambek. Dan ngambeknya saya berbuah musibah bagi suami saya yang menyebabkan saya menyesal sejadi-jadinya dan ketika suami sudah sampai di rumah, saya langsung memeluknya sambil berkali-kali minta maaf. Duh, perempuan.

Sejak itu saya melatih diri untuk mengatur emosi dengan sangkaan yang baik dan juga ucapan yang baik agar tak ada musibah yang terjadi karena emosi yang buruk.

Lagi-lagi teringat, betapa pentingnya meminta bimbingan Allah agar kita mampu mengasuh seorang anak perempuan agar mampu mengontrol emosinya. Marah, sedih, kecewa, pasti akan dirasakan oleh anak kita. Hanya saja cara menyelesaikannya perlulah kita bimbing karena kita orang tuanya. Itulah perlunya seorang ibu berlatih mengontrol emosi, sebab sang anak pasti meniru. Artinya, mengontrol emosi bagi seorang ibu adalah cara membimbing anak perempuan agar kelak mampu mengontrol emosi mereka pula. Sebab kini, banyak kerusakan yang terjadi karena perempuan-perempuan tak sanggup mengontrol emosi.

Saya pernah mendapati seorang siswi SMP kelas awal yang marah hanya karena pendingin di ruang belajar rusak. "GIMANA SIH, SAYA UDAH BAYAR, MASA SAYA GA DAPET FASILITAS". lawan bicaranya tentu bukan yang seumur olehnya, tapi jauh-jauh sekali.

PR menjadi ibu banyak sekali ya Diles, mengajarkan anak perempuan kita menjaga lisannya, mengontrol emosinya serta mengajari mereka untuk menerima keadaan dengan hati dan prasangka yang lapang. Agar makian tak terucap, agar hati yang lapang membawa kedamaian untuk sekitar.


Sanggup?? Hanya kepada Allah lah kita memohon bimbingan. Sebab anak kita adalah ciptaan Allah, hati mereka, lisan mereka, dan pikir mereka adalah Allah yang menguasai. Ajukan 'proposal permintaan' anak sedari dini dengan doa-doamu. Sebab mengikuti seminar parenting tak akan cukup menggenggam hati anakmu jika tak kau barengi dengan mengajukan 'proposal permintaan' dalam bentuk doa pada Allah.

Ya Allah, inilah sebagian 'proposal permintaan'ku bagi anak perempuan kami kelak. Mohon ridhoi.

-Aldiles Delta Asmara-

'proposal permintaan' untuk anak laki-laki segera dibuat.

Posted by
Aldiles Delta

More

Guru

Banyak beredar video ketidaksopanan murid kepada gurunya, dengan caption makian. Anak-anak seperti itu tidak perlu dimaki, cukup dicintai. Mereka kenyang dengan makian dari segala penjuru hingga berlaku seperti itu bagi mereka bukan hal baru.

Mau menasihati?? Mereka lebih kenyang lagi. Kalau menurut ajo Bendri ikatlah hati sebelum menasihati. Jadi sebelum menasihat, mari mencintai.

Sebagai seorang guru, saya pernah beberapa kali merasakan kejadian serupa. Badan didorong keras disertai tatapan galak oleh seorang anak kelas 5 SD, diancam dilaporkan ke polisi oleh anak kelas 6 SD, diamuk dengan banting kursi di depan saya, juga oleh anak kelas 6 SD. Baper? Jelas, rasanya gemes banget pengen jitak dan nabok balik bahkan pengen banget bilang "Besok jangan belajar sama saya, cari sana guru yang lain!".

Tapi saat berada di tengah kejadian itu, rasa iba lebih banyak muncul. Ketika mereka berbicara melotot sambil menunjuk-nunjuk muka saya, yang hadir di benak justru sesosok anak kecil yang teramat ketakutan karena sering diperlakukan seperti itu, hingga tanpa sadar ia merefleksikan ulang pada saya.
Jadi apa yang harus dilakukan?
TENANG dan CINTA.

"Kamu gak suka sama kakak? Oke gapapa, tapi kamu bisa kok bicara yang lembut tanpa harus kasar begini, yaudah kalo kamu udah tenang, kakak ada di ruang pengajar".

-jalan ke ruang pengajar sambil nahan air mata-

Qodarullah, 10 menit siswa tersebut menghampiri saya dan keluarlah semua keluh kesahnya. Pertemuan-pertemuan berikutnya, sikapnya berubah layaknya bayi. Bicara manja khas anak-anak yang ga mau lepas. "Aaaa kakak, ayo kita belajar". 😍

Intinya jangan pernah memarahi balik, jangan pernah membuat tembok penolakan pada, jangan pernah mengasingkannya dengan label "anak nakal". Karena tanpa kita beri label, mereka sudah kenyang dengan label yang sudah telanjur menempel pada mereka.

"Hai anak baik" Sapa saya suatu hari pada siswa SMP.

"Kakak salah, sangat salah, saya ini anak nakal, kakak gak usah bohong. Semua orang juga bilangnya saya nakal."

Konsep diri yang negatif mungkin salah satunya tercipta karena label dari kita. Padahal mereka masih sangat berpeluang menjadi baik.

Si bocah SD yang pernah mengancam akan melaporkan saya pada polisi, di akhir pertemuan ajaran beberapa bulan setelahnya dia bicara dengan bahasa khas ala anak-anak. "Kakak, waktu itu aku pernah ngancem-ngancem kakak ya, hehehe maapin aku ya kak. Ya ampun, malu ih ngingetnya kenapa bisa begitu".

Beri mereka porsi cinta, meski makan hati. Jangan jadi orang dewasa yang menambah luka anak-anak. Maka cinta kitalah yang dapat menuntunnya ke dalam cahaya. Dan itu sebaik-baik karunia yang Allah titip pada kita. SEMOGA.

*Sesedih-sedihnya dimaki sama murid, lebih sedih lagi saat justru melihat murid yang baik di depan, nurut, kelihatan baik-baik saja bahkan berprestasi, tapi saat tak di depan kita, mereka justru menikam dengan perilaku mereka yang bermudah-mudah membuka aurat, bergaya tak pantas dan melepaskan kehormatan mereka. Sakitnya lebih dalam. 😩

Wahai guru, PR kita masih banyak.

-Aldiles Delta Asmara-

catatan untuk nabok diri sendiri, jangan ikut-ikut menilai mereka buruk.

Posted by
Aldiles Delta

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger