Senin, 29 Juni 2015

Ternyata masih pura-pura


Bismillahirrahmanirrohim..


Minggu, 28 Juni, dengan disengajakan dan sudah diatur perjumpaannya oleh ALLAH, saya bertemu dengan seorang ustadz yang begitu tawadhu, begitu berkarisma, begitu sederhana. Hingga terlibatlah obrolan di antara kami. Awalnya hanya percakapan biasa, mengenai pekerjaan, usia, hingga status :D

Kemudian pembicaraan berlanjut dengan pertanyaan dan jawabannya yang sedikit namun menusuk ke naluri terdalam hingga membuat mata saya tiba-tiba berembun.

“kamu ngerjain tahajud gak?” Tanyanya.

“Alhamdulillah ustadz”

“berapa rokaat?” Tanyanya kembali.

“dua ustadz”

“(tepok jidat) innalillahi, cuma duaa???” Ekspresi ustadz dari jawaban saya.

Saya kaget dengan keterkejutan ustadz, hingga saya bertanya ‘apa yang salah dari jawaban saya?’

Seolah tahu apa yang saya pikirkan, kemudian sang ustadz melanjutkan pertanyaan..

“kamu pernah mencintai anak-anak gak? Murid kamu gitu”

“iya ustadz, saya mencintai dunia anak-anak”

“Harusnya pada Allah melebihi itu” jawabnya datar namun mengena.

Ustadznya cuma menasehati dengan satu kalimat tersebut, namun bagiku itu bagai nasehat yang banyak. Dari satu kalimat itu seolah berkata:

“Allah yang kasih kamu kebahagiaan, bukan anak-anak, harusnya bisa lakukan yang terbaik untuk Allah” atau

“masa untuk Allah cuma melakukan seminimal-minimalnya ibadah sih?”

dan juga seolah berkata:

“antara nikmat Allah yang begitu banyak sama kamu, kamu cuma ngerasa cukup dengan 2 rakaat”

Juga “banyak yang kamu minta kan dari Allah? Tapi kok cuma lakukan yang sedikit”.

Bagai paham dengan yang saya renungi, kemudian sang ustadz melanjutkan nasehatnya “bapak yakin kamu punya ilmunya, kamu paham gimana menjalankannya, bisa kan memberi Allah yang lebih???”

***

Ya ALLAH, ternyata selama ini aku masih pura-pura cinta
Belum mampu memberikan semaksimalnya kedekatan dalam cinta
Banyak pinta namun menyedikitkan ruang kesempatan untuk menjalin kata-kata mesra
Nikmat menggunung tinggi tapi syukur mewujud sepi, sedikit, terhitung dengan jari

 
Ya Allah, ternyata selama ini aku masih pura-pura cinta
Lisan yang berkata cinta tapi hati perlahan mendustainya
Masih pura-pura

Hingga dekat denganMu masih tawar menawar
Hingga bermunajat denganMu belum seujung kuku wujudnya

Hingga mencintaiMu tampak betul baru sekadar kata
Bukan nyata, mewujud tiada lelah dalam berdua, berdekat manja padaMu

 
Masih pura-pura
Sedang cintaMu begitu nyata
Sedang kasihMu tiada terhitung juga
Sedang nikmatMu, mampukah aku mendustainya???

 
Mohon ampuni kepura-puraanku duhai Robb yang cintaNya tiada berpura-pura
 

-Aldiles Delta Asmara-

Mari tiada lelah meminta nasehat pada orang sholih.

Minggu, 28 Juni 2015

Tak ada

Kemarau adalah duka, ketika kau tanpa sengaja mengabaikanku yang terselimuti rasa..
Tak ada yang perlu ku tanyakan padamu..
Tentang sapa yang tak lagi hangat
Tentang tatap yang kini apa adanya

Hanya memintal benang-benang harap yang bukan lagi padamu, yang memang semestinya tidak padamu, sedari dulu.

-Aldiles Delta Asmara-

Sabtu, 27 Juni 2015

Sibuk

Kita sama-sama sibuk
Tidak, mungkin hanya aku yang sok sibuk
Hingga pertemuan bagai mimpi..
Mengupayakan, namun tak lama melepaskan.
Begitu, seterusnya..

Tentang meluangkan, siapa yang semestinya berkorban?
Memperjuangkan
Memaksakan
Menguatkan
Mungkin semestinya aku
Bukan kamu..

Kita sama-sama sibuk..
Hingga sampai kini, tak kunjung berujung temu.

-Aldiles Delta Asmara-

Kamis, 11 Juni 2015

Saling Jaga

Kejahatan bukan hanya ketika kamu melakukan pencurian, perampokan, pembunuhan dan kezholiman lain. tapi kejahatan juga ketika kamu tidak membantu saudarimu untuk menjaga hatinya. Dari pandangan buruk orang lain, dari fitnah-fitnah yang akan menimpa, termasuk dengan kejahatan jika membuat kerusakan dihatinya. Ini bukan berarti saudari tersebut tak bisa menjaga hati, ini terlebih menjauh dari segala godaan-godaan setan. Dan kamuuuuu, kamu saudaranya setan atau saudaranya kita haaa???

*kesel *marah

Kalo ga bisa menjaga hati sendiri, setidaknya jangan mengotori hati saudara yang lain yaaa, saling jaga, saling jaga...

Astaghfirullah..

Berlindung kepada Allah dari segala godaan setan yang terkutuk.

Sebarkanlah pernikahan

A'linuu an nikaah - sebarkanlah pernikahan...  ini shahih, ibn hibban, ahmad, tirmidzi, dan lain-lain. Sedangkan menyembunyikan khitbah adalah perilaku para sahabat sejak dulu. -Ustadz Farid Nu'man-

Rabu, 10 Juni 2015. Kami dikejutkan dengan kabar gembira seorang saudari (yang tidak ikut serta dengan kami) bahwa ia akan melangsungkan pernikahan, pekan ini. Kejutan yang sengaja dibuat gembira lebih tepatnya, karena diawali dengan kejutan kekecewaan. Apa sebabnya? Kami iri? Oh bukan. Tak boleh iri dengan takdir orang lain. Ini terlebih disebabkan rasa kecewa seorang saudari yang ternyata tidak mendapat kabar apapun tentang hari bahagia. Meski keterkejutan kami langsung diiringi istighfar, karena tahu bahwa kecewa ini tak boleh ada. Sebab memang, menyembunyikan khitbah adalah perilaku yang dicontohkan para sahabat Rosulullah. Dan kami, ingin meneladaninya.

Tapi ternyata, kegembiraan kami terasa betul sengaja diciptakan, karena setelah pembahasan berganti, kami seakan tetap ingin mengembalikan pembahasan itu sambil mengevaluasi. Ternyata sisi manusiawi itu akan tetap ada ya. Sisi di mana kita ingin kabar baik tentang saudari terdengar langsung dari dirinya dan bukan di detik-detik hari terakhir. Sekeras apapun kami menampik rasa kecewa untuk segera diubah menjadi gembira dan bahagia, rasa itu tetap ada. Dan kemudian kami menyandarkan kecewa kami dengan kata "manusiawi ya". Duh Robbi, bantu kami meneladani pendahulu kami.

Kini saya mengerti rasanya ketika dulu ada seorang saudari yang terang-terangan protes karena tak diberi kabar pernikahan saudarinya jauh hari. Padahal dulu saya memandang remeh dengan menganggap "loh, kenapa dia marah? Kan yang Rosul anjurkan untuk disebarkan adalah pernikahannya, bukan prosesnya". Saya menyesal telah memandang dia dengan buruk. Tiba-tiba saya teringat nasehat seorang kakak, bahwa dalam menjalin persaudaraan, kita harus tahu betul apa hak saudari kita dan apa kewajiban diri kita (jangan dibalik). Salah satu hak saudari adalah mendapatkan kabar bahagia tentang kita lebih dulu dari orang-orang lain. Maka mengabarkan hari-hari bahagia kepada mereka adalah kewajiban kita. Untuk apa? Setidaknya untuk membuat mereka bahagia dan berharga karena menjadi orang pertama yang tahu tentang hari bahagia saudarinya. Bukankah membahagiakan orang lain juga suatu kebaikan? :)

Hal ini bukan berarti bahwa kita boleh menyebarkan proses khitbah kita pada banyak orang dengan dalih "dia saudari kita", apalagi sampai menyebarkan di akun personal media sosial kita dan ditambahi panggilan-panggilan mesra, duh naudzhubillah. Pilih saudari yang bukan sembarang saudari, tapi saudari yang sudah dekat dan melekat. Tanya dalam hati, kamu pasti tahu mana yang layak tahu dan mana yang tak patut diberi tahu. Karena bagaimanapun, khitbah tetap perlu dirahasiakan, khitbah bukan kepastian kehalalan.

Merahasiakannya dari yang tidak perlu tahu adalah jalan untuk menjaga hati sebelum hari yang dinanti. Dan sebagai saudari yang diberi tahu, sssssttt pegang erat rahasia ini sampai ia benar-benar mewujud nyata dalam sebingkai kartu bertuliskan dua nama yang disebar ke seluruh penghuni bumi dan langit beserta isinya. Tugas sebagai saudari untuk menjaga saudari yang berbahagia harus tetap terlaksana dengan tidak bocornya kabar sebelum waktunya.

Tapi, hindari juga untuk memaksa saudari bercerita tentang hari bahagianya jika memang dia masih ingin merahasiakannya darimu. Muhasabahi diri, mungkin memang kita tak layak untuk tahu lebih dulu, baik sangka pada ia. Jangan pernah meminta hak kita sebagai saudari, tapi dahulukan pula hak dia dalam memilih orang yang tepat untuk diberi tahu. Hanya butuh waktu, percayalah suatu hari ia pun akan memberi tahu.

Saya jadi haru, mengingat banyak saudari yang tanpa saya minta tiba-tiba memberi tahu bahwa dirinya sudah dikhitbah dan akan menikah tanggal sekian bulan sekian. Jazakumullah atas kepercayaan yang tidak diminta ini. Semoga Allah jadikan saya agar amanah.

Segala puji bagi Allah yang telah memberi hikmah dari kecewa. Karena sampai di detik tadi saya sudah berikrar untuk tidak memberitahukan saudari-saudari terdekat saya tentang segala prosesnya, dengan alasan mengurangi kecewa jika memang belum waktunya. Tapi tampaknya, ikrar itu harus direvisi :)

*** catatan ini bukan pertanda akan ada kabar bahagia dari penulis dalam waktu dekat :) :) :)

Yang masih selalu minta untuk didoakan dalam diam di gelapnya malam -Aldiles Delta Asmara-

Senin, 08 Juni 2015

Sebelum mitsaqon golidzo

Seperti katamu kala itu..
Bahwa wanita dengan mudah menitipkan rasa pada lelaki yang membuatnya nyaman.

Kau perlu tahu, bahwa kau terlalu cepat menilai wanita. Tak semua seperti itu.

Karena bagiku, nyaman tanpa 'perjanjian yang berat' tak kan mungkin ku dapat.

Ini bukan tentang aku ingin dinilai beda dari wanita kebanyakan. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa ada sisi dari wanita yang akan tetap menjadi rahasia dan akan tetap rahasia hingga mitsaqon gholidzo terucap, sekeras apapun kau berusaha membuatnya nyaman agar teorimu tak terbantahkan.

Maka menitipkan rasa, tak semudah yang kau kata.

Dan kini izinkan aku berucap, kau hanya sok tahu, tentang aku dan berderet-deret wanita yang menjadi penilaianmu.

Kamu, jangan marah ya :)

-Aldiles Delta Asmara-

Minggu, 07 Juni 2015

B.E.L.A.J.A.R

Ternyata saya masih harus belajar menjadi ibu. Kesimpulan kemaren sore saat mengamati kakak ipar saya memperlakukan anaknya. Ternyata memang ada beda antara 'ande' atau tante, dengan bunda. Seorang ande memang sangat berbahagia jika melihat keponakannya tertawa renyah, seorang bunda juga berbahagia, lalu apa bedanya?

Seorang bunda, bukan hanya menginginkan tawa dari wajah mungil anaknya, lebih dari itu, seorang bunda ingin agar anaknya mampu membahagiakan diri sendiri. Seorang bunda akan membimbing, mengajari, dan menyertai seorang anak untuk mampu membahagiakan diri dalam hidup yang amat singkat, hidup yang berjalan sesuai arahanNya.

Berbeda dengan seorang ande, yang rela berlelah diri mengulang-ulang, lagi dan lagi agar keponakannya tertawa. Lupa bahwa suatu hari keponakannya harus bisa melakukan sendiri, agar selanjutnya mampu membahagiakan orang terkasih yang berada di sekelilingnya. Ah ini bedanya.

Saya masih harus banyak belajar menjadi bunda, menjadi ibu, menjadi ummi, menjadi umma, menjadi ande. Agar bukan hanya mampu membahagiakan namun juga mampu mengajak ia untuk juga membahagiakan diri dan orang-orang sekitarnya.

Semoga Allah memberikan karunia kesabaran dan kesyukuran dalam diri agar tetap mau belajar tiada henti.

-Aldiles Delta Asmara-

Catatan spesial untuk Akram dan juga Bundanya.