Minggu, 26 Juli 2015

Merasa, dan mengakui rasa. Apa bedanya?

Suatu hari...
"Kamu lebih pilih mana: Merasa bersalah atau mengakui perasaan kalau memiliki salah?"

Bahwa setiap hamba Allah yang memiliki nurani akan selalu bisa merasa bersalah, bersalah atas sikap, bersalah atas ucap, bersalah atas segala yang tak terungkap. Sekadar merasa, apa susahnya?


Lain hal nya dengan 'mengakui perasaan kalau memiliki salah', butuh keberanian yang dilatih berkali-kali, berulang-ulang dan sesering mungkin. Ia bukan spontanitas belaka suatu kata bahwa "oh iya, salah bersalah" tapi lebih kepada; saya salah, dan saya ingin memperbaikinya.

Bagai Abu Dzar Al-ghiffari yang meletakkan kepalanya di tanah berdebu sebagai sebuah pengakuan atas kesalahan dalam berkata pada sahabatnya, Bilal. Ia mengakui, bahwa baru saja dirinya melakukan cela atas ucap yang menyakiti Bilal, tidak hanya sekadar merasa bersalah, tapi ia nya mengakui bahkan meminta Bilal untuk membalas segala ucapannya dengan menginjak kepala Abu Dzar sebagai sebuah penebusan dosa.

Dan ada kah kita berani mengakuinya?

Diakui atau tidak, dalam proses 'mengakui kesalahan' kita membutuhkan seorang saudara yang mampu menjadi alarm nasehat yang dapat menyala ketika kita khilaf sedikit saja, dalam sikap, ucap, bahkan tatap. Saudara, yang Allah pilihkan untukmu, yang engkau cintai karena Allah, dan kaupun dicintai olehnya juga karena Allah. Seperti halnya Abu Dzar yang diingatkan langsung oleh Rosulullah dengan ucap "dalam dirimu masih terdapat unsur jahiliyah",semoga begitu pula engkau dengan saudaramu. Saudara yang bukan hanya mendukung kemarahan-kemarahanmu, saudara yang bukan hanya mendengar tiap keluhmu, saudara yang bukan hanya mengikuti alur sedihmu. Tapi saudara yang berhasil membuat kita mengakui kesalahan dan dengan santunnya berucap..

"Aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan, hingga aku pun mendapati nasehat untuk membaca firmanNya Q.S Al-Imron: 133-140, semoga mentadabburinya adalah jawaban dari tiap masalahmu".

('Āli `Imrān):135-136 Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.


Akui salahmu, perbaiki dirimu, hingga surga dirasa begitu dekat karena ampunanNya.

*nasehat untuk mentadabburi ayat-ayat ini tak akan berhenti hanya sampai diri ini, akan berterusan, akan berkelanjutan, sebagai penentram bahwa surgaNya terbuka selalu, bagi jiwa-jiwa yang berani mengakui kesalahan dan berikhtiar memperbaiki keadaan.

Jazakumullah khoiron, atas tanya yang berkelanjutan sebagai perenungan hingga menciptakan suatu nasehat, pun suatu pengingatan bahwa dalam kitabNya tersimpan segala rumus kehidupan.

-Aldiles Delta Asmara- yang mendapat tanya dari mba Nunu Karlina, dan mendapat nasehat dari Khaerunnisa yang sebelumnya ia dapat juga dari mba Nunu Karlina :D

Selasa, 21 Juli 2015

Saya -tidak toleran-

Bicara toleransi, saya adalah hamba Allah yang paling tidak toleran. Ets tapi ini tentang dunia maya saja kok. Saya bukan termasuk pengemis followback dalam tiap akun sosmed yang saya punya, karena bagi saya, memfollow adalah meminta manfaat, jadi kalau saya tidak difollow, artinya saya tidak bermanfaat, tapi saya akan tetap follow dia, siapapun orangnya, jika saya rasa akun tersebut manfaat buat diri saya.

Banyak yang bilang, suka-suka si pemilik akun yaa mau posting apapun di 'rumah' mayanya. Artinya suka-suka saya juga untuk memilih siapa yang layak singgah di beranda 'rumah' saya. Jika kedapatan si pemilik akun selfie dengan benar-benar muka dan dimain-mainkan, maka mohon maaf, tombol unfoll selalu jadi pilihan. Termasuk jika akun tersebut namanya alay, atau bahkan seringnya curhat dan 'buang sampah' doank (padahal ini curhat ^^v ). Yang begitu saja langsung saya unfoll apalagi jika akun menghina Islam, memposting hal-hal yang Allah murkai, mengadu domba, dan kejahatan-kejahatan yang serius plusss kalau akun tersebut selalu komen dengan komen yang tidak beradab. Maaf.

Saya teringat pesan seorang teman yang bilang "ini akun lo, lo berhak ngapain aja, jangan buka keran, terlebih dari lawan jenis"

Jadi maaf kalau yang tiba-tiba tidak menemukan nama saya dalam daftar followers kalian. Hehe, sok keren kan saya? Emang.

Begitupun dengan dunia perpesanan. Tanpa ragu, saya akan mengklik tombol left pada tiap grup yang bagi saya ga manfaat, cuma haha hihi.

Jadi maaf betul, leftnya saya, unfollnya saya, unfriendnya saya, tidak semata-mata karena saya benci. Hanya sekadar menjaga hati, karena jika bukan diri sendiri yang jaga, siapa lagi? Silaturrahim akan tetap berjalan dengan jalur pribadi dan pertemuan langsung, insyaa Allah. Karena mengunfollow, unfriend, dan left bukan berarti memutus silaturrahim, semoga tidak ada prasangka setelah ini.

Mohon maaf atas ketidaktoleran ini.

-Aldiles delta asmara-

Minggu, 19 Juli 2015

Menghafal Al-qur'an semudah tersenyum

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Ada yang berbeda dari i'tikaf 10 hari terakhir di masjid At-tin tahun ini. Sejak tahun 2012, saya dan mama sudah rutin tiap harinya di 10 hari terakhir ramadhan untuk beritikaf di sana. Kegiatan yang tak berbeda pada umumnya dari tahun ke tahun. Bakda sholat taraweh dilanjutkan dengan kajian sampai kira-kira jam 22.00 untuk kemudian lanjut qiyamul lail jam 02.00

Tapi tidak untuk tahun ini, selepas taraweh ada kegiatan menghafal Alquran terlebih surat An-Najm dengan tema "menghafal alqur-an semudah tersenyum". Jama'ah sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut, terlebih dimalam 26 sampai malam 29 akan ada perlombaan menghafal surat An-Najm yang berhadiah umroh. Wah masyaa Allah. Banyak sekali yang ingin mengikuti perlombaan tersebut meskipun seleksinya susahnyaaaaa masyaa Allah. Jama'ah bukan hanya diminta untuk membacakan surat An-Najm sampai selesai, tetapi juga menghafal plus arti, bukan lagi arti tiap ayat, tapi arti tiap kata. Susah.

Maka jama'ah dibuat berdecak kagum diiringi takbir berkali-kali ketika melihat ada peserta yang dengan mudahnya menjawab semua pertanyaan yang diajukan sang ustadz. Seolah berkata, ini adalah keajaiban al-qur'an, karena begitu mudahnya dipahami. Plus membuat sebagian yang masih bermalas-malasan menghafal malu karena masih abai dalam kewajiban menjaga al-qur'an.

Suatu pagi saat berada di parkiran motor masjid At-tin, saya mendengar dua orang pemuda terlibat pembicaraan serius mengenai perlombaan berhadiah umroh ini. Pemuda 1 berkata:
"kita hafalin An-Najm yuk, siapa tau kita bisa dapet umroh".
Pemuda 2 membalas "hei kalau gitu, niat menghafalnya bukan lagi karena Allah, ayo lurusin niat".

Saya langsung tertegun mendengar pernyataan pemuda 2. Banyak sekali godaan-godaan dalam menghafal al-qur'an, salah satunya adalah hadiah-hadiah dunia yang diberikan kepada para penghafal. Bulan ramadhan ini Allah beri kesempatan pada saya dan teman-teman untuk menjadi kakak mentor dalam program hafizh quran di Trans7, betapa kami berkali-kali mengingatkan pada mereka bahwa tujuan menghafal adalah menjadi juara di hadapan Allah, bukan untuk juara diacara ini.

Berkali-kali, karena seringnya terlihat niat yang agak berbelok dari para hafizh cilik. Kami hanya takut, motivasi mereka menghafal bukan karena Allah, tetapi hanya karena ingin juara dalam acara ini. Alhamdulillah, mereka paham, dan berjanji bahwa program menghafal mereka tak akan berhenti meski mungkin tidak juara dalam acara ini.

Sulitnya menjaga niat, setan begitu jahatnya membuat kegiatan baik jadi hangus hanya karena salah niat. Dan salah satu sebab hafalan bisa tetap melekat adalah dengan meluruskan niat. Saya berkesempatan mewawancarai salah satu penerima umroh dari program menghafal di At-tin. Yang menjadi pertanyaan inti saya adalah "amalan rahasia apa yang membuat kamu bisa mendapat anugerah Allah menuju rumahNya". Jawabnya "ga ada amalan khusus, yang terpenting adalah menjaga hati saat menghafal al-qur-an, menjaga hati dari niat yang salah, serta menjaga hati dari keburukan-keburukan lainnya".

Masyaa Allah, semoga Allah tak salah memilihmu menuju rumahNya duhai saudari.

"Menghafal Al-qur'an itu mudah, yang sulit adalah menjaga hati agar gak pamer kalo sudah punya hafalan". Tambahnya, yang membuat saya dan teman-teman yang bersamanya saat itu merasa ditampar berkali-kali.

Semoga kita mampu, menjadi penghafal al-qur'an yang terjaga keikhlasannya, agar kelak di hari akhir nanti, kita bukan salah satu makhluk yang bangkrut amalnya hanya karena salah niat. Aamiin, insyaa Allah..

Ya Allah.. curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al-Qur’an, dan jadikan Al-Qur’an sebagai pemimpin, petunjuk, dan rahmat bagiku.

-Aldiles Delta Asmara-
3 Syawal dengan azzam yang baru.


Sabtu, 18 Juli 2015

Kriteria mama, kriteria surga :)

Cerita syawal..

Syawal adalah bulan silaturrahim, yang biasanya ga pernah mampir dan singgah ke rumah, yang biasanya rumah selalu sepi, tiba-tiba rumah ramai dengan tingkah laku anak-anak yang berkejaran, berlompat-lompatan di kursi, naik turun pagar rumah, dan segala tingkah yang sukses bikin rumah berantakan. Itu yang dilakukan anak-anak, bagaimana dengan yang dewasa?
Bisa ditebak, pembicaraan pasti tak jauh dari pertanyaan "ayo diles, kapan nih menikah?" Tapi yang jadi fokus utama tulisan ini bukan pertanyaan itu ya :D

Hari ini, ada seorang abang yang silaturahim dengan terlebih dulu berbasa-basi dengan pertanyaan yang nyaris sama. Tapi ini bukan sekadar basa-basi, abang tersebut ternyata menyelipkan satu kandidat yang dimata dia cocok untuk jadi suami saya. Dengan semangat dia mempromosikan bahkan dengan jaminan bahwa lelaki ini udah sangat layak.

"Dia udah punya DUA rumah dek, kerjanya udah mapan, kalo Diles mau sama dia, Diles ga usah kerja, tinggal duduk-duduk aja. Dia ini teman abang, minta abang cariin, dan abang inget Diles".

"Hehe, tanya mama lah bang, Diles mah yang disetujui mama aja"

Jawaban nyari aman sebenarnya, karena saya sama sekali ga tergiur dengan apa yang dipromosikan, tapi ada rasa ga enak untuk terang-terangan menolak. Selanjutnya abang ini bertanya sama mama, daaannnn jawaban mama bikin saya haru :')

"Dia ngerokok ya? Enggak deh". Jawab mama, yang tampak bahwa lelaki sholeh itu penilaian pertama dari rokok, kalau dia merokok, coret sudah dari daftar kriterianya mama.

Kemudian mama melanjutkan "Meski punya dua rumah, kalo enggak sholeh ga usah. Kita gak selamanya tinggal di dunia, lagi pula, punya dua rumah bukan berarti juga punya rumah di surga kan?"

Huaaaaa, super sangat terharu dengernya. Saat dengar penolakan mama, saya benar-benar merasa bahwa mama adalah pelindung, penyelamat, penenang gelisah dan kunci surga. Bersyukur sekali, kriteria mama kini adalah kriteria surga, bukan lagi tentang dunia dan isinya. Terlihat betul, mama sama sekali tidak tertarik.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menganugerahi kepemahaman yang baik pada mama. Semoga Allah mewujudkan segala keinginanmu ma.


-Aldiles Delta Asmara-
Syawal yang penuh kejutan :D

Jumat, 17 Juli 2015

TakdirMu, memesona

Awalnya saya pikir, beruntung sekali jadi Dila, 24 jam bersama menikmati tawa ceria Rafa dan Raisya, menebarkan kasih, memandangi tingkah, menyenandungkan kisah... ah bahagianya..

Namun ternyata, Dila pun menganggap beruntung sekali jadi Diles, masih berkali-kali berkesempatan meraba tiap ayat yang dibaca mama, berdiri bersebelahan bergandeng tangan menuju masjidNya, menyicipi tiap masakan yang diracik bumbu cinta.. ah bahagianya..

Adalah tarbiyah Allah dalam membuat takdir beda antar kita, menjadikan kita semakin percaya, bahwa bahagia adalah hidup berjalan bersamaMu, mengikuti syariatMu, memainkan peran yang tercipta dariMu, bersyukur atas tiap bahagia karenaMu, bersabar mengikuti tangis ujiMu.

Membuat kami sadar, bahwa tiap lekuk bahagia tercipta karena memaksimalkan betul bakti kami sebagai hamba, menjadi ibu, menjadi anak, menjadi manusia.

Ilahi, semoga sadar ini benar2 membuat kami mengimani, bahwa takdirMu begitu memesona :)

-Aldiles Delta Asmara- 1 syawal dalam syukur akan tiap garis indah takdirMu

#tulisan #syukur #sabar #takdir #bahagia

Kamis, 09 Juli 2015

25 tahun, surga kah aku?

Ayah, Mama, surgakah yang ku persembahkan untukmu??

9 Juli 2015
Melahirkanku dengan berpayah yang berlipat-lipat, menyesalkah kini setelah 25 tahun?
Tanya yang menunggu upaya dalam jawabnya. Kami tahu, duhai yang surgaku berada di kakimu, kebaikan-kebaikan yang kami(anak-anakmu) lakukan, tak seberapa besarnya dari kebaikan yang kau persembahkan untuk kami.

Dunia dan seisinya kami yakin tak sanggup membayar dukamu, lukamu, perihmu dan air matamu. Hanya surga. Yang mampu melepas penatmu, yang menjadi harapan-harapanmu. Dan semoga, menujunya adalah melalui kami, anak-anakmu.

Surgakah aku untukmu??
Dan tanya itu berjawab peluk hangat darimu :)

-Aldiles Delta Asmara-

Ada waktu-waktu mustajab yang Allah berikan untuk berdoa, sayangnya hari lahir bukan salah satunya. Beruntung, 9 Juli tahun ini bertepatan dengan ramadhan, salah satu waktu mustajab dalam berdoa. Jazakumullah khoir. Mohon tetap doakan segala kebaikan dalam waktu mustajab meski bukan di 9 Juli.

Senin, 06 Juli 2015

Gooooo jek

Tulisan pembuka dibulan Juli, mau bahas yang ringan-ringan aja, bahas pembahasan yang lagi kekinian. GOJEK

Gojek lagi naik daun, apalagi dengan promo romadhonnya yang dalam jarak kurang dari 20km dihargai cummmmaa 10000, sadis ga tuh? Padahal kalo naik angkot, 10000 cuma sampe mana sik? Nah karena kemurahan harga ini, beberapa hari ini saya mengaku khilaf. Khilaf karena mengendurkan prinsip, prinsip untuk tidak boncengan dengan non mahrom, meskipun abang ojek sekalipun.

Meski memang sampai saat ini saya tidak pernah menggunakan jasa si abang gojek karena masih dianugerahi motor, tetapi kekhilafan saya terjadi karena menyarankan teman-teman akhwat saya untuk memanfaatkan jasa ini, duh :(

Harusnya jika saya memiliki prinsip, prinsip itu bukan hanya untuk diterapkan pada diri pribadi, tapi juga untuk orang-orang sekitar. Tapi kok ini malah menyarankan hanya karena biaya yang dikeluarkan cuma 10000.

Iya jadi ceritanya, banyak teman-teman akhwat saya yang masih tidak berani mengendarai motor sendiri, saat itu dalam keadaan sulit angkutan umum. Saya langsung menyarankan "naik gojek aja, cuma 10000 ribu kok", saran ini bukan sekali saya keluarkan, tapi berkali-kali, dan baru saya sadari kekeliruannya. Mending kalau supir gojeknya perempuan, tapi sekitar tempat saya, hampir tidak pernah saya melihat supir gojek yang perempuan. Maka jelas, menyarankan naik gojek adalah kekeliruan, setidaknya bagi diri saya sendiri.

Teman, maaf ya sebagai saudari saya belum sepenuhnya menjagamu, bahkan penjagaan dalam saran pun masih keliru saya lakukan.
Teman, semurah apapun ongkos gojek, tetap ya, abang-abang gojek itu non mahrom untuk kita duduk bersama dalam satu motor.

Maka upayakan, untuk tidak berboncengan, karena masih ada dan banyak kendaraan umum.
Maka upayakan, untuk menjaga diri dari apapun celah syaiton dalam menggodamu.

Saya bersyukur, teman yang saya sarankan tadi, gak mengikuti saran saya :D

Maaf ya abang gojek, tidak bermaksud untuk mengganggu pemasukanmu. Murni karena ingin menjaga saudari-saudari saya.

-Aldiles Delta Asmara-