Jumat, 28 Agustus 2015

SURGA YANG DIRINDUKAN

Tugas kita hanya taat, meski karakter bawaan kita mungkin ingin menolak. Menolak taat dengan berburuk sangka, menolak taat dengan kedzholiman yang nyata, menolak taat dengan berbagai alasan yang disengaja.

Tugas kita hanya taat. Dalam lapang maupun berat. Karena taat tak pandang tempat. Tak pandang keadaan. Harus tetap taat pada tiap takdir yang ditetapkan.

Tugas kita hanya taat. Bagai nabi Sulaiman yang tetap taat meski balutan harta, tahta, dan rupa begitu memikat. Akan berat jika ia tak dibalut dalam taat. Dan Fir'aun adalah cerminan, tentang balutan harta, tahta, rupa namun menolak taat. Ditenggelamkan dalam lautan. Begitupun dengan Qarun sang hartawan yang juga menolak taat, ia kata "semua ini karena upayaku". Lupa bahwa ada Allah pemilik kehidupan, dan karakternya pun memilih memberontak. Hingga dibenamkan dalam tanah yang gelapnya tindih bertindih.

Tugas kita hanya taat. Bagai nabi Ayub yang tetap taat meski diuji teramat berat. Sakit, miskin, dan ditinggalkan terkasih. Ia tetap memilih taat, dalam puji maupun uji. Adakah ujian kita lebih berat darinya?
Akan berat jika ujian tak disertai dalam taat. Akan memaki tanpa membenahi, akan melaknat tanpa menginsyafi, akan mendurhakai tanpa memuhasabahi. Dan ketidaktaatan takkan mengubah takdir menjadi lebih baik. Maka taatlah, meski karakter kita betul-betul ingin menolak.

Dan jika suatu hari, jiwa-jiwa kita telanjur menolak taat, maka kembalilah dengan jalan taubat. Bagai nabi Musa, kembali pada Robbnya dengan penuh sesak di dada menyebut-nyebut segala khilaf, berdoa penuh khusyu lagi dengan sesal yang berjejalan.
(Al-Qaşaş):16 - Musa berdoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku".

Maka kembalilah dengan jalan taubat. Bagai nabi Yunus yang "melarikan diri" dari amanah memperbaiki umat, marah disertai ancaman yang menyayat. Kemudian sesal hadir, dengan pengakuan zholimnya diri, bukan zholimnya umat.
 (Al-'Anbyā'):87 "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".

Laaaaaa ilaaha illaaaaa anta subhaanaka inni kuntu minadzhoolimiiin.

Pintu taubat terketuk, diselamatkannya nabi Yunus dari uji yang berlapis-lapis. Serta setelahnya, kembali dalam umat yang juga dalam keadaan taubat, menuju taat.

Tugas kita hanya taat, meski ada bisik-bisik bahwa kita bukan malaikat yang selalu taat. Karena kita manusia lah maka ditugaskan untuk taat, bukan disifati taat seperti malaikat. Maka berupayalah dalam menjalankan tugas menjadi taat, karena kitapun bukan iblis yang menolak taat kan?

Tugas kita hanya taat, untuk SURGA YANG DIRINDUKAN.

(Al-Baqarah):25 - Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu"...


-Aldiles Delta Asmara-

Selasa, 25 Agustus 2015

-koma-

Datanglah pada malam tempat kau semayamkan harapan.
Mendengungkan bisik-bisik dalam kemarau panjang kerinduan tak berkesudahan.
Kerinduan yang hanya Ilah yang tau penawar peredamnya.

Allah Maha Tahu,
Katamu sejak dulu.
Allah Maha Penentu,
Kataku sejak pekat menenggelamkan siang.

Bukan tentang pagi yang datang perlahan memaksa tuk memperbaiki diri.
Bukan tentang siang tempat peluh bertumpuk dalam ujung pakaian usang.
Bukan tentang malam dalam hilangnya suka berbalut kedukaan yang semakin tenggelam.

Bukan tentang itu.

Maka datanglah, dan kembalilah, pada malam dalam sujud panjang penuh isakan.

-Aldiles Delta Asmara-

Selasa, 11 Agustus 2015

Menggenap

Bahkan meski semua "tukang jodoh" diturunkan, tak kan mampu mengubah kehendak Allah kalau memang belum waktunya.

Saya katakan hal itu padanya ketika ia meminta saya segera menggenap dengan meminta bantuan pada kakak saya yang dikenal "tukang jodoh" dan selalu mengisi kajian tentang jodoh menjodoh. Sering seperti itu bukan? Kita terkadang merasa bahwa penentu takdir yang satu itu adalah seseorang. Entah murobbi/ah, ustadz, anggota keluarga, bahkan orang yang sudah terang-terangan memilih kita mendampingi. Terlupa bahwa penentuNya adalah Allah, dalam hal apapun, termasuk urusan yang satu itu. Maka tugas kita? Percaya.

Maka biar saja, meski orang lain dengan tidak sabarnya menuntut kita untuk segera menggenap. Nyatanya Allah siapkan semuanya tanpa meleset dan namun penuh dengan kebahagiaan yang melesat, berlipat-lipat. Jika kita percaya.

Maka biar saja, meski adik kelas, teman main, sahabat karib satu persatu menggenap dalam takdir bahagia dengan perjanjian yang berat. Kita masih akan tetap menjadi hamba Allah, dalam genap ataupun ganjil. Apapun fase takdirnya.

Maka biar saja, meski orang dekat, orang jauh, yang sudah lama dikenal, bahkan yang baru dikenal menatap dengan tatapan ragu tentang segala usaha. Faktanya memang hanya sekadar bertanya, ingin tahu, tanpa memandang perlu membantu.

Maka biar saja, meski tiap kali jengah terhadap segala yang melulu dikaitkan dengan hal itu. Nyatanya, Allah tiada lelah, bosan bahkan jengah menjadi tempat tumpahnya keluhmu.

Maka biar saja, meski mereka mengulang-ulang tanya, mengulang-ulang sindiran, mengulang-ulang apapun tentang hal itu. Selama kau pun mengulang-ulang doa kepadaNya, mengulang-ulang meminta ampunNya, mengulang-ulang bait cintaNya, agar semakin dekat, semakin rapat dan semakin taat. Bukankah lebih baik keadaannya? Agar terbiasa dalam taat meski sudah menggenap.

Maka biar saja, Allah tahu bahkan Maha Tahu atas apa yang telah diupayakan dan apa yang telah dipersiapkan. Tunggu saja, terhadap segala ketetapanNya yang begitu memesona.

Bukankah ganjil dan genap sama-sama bagian dari takdirNya? Meski tiada pernah tahu, nyatanya tinggal menghitung waktu.

Jika kau percaya. 

-Aldiles Delta Asmara-
Syawal yang ujung

Jumat, 07 Agustus 2015

Adalah...

Biarkan ku daki beberapa harap dalam doa.
Ketika kau lengkungkan kabar berturut duka, tentang beberapa langkah yang mesti ku tempuh dengan nyata..

MengEsakanMu dalam sinar yang menembus keberadaan pekat penuh pesona..
Memimpikan ampunanMu menjadi penghapus segala remuk rasa..

Kini aku tahu, bahwa penjagaanMu tak melulu tentang bermanis-manis dalam rupa nasihat yang rajin ku pinta, penjagaanMu bahkan dapat menjelma menjadi suatu kecewa agar berkali-kali aku mampu berbaik sangka..

TerhadapMu dan tentang segala macam rupa takdirMu..

Bahwa yang terbaik adalah dariMu, keinginanMu. Bukan keinginanku, dari mimpiku.

Dan Engkau adalah Maha Penyayang diantara semua yang penyayang.. Al-a'raf 151

-Aldiles Delta Asmara-

Minggu, 26 Juli 2015

Merasa, dan mengakui rasa. Apa bedanya?

Suatu hari...
"Kamu lebih pilih mana: Merasa bersalah atau mengakui perasaan kalau memiliki salah?"

Bahwa setiap hamba Allah yang memiliki nurani akan selalu bisa merasa bersalah, bersalah atas sikap, bersalah atas ucap, bersalah atas segala yang tak terungkap. Sekadar merasa, apa susahnya?


Lain hal nya dengan 'mengakui perasaan kalau memiliki salah', butuh keberanian yang dilatih berkali-kali, berulang-ulang dan sesering mungkin. Ia bukan spontanitas belaka suatu kata bahwa "oh iya, salah bersalah" tapi lebih kepada; saya salah, dan saya ingin memperbaikinya.

Bagai Abu Dzar Al-ghiffari yang meletakkan kepalanya di tanah berdebu sebagai sebuah pengakuan atas kesalahan dalam berkata pada sahabatnya, Bilal. Ia mengakui, bahwa baru saja dirinya melakukan cela atas ucap yang menyakiti Bilal, tidak hanya sekadar merasa bersalah, tapi ia nya mengakui bahkan meminta Bilal untuk membalas segala ucapannya dengan menginjak kepala Abu Dzar sebagai sebuah penebusan dosa.

Dan ada kah kita berani mengakuinya?

Diakui atau tidak, dalam proses 'mengakui kesalahan' kita membutuhkan seorang saudara yang mampu menjadi alarm nasehat yang dapat menyala ketika kita khilaf sedikit saja, dalam sikap, ucap, bahkan tatap. Saudara, yang Allah pilihkan untukmu, yang engkau cintai karena Allah, dan kaupun dicintai olehnya juga karena Allah. Seperti halnya Abu Dzar yang diingatkan langsung oleh Rosulullah dengan ucap "dalam dirimu masih terdapat unsur jahiliyah",semoga begitu pula engkau dengan saudaramu. Saudara yang bukan hanya mendukung kemarahan-kemarahanmu, saudara yang bukan hanya mendengar tiap keluhmu, saudara yang bukan hanya mengikuti alur sedihmu. Tapi saudara yang berhasil membuat kita mengakui kesalahan dan dengan santunnya berucap..

"Aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan, hingga aku pun mendapati nasehat untuk membaca firmanNya Q.S Al-Imron: 133-140, semoga mentadabburinya adalah jawaban dari tiap masalahmu".

('Āli `Imrān):135-136 Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.


Akui salahmu, perbaiki dirimu, hingga surga dirasa begitu dekat karena ampunanNya.

*nasehat untuk mentadabburi ayat-ayat ini tak akan berhenti hanya sampai diri ini, akan berterusan, akan berkelanjutan, sebagai penentram bahwa surgaNya terbuka selalu, bagi jiwa-jiwa yang berani mengakui kesalahan dan berikhtiar memperbaiki keadaan.

Jazakumullah khoiron, atas tanya yang berkelanjutan sebagai perenungan hingga menciptakan suatu nasehat, pun suatu pengingatan bahwa dalam kitabNya tersimpan segala rumus kehidupan.

-Aldiles Delta Asmara- yang mendapat tanya dari mba Nunu Karlina, dan mendapat nasehat dari Khaerunnisa yang sebelumnya ia dapat juga dari mba Nunu Karlina :D

Selasa, 21 Juli 2015

Saya -tidak toleran-

Bicara toleransi, saya adalah hamba Allah yang paling tidak toleran. Ets tapi ini tentang dunia maya saja kok. Saya bukan termasuk pengemis followback dalam tiap akun sosmed yang saya punya, karena bagi saya, memfollow adalah meminta manfaat, jadi kalau saya tidak difollow, artinya saya tidak bermanfaat, tapi saya akan tetap follow dia, siapapun orangnya, jika saya rasa akun tersebut manfaat buat diri saya.

Banyak yang bilang, suka-suka si pemilik akun yaa mau posting apapun di 'rumah' mayanya. Artinya suka-suka saya juga untuk memilih siapa yang layak singgah di beranda 'rumah' saya. Jika kedapatan si pemilik akun selfie dengan benar-benar muka dan dimain-mainkan, maka mohon maaf, tombol unfoll selalu jadi pilihan. Termasuk jika akun tersebut namanya alay, atau bahkan seringnya curhat dan 'buang sampah' doank (padahal ini curhat ^^v ). Yang begitu saja langsung saya unfoll apalagi jika akun menghina Islam, memposting hal-hal yang Allah murkai, mengadu domba, dan kejahatan-kejahatan yang serius plusss kalau akun tersebut selalu komen dengan komen yang tidak beradab. Maaf.

Saya teringat pesan seorang teman yang bilang "ini akun lo, lo berhak ngapain aja, jangan buka keran, terlebih dari lawan jenis"

Jadi maaf kalau yang tiba-tiba tidak menemukan nama saya dalam daftar followers kalian. Hehe, sok keren kan saya? Emang.

Begitupun dengan dunia perpesanan. Tanpa ragu, saya akan mengklik tombol left pada tiap grup yang bagi saya ga manfaat, cuma haha hihi.

Jadi maaf betul, leftnya saya, unfollnya saya, unfriendnya saya, tidak semata-mata karena saya benci. Hanya sekadar menjaga hati, karena jika bukan diri sendiri yang jaga, siapa lagi? Silaturrahim akan tetap berjalan dengan jalur pribadi dan pertemuan langsung, insyaa Allah. Karena mengunfollow, unfriend, dan left bukan berarti memutus silaturrahim, semoga tidak ada prasangka setelah ini.

Mohon maaf atas ketidaktoleran ini.

-Aldiles delta asmara-

Minggu, 19 Juli 2015

Menghafal Al-qur'an semudah tersenyum

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Ada yang berbeda dari i'tikaf 10 hari terakhir di masjid At-tin tahun ini. Sejak tahun 2012, saya dan mama sudah rutin tiap harinya di 10 hari terakhir ramadhan untuk beritikaf di sana. Kegiatan yang tak berbeda pada umumnya dari tahun ke tahun. Bakda sholat taraweh dilanjutkan dengan kajian sampai kira-kira jam 22.00 untuk kemudian lanjut qiyamul lail jam 02.00

Tapi tidak untuk tahun ini, selepas taraweh ada kegiatan menghafal Alquran terlebih surat An-Najm dengan tema "menghafal alqur-an semudah tersenyum". Jama'ah sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut, terlebih dimalam 26 sampai malam 29 akan ada perlombaan menghafal surat An-Najm yang berhadiah umroh. Wah masyaa Allah. Banyak sekali yang ingin mengikuti perlombaan tersebut meskipun seleksinya susahnyaaaaa masyaa Allah. Jama'ah bukan hanya diminta untuk membacakan surat An-Najm sampai selesai, tetapi juga menghafal plus arti, bukan lagi arti tiap ayat, tapi arti tiap kata. Susah.

Maka jama'ah dibuat berdecak kagum diiringi takbir berkali-kali ketika melihat ada peserta yang dengan mudahnya menjawab semua pertanyaan yang diajukan sang ustadz. Seolah berkata, ini adalah keajaiban al-qur'an, karena begitu mudahnya dipahami. Plus membuat sebagian yang masih bermalas-malasan menghafal malu karena masih abai dalam kewajiban menjaga al-qur'an.

Suatu pagi saat berada di parkiran motor masjid At-tin, saya mendengar dua orang pemuda terlibat pembicaraan serius mengenai perlombaan berhadiah umroh ini. Pemuda 1 berkata:
"kita hafalin An-Najm yuk, siapa tau kita bisa dapet umroh".
Pemuda 2 membalas "hei kalau gitu, niat menghafalnya bukan lagi karena Allah, ayo lurusin niat".

Saya langsung tertegun mendengar pernyataan pemuda 2. Banyak sekali godaan-godaan dalam menghafal al-qur'an, salah satunya adalah hadiah-hadiah dunia yang diberikan kepada para penghafal. Bulan ramadhan ini Allah beri kesempatan pada saya dan teman-teman untuk menjadi kakak mentor dalam program hafizh quran di Trans7, betapa kami berkali-kali mengingatkan pada mereka bahwa tujuan menghafal adalah menjadi juara di hadapan Allah, bukan untuk juara diacara ini.

Berkali-kali, karena seringnya terlihat niat yang agak berbelok dari para hafizh cilik. Kami hanya takut, motivasi mereka menghafal bukan karena Allah, tetapi hanya karena ingin juara dalam acara ini. Alhamdulillah, mereka paham, dan berjanji bahwa program menghafal mereka tak akan berhenti meski mungkin tidak juara dalam acara ini.

Sulitnya menjaga niat, setan begitu jahatnya membuat kegiatan baik jadi hangus hanya karena salah niat. Dan salah satu sebab hafalan bisa tetap melekat adalah dengan meluruskan niat. Saya berkesempatan mewawancarai salah satu penerima umroh dari program menghafal di At-tin. Yang menjadi pertanyaan inti saya adalah "amalan rahasia apa yang membuat kamu bisa mendapat anugerah Allah menuju rumahNya". Jawabnya "ga ada amalan khusus, yang terpenting adalah menjaga hati saat menghafal al-qur-an, menjaga hati dari niat yang salah, serta menjaga hati dari keburukan-keburukan lainnya".

Masyaa Allah, semoga Allah tak salah memilihmu menuju rumahNya duhai saudari.

"Menghafal Al-qur'an itu mudah, yang sulit adalah menjaga hati agar gak pamer kalo sudah punya hafalan". Tambahnya, yang membuat saya dan teman-teman yang bersamanya saat itu merasa ditampar berkali-kali.

Semoga kita mampu, menjadi penghafal al-qur'an yang terjaga keikhlasannya, agar kelak di hari akhir nanti, kita bukan salah satu makhluk yang bangkrut amalnya hanya karena salah niat. Aamiin, insyaa Allah..

Ya Allah.. curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al-Qur’an, dan jadikan Al-Qur’an sebagai pemimpin, petunjuk, dan rahmat bagiku.

-Aldiles Delta Asmara-
3 Syawal dengan azzam yang baru.