Muhasabah (menuju) Pernikahan Setahun

Pernikahan Setahun...

Kapan deru-deru resah ingin menikah hadir dalam hidupmu??
Usia 20??25??

Bagi saya sudah ada sejak saya tahu hukum berpacaran, yaitu kelas 3 SMP. #plak
Muda banget untuk seorang anak kelas 3 SMP berprinsip "gue ga bakal pacaran, gue mau nikah aja, mau nikah aja, mau nikah aja".

Mulailah pustaka bahasa dan ilmu saya dibanjiri dengan buku 'Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan" dan buku-buku lainnya yang entah sengaja atau tidak, disiapkan oleh kakak saya.

Bayangan saya saat itu "gue mau nikah muda, mau nikah muda ya Allah".

Hingga tahun-tahun terlewati. Masa sekolah sukses dijalani. Hidup baru menjadi mahasiswi. Mulailah rasa 'ingin menikah' lebih bergejolak, lagu-lagu pernikahan makin asyik diperdengarkan dan didendangkan hingga menciptakan galau yang sempurna.

Setahun, dua tahun sejak saya menyatakan siap menikah di depan keluarga saya, dibantu ajoBendri dalam searching jodohnya. Galau semakin melanda. Ternyata proses menujunya tak semudah bayangan indah yang ada di buku-buku yang telah habis dibaca.
Galau bertambah ketika Dila lebih dulu mengikrar janji sucinya. Tinggallah resah, hampa, gundah dan rasa yang lainnya.

Setahun, dua tahun dalam jarak pernikahan Dila, belum juga berbuah walimah. Masih terus meminta, masih terus mencari, masih terus menjaga diri. Yang berbeda hanya, galau tak lagi ditampakkan di depan saudari saudara. Semakin paham bahwa kode dan sandi galau yang sering dimunculkan akan menambah kelemahan dan keresahan. Galau tak hilang, iffah dan izzah yang malah memudar.

Perubahan cara pandang pun berbuah manis di akhir tahun 2015 ketika datang seorang pelamar yang sukses meluluhlantakkan hati keluarga. Undangan disebar, akad diucapkan, walimah digelar di awal tahun 2016.

Pujapuji kepada Allah atas segala qabul dan kabulnya doa ini.

Ternyata, satu tahun menjelang, galau tak hilang. Bukan karena tak bahagia, hanya selalu saja terselip galau setiap waktunya. Meski beda wujud galaunya. Tentang sidia atau tentang lainnya. 3 bulan tak berkabar hamil, galau. 9 bulan penuh warnawarni, galau.

Hingga tersadarkan mendengar kalimat seorang teman "Kamu nikah aja galau, apalagi aku yang belum nikah."

Robbi, ternyata galau bukan karena menikah belum menikah, hamil belum hamil, punya anak belum punya anak, tapi galau terjadi karena hilangnya rasa syukur kami. Hilangnya sabar kami. Mohon ampuni.

Kesadaran itu membuahkan hasil, bahwa syukurlah penghilang kegalauan, keresahan, dan segala kesedihan. Saat galau akan hinggap dalam hidup rumah tangga kami, tentang suami yang begini, tentang takdir yang begitu, tentang segala bisik-bisik  yang setan hembustiupkan, sekejap hadir bayangan 'dulu pernikahan inilah yang kau impikan' dan syukurpun hadir, galaupun pergi, bisik-bisikpun berganti dengan "Robbi, terima kasih atas pernikahan ini". Masyaa Allah.

Saat lelah dan lidah seakan kompak ingin mengucap keluh di 9 bulan ini, syukur pulalah yang menghadirkan senyum penghilang galau dan sedih.

Dan syukur pula yang akan terus dihadirkan saat ada masa ketika anak GTM, nangis keras, mengacau isi rumah, jam tidur yang semakin terbang jauh. Ah, semoga bisa.

Allah selalu Maha Benar, bahwa hamba-hamba yang selalu mengingatNya akan Allah jadikan hatinya tentram. Hilang galau, hilang resah, hilang gelisah, apapun gores takdirmu.

Maka, mari mengingat Allah dengan syukur disertai sabar. Agar tangguh dari kegalauan, apapun bentuk catatan hidupmu.

Kau tangguh tanpa galau, duhai Umma!!

-Aldiles Delta Asmara-
catatan SyahiDiles

Surga Layak untukmu, Ibu

Ibu, kemarin ku baca-baca kisah Maryam Sang perawan suci yang Allah berikan bayi dengan akhlak rupawan Menurut kisahnya, Maryam begitu berpayah dalam lelah Mendekati putus asa, menyerah dalam segala upaya
Lalu tiba-tiba aku ingat cerita engkau saat mengandungku Engkau memang belum seistimewa Maryam Kisahmu pun tak banyak diperdengarkan orang awam
Tapi aku tahu.. Sakitmu tiap waktu dalam 9 bulan Pastilah persis seperti yang dialami oleh Maryam Kadang tegar pada karunia Tuhan Kadang pernah, meski sedikit, berputus asa sebab ujiannya dalam setiap malam Ah, pantas saja surga layak untuk kau dapatkan
Ibu, kemarin ku baca-baca kisah Bunda Hajar Yang tegar dalam membesarkan bayi merah Di padang kering tanpa harapan hidup mewah Berlari bolakbalik dari Safa menuju Marwah Marwah menuju Safa Begitu seterusnya hingga 7 kali hitungan Berlelah, berpayah, berupaya karena satu tujuan Bayi merah dalam pangkuan menangis karena kehausan Hingga ikhtiarnya Allah karuniakan air dalam hentak-hentak kaki mungil bayi rupawan Keluarlah air yang tiada henti tercurah untuk mereka Zam-zam
Kemudian saja aku teringat kisahmu dalam membesarkanku yang penuh perjuangan Memang tak seheroik Hajar dalam bolakbalik Safa dan Marwah Tapi bayi kehausan dalam dekapanmu membuat lecet yang tak kecil pada tempat menyusu sang bayi yang kehausan Namun kau tak henti menyusuiku hingga 2 tahun silam Meski gigi tumbuh sebagai tanda bahwa akan ada lecet yang lebih dalam Kau pun melanjutkan kisahmu dalam perjuangan memenuhi giziku, mencerdaskan akalku, membiasakan kebaikan bagi akhlakku. Yang ku tahu, tak semudah kedipan mata dalam memandang. Ah ibu, pantas saja surga layak untuk kau dapatkan.
24 jam dalam 7 hari kisahmu sebagai ibu Adakah terselip bahagia di sana? Nyatanya aku sering mendapatkan kau menangis panjang mengadu pada Tuhan Meski kau selalu berkata, bahwa menangis karena bahagia telah memiliku. Padahal bisa saja karena aku yang selalu menguji kesabaranmu. Sabar dan syukur bedanya memang setipis sajadahmu Namun kisah sabar dan syukurmu dalam mengasuhku, telah berurai panjang seperti air matamu sejak awal mengandung hingga aku besar Ah ibu, pantas saja surga layak untuk kau dapatkan.
Atas perih dan segala sakit karena mengandungku Atas pedih dan lelah dalam membesarkanku Atas segala tangis sabar dan syukur dalam memperbaiki akhlakku
Adalah surga, yang tak pernah luput ku sebut agar Allah hadiahkan untukmu. Ibu.
Sebab hanya surga yang sebanding untuk membayar segala perjuanganmu.
-Aldiles Delta Asmara

Ayo Sini Main Sama Aku

"Gampang banget tau Dil bikin anak anteng gak rewel, gak ganggu umminya"
Saya: "masa? gimana caranya??"
"kasih aja hape"
-_-
"Iya bener Dil, tapi gue gak akan melakukan itu. Sesekali bolehlah, asal jangan seharian pegang hape."
****
Bener juga ya, beberapa kali menemukan anak-anak yang anteng banget -bahkan mendekati ga peduli sekitar- saat dia pegang hape. Mau anak ada reaksinya?? Copot aja hape dari genggamannya, dijamin dia bakal teriak-teriak ngamuk seolah keadaannya jauuuhhh beda saat dia pegang hp. Mau anak gak 'ganggu' kita?? kasih aja hape, maka dijamin kita senang dia amat senang. Sayangnya senang yang sementara :(

Sedih sih, anak anteng tapi 'pergi jauh' dari dunianya, anak anteng tapi 'ngamuk ganas' saat berhadapan dengan kita. Apalagi jika keinginan untuk pegang hape tidak terpenuhi.
Haruskah bermusuhan dengan hape? mungkin iya, mungkin juga tidak, asal dengan batas dan tak membuat anak terlena.

Ya Allah, adakah cara agar anak-anak kami hatinya terikat pada kami bukan pada hape?

Ada, ternyata ada. Hanya saja mari jawab pertanyaan "maukah luangkan waktu tinggalkan hape kita untuk bercengkerama, bermain, berkisah dengan anak kita??"
"Maukah berlelah sedikit dan banyak untuk menjadi alat peraga permainan mereka? Entah menjadi perahu, kuda, dan atau lainnya"
"Maukah mengeluarkan beberapa rupiah untuk membeli barang-barang penunjang kecerdasan mereka? Tak mesti yang mahal."

Karena mungkin saja anak terikat dengan hape karena merasa diabaikan oleh orang tuanya yang sibuk dengan hape -entah apapun alasanya-. Maka ikat hati mereka dengan mulai menjauhi hape dari tangan kita. Agar mudah ia dinasehati, agar mudah ia berakhlak terpuji.

Jangan pernah mengabaikan kalimat permintaan sederhana dari anak "ayah/ibu, ayo sini main sama aku." Justru semestinya berbahagialah, sebab itu berarti masih ada kita di hati mereka.

Teringat ucapan seorang mbak yang bilang "lebih baik berlelah-lelah saat mereka kecil untuk melatih kecerdasan, akhlak dan kesholehan anak kita dibanding saat mereka kecil kita maunya santai dengan menuruti semua keinginan mereka, apalagi untuk pegang hape, tapi saat mereka besar kita justru lelah mendapati segala keburukan mereka. Sebab pengasuhan adalah hutang." (ini ucapan mba Nita istri AjoBendri beberapa tahun yang lalu saat cerita tentang pengasuhan di rumahnya).

Jadi??? Mari belajar lagi wahai (calon) orang tua.
Tak apa ya Umma, saat suatu hari nanti kegiatanmu hanya "nyuci nyapu ngepel nyusui dan ngajarin" ia yang sepertinya harus berulang-ulang dan terlihat membosankan, sebab itu lebih baik dibanding rumah rapi tapi hape dalam genggamnya seharian.

Tak apa ya Umma, saat ia lebih banyak menangis untuk menyatakan keinginannya, semoga tak menyerah dengan memberinya jalan pintas berupa hape dalam genggamnya.

Tak apa ya Umma, untuk belajar lebih cerdik lagi agar menarik dihadapannya saat ia mulai GTM, jangan menyerah dengan memberinya hape sebagai syarat ia harus makan.

Tak apa ya Umma, saat buku-buku harganya sedikit mahal untuk membuatnya candu membaca daripada ia candu terhadap hape.

Tak apa ya Umma, saat sendok, garpu, tutup panci, bahkan kulkas menjadi alat eksplorasinya daripada ia hanya menggerak-gerakkan jari pada hapenya.

Tak apa ya Umma, semoga sabar dengan segalanya, sabar dengan tanpa teriakan "SABAR DONG ADEK, UMMA LAGI MAKAN"

Tak apa ya Umma, semoga syukur dengan mengingat bahwa dulu ia berupa garis dua pada alat tes yang membuat kita berlonjak kegirangan bahkan bahagia menantinya.

Tak apa yaaa..
Kan ada Allah

Pada Allah kita titipkan segala keluh kesah. Semoga berbuah Jannah.

-Hasil obrolan pengasuhan dengan Dila-
Aldiles Delta Asmara (hanya seorang Umma)

Ibu bekerja vs Ibu RT (resume kajian ForUs2)

FORUM USROH 2 "Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga"
Ahad, 20 November 2016
Fasilitator: Ust Bendri Jaisyurrahman
Notulis: Aldiles Delta Asmara

Jika dilihat dalam rujukan fatwa para ulama mengenai hukum dasar ibu bekerja semua menyimpulkan boleh dengan syarat. Syarat tersebut yang berkaitan dengan hal-hal yang menjaga kemuliaan para wanita agar jangan sampai wanita bekerja justru menghilangkan status kemuslimahannya. Intinya boleh, apalagi bagi wanita yang pekerjaannya dibutuhkan oleh umat, seperti dokter kandungan atau perawat dan pekerjaan lain yang memang membutuhkan wanita. "Mana yang lebih utama?" Jika membahas tentang keutamaan maka bukan berarti pilihan yang lainnya merupakan kehinaan. Keutamaan hanya menunjukkan lebih tinggi dengan yang lain, itupun dengan syarat. Sebab banyak hadits yang membahas tentang keutamaan-keutamaan. Misal hadits "muslim yang kuat lebih dicintai daripada muslim yang lemah". Apakah muslim yang lemah itu hina? TIDAK. Hanya memang lebih utama muslim yang kuat. Begitupun perihal ibu bekerja dan ibu rumah tangga.

Maka jawabannya berdasarkan Al-qur'an dalam surat Al Ahzab: 33 "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, ...."
Ibu lebih utama di rumah. Apakah keutamaan ini terikat satu poin saja, tidak, sebab bersyarat. Ibu di rumah lebih utama jika menjalankan fungsi keibuan. Ibu rumah tangga akan mendapatkan sisi yang positif, mendapatkan derajat yang baik jika menjalankan fungsi keibuan.

Apa yg harus dimiliki seorang ibu terkait fungsi keibuan??

Dalam sebuah H.R. Muslim, Rosul menyebutkan "nikahilah olehmu seorang wanita yang
a. Al walud (subur, untuk perbaikan keturunan agar bisa dibanggakan Rosulullah di hari akhir);  dan

b. Al wadud, akar katanya al wudd (Q.S Maryam : 96 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.") Memiliki makna yang sama dengan al mawaddah (Q.S ArRum ayat 21"...Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang..."). Jika al mawaddah bermakna kasih dan sayang untuk pasangan, maka al wadud bermakna kasih dan sayang untuk anak yang menyebabkan seorang anak ingin selalu mendekat kepada ibu.

Indikator saat kita menjalankan fungsi keibuan adalah ketika anak selalu ingin menempel pada ibunya. Inilah yang akan kita bahas dan kita evaluasi apakah ibu rumah tangga dan ibu bekerja memiliki Al wadud ini.

Jika fungsi keibuan yaitu al wadud dijalankan, ciri keberhasilannya adalah apakah ibu dirindukan atau tidak?

Sebab petaka pertama pengasuhan adalah ketika ibu tak lagi dirindukan. Ibu bekerja dan ibu rumah tangga sama-sama memiliki hak dan kewajiban untuk menjadi ibu yang dirindukan. Bukan lagi membahas mana yang lebih utama, karena saat ini banyak ibu rumah tangga namun tak dirindukan sebab hilangnya sifat Al wadud.

Awal seorang ibu memiliki anak sifat al wadud masih kuat. Bagaimana agar al wadud terjaga? Agar ibu tetap menjadi yang dirindukan, anak selalu ingin bersama ibunya, maka lihat ciri-cirinya. Saat anak dipeluk atau didekati apakah ia menolak atau merasa nyaman? indikasi kedua ketika anak tak mau bercerita karena kecelakaan bagi orang tua adalah ketika anak tak lagi bercerita dan memiliki wilayah privasi yang orang tua tidak boleh mengetahuinya.

Misi pertama ibu

Mengikat hati anak agar anak takluk hatinya
"Sesungguhnya hati adalah raja, sedangkan anggota tubuh ibarat anggotanya". Majmu al Fatawa.

Tips mengikat hati anak

1. Senantiasa berpikir dan berperasaan positif

Terlepas ibu adalah seorang pekerja atau yang di rumah, jika emosi ibu negatif seperti bau busuk yang membuat anak tak mau mendekat. Anak membaca bahasa tubuh ibu. Maka tugas ibu adalah senantiasa berpikir dan berperasaan positif. Ketika ibu mulai memiliki perasaan negatif, maka menghindar dari anak adalah lebih baik. Sekaligus ibu mencari cara bagaimana agar ibu bisa berpikir dan berperasaan positif. Ibu harus memiliki beberapa skill salah satunya menulis, terutama bagi ibu-ibu yang memiliki kecenderungan berpikir dan berperasaan negatif. Ibu yang sering menulis emosinya lebih stabil. Seperti perkataan Iman An-Nawawi "menulis itu mencerahkan pikiran dan mencerahkan batin". Sebab jika ibu tidak menulis kecenderungan untuk melakukan hal buruk pada anak sangat besar.

2. Belajar menjadikan anak prioritas
a. (Al-'Isrā'):26 - Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, ....
(Ar-Rūm):38 - Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, ....

Jika ibu bekerja bisa bersabar menghadapi klien maka seharusnya bisa lebih sabar dalam menghadapi anak. Jika ibu bekerja sebagai guru TK dan sangat sabar menghadapi murid-murid, maka semestinya anak ibu lebih berhak mendapatkan kesabaran ibu.

Cara melatih agar anak selalu menjadi prioritas adalah sering melihat wajah anak ketika bayi. Jika sudah muncul amarah pada anak, mengingat wajah bayinya membuat kita akan menjadi lebih sabar.

3. Manajemen waktu
a. Me time adalah hak wanita, istri Rosulullah memiliki  'me time' untuk solat, berdoa, berpuasa dan ibadah lain saat ia tidak mendapat giliran. Ibu berhak solat, membaca alqur'an tanpa harus diburu oleh tangisan anak, dan ibu berhak melakukan kesenangan yang dibolehkan oleh agama ini. Suami ambil alih sementara untuk menjaga anak.

b. Couple time, untuk memberikan kekuatan energi pada ibu. Penting bagi ibu untuk punya waktu berdua dengan suami untuk berdiskusi, bercengkerama, bercanda tanpa menyertakan anak. Saat ibu mulai kehilangan al wadudnya, yang pertama kali harus dievaluasi adalah suami, sebab artinya itu mewakili perasaan bahwa ia sedang tidak bahagia dengan suaminya. Penting bagi suami membuat ibu bahagia agar al wadud tak hilang dari ibu.

c. Family time, berkumpul dengan keluarga.

d. social time, ibu berhak untuk berkumpul bersama teman-temannya.

4. Skill dasar seorang ibu

- Memasak, hal yang membuat anak selalu rindu kepada ibu adalah masakan ibu.
- Menulis (sudah dibahas)
- Memijat, agar anak selalu merasa dekat pada ibu. Sebab ketika anak nyaman dipijat oleh ibu di daerah tertentu, seperti perut, punggung dan telapak tangan, maka anak akan lancar bercerita dan cenderung terbuka.
- Mendengar, jadilah pendengar setia dengan respon terbaik, bukan sekadar menasehati ketika anak bercerita.

5. Merebut golden moment
Ada 3 waktu yang ibu tidak boleh absen, terutama bagi ibu yang bekerja.

-Hadirlah saat anak sedih, sebab ketika anak sedih ia memerlukan sandaran jiwa, siapapun yang hadir saat itu akan dianggap sebagai pahlawannya, maka ibu wajib menjadi pahlawan yang mendengar kesedihannya apapun dan bagaimanapun kondisi ibu saat itu. Jika tidak mendapati ibunya, maka ia akan mencari 'orang lain' yang bisa jadi berbahaya bagi dirinya. Dicontohkan oleh Rosulullah yang hadir saat ada seorang anak yang sedih karena kehilangan burung pipitnya.

-Hadirlah saat anak sakit, saat anak sakit yang sakit bukan sekadar fisiknya tapi juga jiwanya.

- Hadirlah saat anak unjuk prestasi, anak akan tidak percaya pada ibunya jika ibu tidak datang saat anak unjuk prestasi. Maka bagi ibu yang bekerja, serepot apapun agendakan dengan sekolah sang anak kapan jadwal unjuk prestasi. Hal ini dicontohkan oleh Rosulullah yang selalu hadir saat anak sedang mementaskan prestasinya, Rosulullah hadir saat bani Aslam sedang melakukan lomba memanah.

Maka bagi ibu wajib menjadikan 5 poin ini sebagai pegangan, sudahkah dirindukan, sudahkah anak dekat dengan kita.

Membahas kesadaran bersama bagi para ibu yaitu bahwa anak adalah prioritas. Profesi ibu adalah yang utama, sisanya SAMBILAN saja. Ada 7 indikasi yang ditunjukkan anak sebagai syarat bahwa mau tidak mau ibu harus kembali ke rumah, ibu tidak bisa memaksakan bekerja saat sudah tampak bahwa anak memiliki 7 indikasi kerusakan;

1. Anak selalu membangkang
Ibu yang gagal mengikat hati anak karena sibuk bekerja, indikasinya adalah anak selalu membangkang.
Sebab anak yang dekat dengan ibunya akan taat meskipun dalam keadaan terpaksa.

2. Anak tidak hormat pada ibunya terutama ketika ibu dalam keadaan marah. Jika ibu marah dan anak tambah melawan dan membantah, maka sangat disarankan lebih baik off bekerja daripada kehilangan momen

3. Anak punya privasi, saat anak memiliki banyak rahasia maka ini menunjukkan indikator bahaya. jika anak memiliki banyak rahasia dari ibunya, hak tersebut adalah tanda bahwa anak tidak nyaman dengan ibunya.

4. Ketika anak tidak pernah mendengar nasehat ibunya sebagau rujukan. Indikator anak yang dekat dengan ibunya adalag ketika anak selalu menjadikan ibu sebagai rujukan.

5. Saat anak tidak betah ada di rumah. Sebab rumah memiliki ratu bernama ibu, jika ibu tak lagi dirindukan maka anak tidak akan betah di rumah.

6. Anak sudah berani mengatakan kriteria jodoh "asal bukan seperti ibu".

7. Ketika anak tak memahami bahasa tubuh orang tua, bahkan cenderung membiarkan kita tersakiti.

Indikator-indikator ini mohon jadikan sebagai bahan evaluasi. Jangan menunggu 7 hal ini terjadi, selalu perbaiki kedekatan bersama anak agar menjadi ibu yang dirindukan.

Kenapa banyak ibu yang dimusuhi anaknya "sebab ada peran yg tertukar" antara ibu dengan ayah.

Peran ibu adalah sebagai pemberi rasa aman, sedangkan peran ayah sebagai penegak aturan.

Q.S An Nisa: 34 "laki-laki adalah pemimpin bagi wanita..."
Makna pemimpin dari ayat ini adalah sebagai penegak aturan. Ibu jangan mengambil alih peran ini.

Para ayah wajib bantu istri agar tidak kehilangan al wadudnya. Istri jangan mengambil wilayah aturan. Suami wajib mengingatkan istri bahwa yang menegakkan aturan adalah suami, maka jika ibu ingin memiliki aturan untuk anak, sampaikan pada suami. Istri hanya memberikan usulan. Anak rusak, itu tanggung jawab suami.

Semoga hal ini bisa menjadikan perbaikan bagi rumah tangga, ketika ibu dan ayah menjalankan fungsinya. Ibu dengan kasih sayang, ayah dengan ketegasannya. Lakukan diskusi bersama.

Penting agar ibu dan ayah selalu melakukan harmonisasi. Sebab biasanya permasalahan anak hanya 20% sisanya karena komunikasi ibu dan bapak yang tak selesai. Banyak anak yang tidak patuh pada orang tuanya karena sering melihat pemandangan konflik antara ibu dan ayahnya. Ayah wajib bantu ibu menjadi yang dirindukan terlepas ibu bekerja atau di rumah dengan memfasilitasi agar ibu memiliki pikiran dan perasaan yang positif.


Diskusi

1. Bagaimana meyakinkan istri untuk di rumah?karena istri punya karir yg cemerlang di pekerjaannya.

Tanggapan dari peserta:
- Dari pengalaman mengapa saya (seorang ibu) memilih resign, diawali oleh suami yang mengajak musyawara bukan hanya terkait finansial tapi lebih kepada hal pengasuhan anak. "jika kamu bekerja siapa yang mendidik anak". Hati seorang istri akan tersentuh.

- Temukan kekhawatiran istri mengapa ia masih bekerja. Misal jika finansial, suami pastikan dan meyakinkan bahwa tak akan kekurangan meski ibu tak bekerja.
- Sering diajak kajian tentang keutamaan istri di rumah.
- Suami wajib menunjukkan perhatiannya dengan memuji kelebihan istri.

Tanggapan dari Ust:
Bagaimana agar istri mau mendengar suami?
Dalam pepatah Arab "kebaikan akan menaklukkan manusia". Maka nasihat yang tidak masuk kepada pasangan karena dirasa mungkin belum baik. Bagaimana kebaikan yang menaklukkan manusia?
1. Kebaikan yang sering. Lakukanlah banyak kebaikan kepada istri agar imhati istri takluk kepada suami.
2. Kebaikan yang ekstrim. Tidak sering tapi sekalinya berbuat dengan kebaikan-kebaikan yang besar.

Inilah tradisi yang diajarkan Rosulullah "aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada perempuan"

Pertanyaan 2:
1.  Apakah wajar ketika anak lelaki saya yang berusia 4,5 tahun sangat nempel kepada saya?? Sampai usia berapa anak bounding kepada ibunya?
2. Saat suntuk dengan pekerjaan, saya membutuhkan me time, namun dzolimkah terhadap anak karena waktu bersama anak semakin berkurang untuk kerjaan ibu dan untuk me time ibu?

Tanggapan dari Mc:
1. Berikan kesempatan kepada suami agar lebih dekat pada abinya.

Tanggapan dari Ust:
1. Kedekatan kepada anak indikasinya bukan sekadaf nempel atau tidak nempel. Indikasi yang lain apakah mampu mengerjakan urusannya sendiri? karena jika umur 4 tahun masih ingin 'dilayani' oleh ibunya terkait urusan pribadi, maka harus diantisipasi. Sebab usia 4 tahun sudah masuk ke fase independent, fase ketika anak sudah mulai mandiri. Orang tua hanya sebagai partner. Jika terlalu nempel pada ibu bukan berarti ia sangat tergantung pada ibu, bisa jadi karena anak tak memiliki alternatif yang dilihat dari sosok ayah.

2. Me time yang kebablasan
Anak memang tidak bisa menunggu maka anak harus dipahamkan bukan dengan dibuat jarak antara ibu dan anak. Ibu bisa jujur kepada anak. Sebab menghindar dari anak justru memberikan persepsi yang buruk kecuali kita tidak bisa mengelola emosi yang negatif. Anak tidak bisa mentolerir pekerjaan, jika tidak bisa berdekatan dengan anak untuk sementara waktu maka lebih baik jujur pada anak. Cara yang berikutnya lakukanlah sandiwara pada anak, kalau sengan klien ibu bisa bersandiwara untuk bisa tersenyum, maka kepada anak harus juga ibu lakukan, jadilah ibu yang profesional sebagaimana ibu ingin menjadi pekerja yang profesional.

Menjadi Istri

Menjadi Istri

oleh: Aldiles Delta Asmara

Telah dikabarkan kepadamu duhai wanita, tentang sebuah jalan keabadian yang di sana terdapat singgasana terindah dan kau ibarat pemiliknya, sebab kau bebas masuk dari pintu yang mana saja. Dan jalan itu salah satunya bermula dari menjadi seorang istri.

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)


Pintu langit telah terketuk, pintu hati telah terbuka untuk satu jiwa, yang karenanya taatmu beralih. Dan pintu keberkahan, semoga mengalir terus menerus.


Dalam rupa sepertiga malam, kau kan terbangun dalam tunduk sujud bersama, melantunkan doa, mengeja tiap harapan dalam kehidupan yang sampai surga.

Menjadi istri adalah menjadi bidadari, dalam miniatur surga yang terketuk dengan salam dan kata-kata lemah lembut penuh cinta yang menyejukkan hati. Menjadi istri adalah melatih diri menjadi bidadari, tak mudah mengeluh, tak mudah mengubah raut wajah dari riang menjadi berang, tak mudah untuk ucap kata-kata yang menyakiti hati, selalu tersenyum dan membahagiakan suami.

Menjadi istri adalah menjadi separuh ragawi bagi suami. Melengkapi, menyertai, memperbaiki, dengan tanpa melupakan posisinya sebagai imam dalam rumah tangga iman ini. Jika surga menjadi tujuan, maka tetaplah berupaya bergandeng tangan dalam perbaikan. Tak perlu menuntut diperbaiki, tapi cobalah memperbaiki, tak menagih untuk dilayani tapi cobalah melayani.

Menjadi istri adalah menjadi penerang hati, kala gundah meliputi hari sang suami, senyummu bak rona mentari dalam penat lelah mengais rizki. Memberi cahaya yang menyinari, memberi kesejukan yang menentramkan hati. Menjadi penerang dan penyejuk dengan terjaga dari ketergesaan memburu tanya "ada apa?" pada tiap ubah ekspresi suami. Cukup menjadi tempat bersandar hingga sang suami tanpa ragu berbisik "mohon selimuti". Dan menjadi Qurrota a'yun bukan sekadar mimpi.

Menjadilah kamu seorang istri, yang mampu memahami suasana hati, bukan hanya menuntut untuk dipahami lagi dan lagi. Sebab suami bukan yang Maha Tahu, maka diammu tak akan mengubah kondisi. Pahami bahwa dia makhluk penuh khilaf diri.

Menjadilah kamu istri yang diridhoi, dalam langkah kemanapun kamu pergi, bukan dengan gerutu dihati. Agar cintanya dan cintamu berujung surgawi.

Suatu hari saat menjadi istri, akan banyak pertanyaan yang kau tanyakan pada Robbmu terkait takdir ini. Kadang kau syukuri, kadang kau ingkari.

"Mengapa dia?"

"Mengapa aku?"

"Mengapa tak seperti yang lainnya?"

Percayalah bahwa kau dipilih untuknya bukan tanpa sebab. Berlelah hari ini, bahagia suatu hari nanti. jika kau meyakini.

Maka kini genggamlah tangannya, tatap matanya, dan bisik dalam mesra "jadikan aku bidadarimu, di dunia dan di surgaNya".

Pengingat diri dihari menggenapnya adik tercinta pagi tadi, Ayu Sulistia dan suami.

Barokallahu Laka wa baroka 'Alaika wa jama'a bainakuma fii khoir..

Kebaikan yang Sia-Sia

Mamah muda ini sekarang punya kebiasaan cek tombol pencarian instagram, kemudian kalo muncul postingan tak layak, semacam buka aurat, pornografi baik sekadar dengan kata ataupun dengan gambarnya. Banyak banget akun gak jelas yang kalo kata suami saya akun nyari duit dan like, jadi yang porno-porno pun diposting.

Kebayang gak kalo yang liat gambar itu anak-anak kita? duh naudzubillah. Maka, akhirnya saya memilih untuk selalu jadi 'satpam' akun-akun tersebut. Bukan dengan komen yang berakibat semakin tingginya 'harga' tuh akun, tapi dengan langsung mereport-nya. Meski kemudian saya pun berpikir dan menanyakan hal ini kepada suami.

"Emas, ada pengaruhnya gak sih aku mereport akun-akun abal yang porno macam ini? kayaknya gak ngaruh apa-apa ya?"

"Pasti pengaruh donk, setidaknya menentukan posisi adek ada di mana dalam dunia pornografi ini."

Jadi inget kisah tentang binatang kecil yang membantu memadamkan nyala api untuk membantu Ibrahim.

Tapi yang saya maksud sebenarnya, adakah dampak langsung terhadap akun-akun tersebut kalau hanya satu orang yang mereport. Dan suami saya menjawab... "sepertinya enggak, kecuali kalau banyak yang mereport".

Sedihlah saya, meski gak menyurutkan kebiasaan itu.

Hingga suatu hari....

Ada pemberitahuan dari instagram kalau laporan saya diterima dan akun tersebut sudah menghapus postingan yang saya adukan (meskipun saya gak tahu postingan yang mana, yang jelas muatan pornografi).


Dan itu rasanya....


"tuh kan dek, ga ada kebaikan yang sia-sia dimata Allah."

Allah Maha Pemurah, setiap kebaikan yang hambaNya lakukan akan selalu dibalas, termasuk dibalas dengan rasa bahagia.

yuk, mamah papah dan semua hamba Allah, jangan sekadar ngeri dengan banyaknya korban pornografi, tapi lakukan hal yang bisa kita lakukan, dengan mereport atau bahkan menegur langsung pasangan yang kita lihat asyik berpacaran. Jangan hanya jadi penonton yang meringis :)


-Aldiles Delta Asmara-

Semoga hati kita selalu condong pada kebaikan.

PROPOSAL PERMINTAAN (2)

Saat menuliskan 'proposal permintaan' untuk anak perempuan, saya lupa melibatkan suami dalam pembuatannya, karena proposal tersebut dibuat ketika menanti kepulangan suami. Maka untuk 'proposal permintaan' bagi anak laki-laki, saya tak lupa menyertakannya. Sekaligus ingin tahu harapan ia kepada anak laki-lakinya nanti.

"Emas, proposal permintaan apa yang emas minta pada Allah untuk anak laki-laki kita nanti." Pembuka obrolan disuatu subuh.

Kemudian mengalirlah dari lisannya Q.S Albaqoroh ayat 131-134 sebagai pembukanya..

"Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!'. Ibrahim menjawab: 'Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam'." – (QS.2:131)

"Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): 'Hai anak-anakku! Sesungguhnya, Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam memeluk agama yang lurus (Islam)'." – (QS.2:132)

"Adakah kamu (Muhammad) hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sepeninggalku'. Mereka menjawab: 'Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya'." – (QS.2:133)

"Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya, dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak dimintai pertanggung-jawaban, tentang apa yang telah mereka kerjakan." – (QS.2:134)

"Seperti yang para nabi pesankan kepada anaknya bahkan sampai mendekati ajal, yang dipesankan dan diminta hanya agar anak-anak keturunannya hanya menyembah Allah, bukan wasiat atau pertanyaan tentang harta benda. Begitupun Emas ingin anak-anak kita kelak menjadi pejuang tauhid. Yang mengEsakan Allah di atas segalanya, di atas harta, di atas nafsu, di atas syahwat dunia lainnya. Emas ingin anak laki-laki kita menjadi sebenar-benarnya lelaki dalam kehidupannya, dari awal kelahiran hingga wafatnya. Gak akan Emas biarkan ia menyerupai perempuan, meski apapun alasannya, entah karena hanya ingin mendapatkan rupiah atau karena dorongan syahwat yang katanya naluriah". Penjelasan suami dengan panjang dan tepat.


Kemudian saya mengingat apa yang melatarbelakangi suami saya punya harapan seperti itu. Beberapa hari yang lalu, kami kaget dengan akun personal seorang laki-laki yang mencari nafkah untuk keluarganya, untuk anak istrinya dengan menyerupai perempuan. Memakai baju perempuan, dan bergaya layaknya perempuan. Yang membuat kami kaget karena ia yakin apa yang ia lakukan adalah kebaikan dan HALAL karena tidak merampok, korupsi, dan lain-lain.


Kami langsung sama-sama istighfar, betapa 'halal' melenceng begitu jauh dari maknanya. Hati kami ngilu. Dan berharap agar kami mampu mendidik anak kami, mengenalkan kepadanya ketaatan-ketaatan yang berupa perintah dan larangan Allah, bukan sekadar menjauhi larangan yang akan merugikan orang, tapi juga larangan yang dalam bentuk menukar akhirat dengan dunianya. Kami meminta pada Allah, agar kami mampu mengasuh anak kami sesuai dengan fitrahnya. Berlandaskan pada perintah Allah, bukan pada perasaan belas kasih sayang sebagai orang tua. Sebab kami khawatir, rasa sayang kami mendahului ketaatan pada Allah, hingga meridhoi permintaan anak meskipun tidak sesuai dengan fitrah dirinya sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Bukankah kini semakin banyak terjadi???


Kami sebagai orang tua, akan meminta bimbingan Allah agar mengajarkanmu tentang kelembutan pada sesama. Kelembutan yang tak menghilangkan kelelakianmu, sebab menjadi lembut, mengerti perasaan orang lain, memahami kondisi, dan ringan tangan membantu pekerjaan perempuan terdekatmu (umma dan keluargamu) tetap bisa engkau lakukan tanpa harus mengubah sosokmu menjadi yang Allah murkai. Bapakmu akan mengajarkanmu dengan berusaha agar menjadi contoh yang baik untukm.


Anak lelakiku, berjalanlah di atas bumi Allah dengan segala aturannya. Bukan dengan 'batas wajar' yang kau karang sendiri. Tumbuhlah dengan belas kasih pada sesama sebagai bentuk ketaatan pada Allah bukan karena kau mengharapkan nilai dari dunia.
Anakku, banyak-banyaklah berkaca pada Rosul kita tentang bagaimana memahami perempuan (umma, adik/kakakmu, istrimu nanti) yang kau cinta. Besarlah menjadi segagah-gagahnya laki-laki yang berdiri tegap membela agamamu, bukan yang dengan ikhlas membela para penista dan pencela. kenali pahlawan negerimu yang dengan pekik takbirnya bergetarlah kemerdekaan di negerimu. Hiduplah dengan pemahaman yang baik tentang orang-orang di sekitarmu. Jadilah lelaki yang terjaga dan menjaga, dirimu dan keluargamu dari panasnya api neraka.

Anak lelakiku, hanya kepada Allahlah kami meminta bimbingan.


Duhai Allah, inilah 'proposal permintaan' untuk anak laki-laki kami. Mohon ridhoi...


-Aldiles Delta Asmara-

'proposal permintaan' bagi calon pemuda kami di hari SUMPAH PEMUDA

USG 2 (26 Okt 2016)

Bismillahirrahmanirrohim..

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmsholihaat..

Banyak yang bertanya pada umma tentang kamu, "laki-laki atau perempuan?" pertanyaan yang umma belum tahu jawabannya. Pertanyaan yang membuat umma pun ingin tahu hingga menghadirkan rindu. Padahal tadinya umma dan bapak memasrahkan penuh pada Allah, ingin menjaga rahasia ini, ingin menjaga rasa penasaran ini hingga umma bertatap langsung denganmu.

Umma dan bapak berubah pikiran, lagipula mengetahui jenis kelaminmu dari awal bukan suatu dosa kan?? hehehe. Maka hari ini, dengan meminta ridho dari bapak, umma pun USG dengan diantar uwo ke RS. Bukan hanya ingin tahu siapa kamu, tapi lebih terdorong rasa ingin tahu bagaimana keadaanmu.

Perasaan umma begitu bahagia saat mengetahui bahwa kamu tumbuh dengan baik, sehat dan dengan posisi sujud pada Robbmu. Dan, kamu laki-laki, insyaa Allah :)

Bahagia yang entah bagaimana melukiskannya. Senyum-senyum syukur bahkan senyum itu masih membekas ketika umma menulis ini. Uwo pun terlihat sangat bahagia. Kita patut bersyukur ya sayang.

Sayang, umma ingin bercerita sedikit tentang sisi lain dari kebahagiaan yang umma rasakan. Umma bahagia dengan hadirnya kamu, sehatnya kamu dan kabar-kabar kebaikan tentangmu yang lain, tapi ada rasa 'sedih' karena umma membayangkan calon kakak sepupumu. Sayang, sebelum ini kamu punya calon kakak sepupu yang kini sudah di surga. Entahlah, tiba-tiba umma merasa menjadi sangat sedih saat membayangkan mintuwo dan makdangmu pasti dulunya berharap kabar baik saat pertama kali ingin bertemu calon anak mereka, ada perasaan tidak sabar, perasaan segera ingin tahu dan perasaan-perasaan lain yang umma rasakan seharian ini. Tapi apa yang mereka dapat? Qodarullah, ternyata Allah menakdirkan yang lain. Dihari pertama mereka USG, mereka malah mendapati kabar bahwa calon anak mereka sudah tidak hidup dalam rahim mintuwo mu. Ya Allah sayang, umma tak bisa membayangkan kesedihan itu. Pasti hancur dan menyesal berkali-kali meski tak tahu apa yang disesali.


Maka kini, saat umma mendapatimu Allah izinkan tumbuh dengan baik dan sehat, umma benar-benar berlimpah rasa syukurnya, berlapis rasa bahagianya dan berkali-kali senyum merekahnya.

Dan rasa syukur ini yang mengiringi umma untuk melakukan yang terbaik untukmu, untuk keshalihanmu, untuk kehidupanmu. Bantu umma dan bapak ya sayang.


Tetaplah dalam pertumbuhan dan kesehatan serta ketakwaan yang baik.

-Aldiles Delta Asmara-

Ummamu, dalam surat cinta di usiamu yang 26w

PROPOSAL PERMINTAAN

"Dek, kan bentar lagi jadi seorang ibu, bicaranya dijaga ya, kurangi ngeluh, kurangi ketus, judes, dan lain2. Ganti aja jadi istighfar" -Pesan mama-

Menjadi seorang ibu artinya menjadi "manusia sakti". Yang dari lisannya, kehidupan seorang anak seolah terletak padanya. Baik dan buruk anak tergantung pada ucap saktinya. Kita banyak mendengar ada seorang ulama yang menjadi imam besar masjid di kota suci merupakan dampak dari ucap sakti seorang ibu. Maka, apa yang menghalangimu untuk berkata yang baik pada anakmu jika hal itu adalah yang menentukan masa depan anakmu??

Tak berhenti sampai di situ. Ketika mama menitipkan nasihat yang berharga ini, tiba-tiba jiwa saya menjelajahi waktu. Jika suatu saat nanti Allah beri amanah pada kami seorang anak perempuan, maka semoga Allah bimbing kami agar mengasuh anak perempuan kami menjaga lisan. Agar ia sedari dini hanya mengucapkan kata-kata yang baik yang semoga terbawa sampai kelak mereka menjadi seorang ibu.

Sebab di jaman kini, semakin banyak wanita-wanita yang berkata penuh makian dan hinaan. Saya pernah beberapa kali mendapati siswi saya dengan lancarnya berbicara buruk. Entah bagaimana ia dibesarkan di keluarga, dan entah bagaimana ia akan membesarkan keluarganya nanti. Yang semakin membuat sedih, mereka mengira bicara kasar adalah batas wajar, dan dengan bangga menyebut dirinya 'bad girl'.
Menghina teman, "batas wajar"
Berbicara kasar, "batas wajar'
Pulang malam, "batas wajar"
Pacaran berduaan, "batas wajar"
Membuka aurat, "batas wajar"

Duhai anakku, semoga tak terjadi padamu. Dan semoga kami mampu mengenalkan padamu apa itu "batas wajar" yang Allah ridhoi. Termasuk dalam menjaga ucapan-ucapanmu.

Di waktu yang lain, suami saya pernah berpesan "Adek kan bentar lagi jadi seorang ibu, kalau lagi ngambek atau cemberut tetap doa yang baik ya. Tuh doa adek sekarang banyak diijabahnya sama Allah".

Pesan ini memberikan lagi beberapa hikmah, bahwa wajar jika dalam perjalanan seorang perempuan pasti ada berbagai macam rasa, dan artinya menjadi seorang perempuan haruslah melatih diri agar apapun yang dirasa, jangan sampai mengubah keadaan menjadi buruk dengan ucap yang tidak patut. Saya pernah ngambek sengambek-ngambeknya pada suami yang lembur, pulang malam, entah apa yang waktu itu saya ucapkan, intinya saya ngambek. Dan ngambeknya saya berbuah musibah bagi suami saya yang menyebabkan saya menyesal sejadi-jadinya dan ketika suami sudah sampai di rumah, saya langsung memeluknya sambil berkali-kali minta maaf. Duh, perempuan.

Sejak itu saya melatih diri untuk mengatur emosi dengan sangkaan yang baik dan juga ucapan yang baik agar tak ada musibah yang terjadi karena emosi yang buruk.

Lagi-lagi teringat, betapa pentingnya meminta bimbingan Allah agar kita mampu mengasuh seorang anak perempuan agar mampu mengontrol emosinya. Marah, sedih, kecewa, pasti akan dirasakan oleh anak kita. Hanya saja cara menyelesaikannya perlulah kita bimbing karena kita orang tuanya. Itulah perlunya seorang ibu berlatih mengontrol emosi, sebab sang anak pasti meniru. Artinya, mengontrol emosi bagi seorang ibu adalah cara membimbing anak perempuan agar kelak mampu mengontrol emosi mereka pula. Sebab kini, banyak kerusakan yang terjadi karena perempuan-perempuan tak sanggup mengontrol emosi.

Saya pernah mendapati seorang siswi SMP kelas awal yang marah hanya karena pendingin di ruang belajar rusak. "GIMANA SIH, SAYA UDAH BAYAR, MASA SAYA GA DAPET FASILITAS". lawan bicaranya tentu bukan yang seumur olehnya, tapi jauh-jauh sekali.

PR menjadi ibu banyak sekali ya Diles, mengajarkan anak perempuan kita menjaga lisannya, mengontrol emosinya serta mengajari mereka untuk menerima keadaan dengan hati dan prasangka yang lapang. Agar makian tak terucap, agar hati yang lapang membawa kedamaian untuk sekitar.


Sanggup?? Hanya kepada Allah lah kita memohon bimbingan. Sebab anak kita adalah ciptaan Allah, hati mereka, lisan mereka, dan pikir mereka adalah Allah yang menguasai. Ajukan 'proposal permintaan' anak sedari dini dengan doa-doamu. Sebab mengikuti seminar parenting tak akan cukup menggenggam hati anakmu jika tak kau barengi dengan mengajukan 'proposal permintaan' dalam bentuk doa pada Allah.

Ya Allah, inilah sebagian 'proposal permintaan'ku bagi anak perempuan kami kelak. Mohon ridhoi.

-Aldiles Delta Asmara-

'proposal permintaan' untuk anak laki-laki segera dibuat.

Guru

Banyak beredar video ketidaksopanan murid kepada gurunya, dengan caption makian. Anak-anak seperti itu tidak perlu dimaki, cukup dicintai. Mereka kenyang dengan makian dari segala penjuru hingga berlaku seperti itu bagi mereka bukan hal baru.

Mau menasihati?? Mereka lebih kenyang lagi. Kalau menurut ajo Bendri ikatlah hati sebelum menasihati. Jadi sebelum menasihat, mari mencintai.

Sebagai seorang guru, saya pernah beberapa kali merasakan kejadian serupa. Badan didorong keras disertai tatapan galak oleh seorang anak kelas 5 SD, diancam dilaporkan ke polisi oleh anak kelas 6 SD, diamuk dengan banting kursi di depan saya, juga oleh anak kelas 6 SD. Baper? Jelas, rasanya gemes banget pengen jitak dan nabok balik bahkan pengen banget bilang "Besok jangan belajar sama saya, cari sana guru yang lain!".

Tapi saat berada di tengah kejadian itu, rasa iba lebih banyak muncul. Ketika mereka berbicara melotot sambil menunjuk-nunjuk muka saya, yang hadir di benak justru sesosok anak kecil yang teramat ketakutan karena sering diperlakukan seperti itu, hingga tanpa sadar ia merefleksikan ulang pada saya.
Jadi apa yang harus dilakukan?
TENANG dan CINTA.

"Kamu gak suka sama kakak? Oke gapapa, tapi kamu bisa kok bicara yang lembut tanpa harus kasar begini, yaudah kalo kamu udah tenang, kakak ada di ruang pengajar".

-jalan ke ruang pengajar sambil nahan air mata-

Qodarullah, 10 menit siswa tersebut menghampiri saya dan keluarlah semua keluh kesahnya. Pertemuan-pertemuan berikutnya, sikapnya berubah layaknya bayi. Bicara manja khas anak-anak yang ga mau lepas. "Aaaa kakak, ayo kita belajar". 😍

Intinya jangan pernah memarahi balik, jangan pernah membuat tembok penolakan pada, jangan pernah mengasingkannya dengan label "anak nakal". Karena tanpa kita beri label, mereka sudah kenyang dengan label yang sudah telanjur menempel pada mereka.

"Hai anak baik" Sapa saya suatu hari pada siswa SMP.

"Kakak salah, sangat salah, saya ini anak nakal, kakak gak usah bohong. Semua orang juga bilangnya saya nakal."

Konsep diri yang negatif mungkin salah satunya tercipta karena label dari kita. Padahal mereka masih sangat berpeluang menjadi baik.

Si bocah SD yang pernah mengancam akan melaporkan saya pada polisi, di akhir pertemuan ajaran beberapa bulan setelahnya dia bicara dengan bahasa khas ala anak-anak. "Kakak, waktu itu aku pernah ngancem-ngancem kakak ya, hehehe maapin aku ya kak. Ya ampun, malu ih ngingetnya kenapa bisa begitu".

Beri mereka porsi cinta, meski makan hati. Jangan jadi orang dewasa yang menambah luka anak-anak. Maka cinta kitalah yang dapat menuntunnya ke dalam cahaya. Dan itu sebaik-baik karunia yang Allah titip pada kita. SEMOGA.

*Sesedih-sedihnya dimaki sama murid, lebih sedih lagi saat justru melihat murid yang baik di depan, nurut, kelihatan baik-baik saja bahkan berprestasi, tapi saat tak di depan kita, mereka justru menikam dengan perilaku mereka yang bermudah-mudah membuka aurat, bergaya tak pantas dan melepaskan kehormatan mereka. Sakitnya lebih dalam. 😩

Wahai guru, PR kita masih banyak.

-Aldiles Delta Asmara-

catatan untuk nabok diri sendiri, jangan ikut-ikut menilai mereka buruk.

Gadget, Dicintai namun Diwaspadai

For Us (Forum Usroh)
Ahad, 16 Oktober 2016
Fasilitator: ust Bendri Jaisyurrahman
Tema: Gadget, dicintai namun diwaspadai


Pembahasan 30 menit oleh ust Bendri


Gadget memiliki dua sisi, positif dan negatif. Saat ini, kita seolah tak bisa lepas dari gadget. Ia tidak diharamkan karena faktanya ia dibutuhkan. Maka penting bagi kita mengetahui dampak penggunaan gadget terhadap keluarga.

1. Dampak fisiologis:
Gadget menjadikan anak fokus ke layar, bola mata cenderung statis. Anak yang terpapar gadget sejak kecil dijamin tidak menyukai aktivitas yang membutuhkan pergerakan bola mata, seperti membaca buku. Dampak fisiologis yang dirasakan berikutnya yaitu anak yang terpapar gadget sejak dini akan mengalami beberapa penyakit seperti RSI, kerusakan bagian tulang belakang karena sering menunduk, dan luka di dalam retina.


2. Dampak psikologis:
Gadget dapat mempengaruhi perilaku, bukan hanya pada anak-anak tapi juga pada orang dewasa. Disebut generasi asosial, generasi yang tidak peka terhadap keadaan sekitar, karena dalam dunia maya kepekaan hanya diukur dengan seberapa banyak like atau share yang tanpa sadar berpengaruh pada kehidupan nyata. Gadget juga dapat mengakibatkan munculnya generasi yang lemah akibat terpengaruh fasilitas-fasilitas yang ada di dunia maya seperti tombol unfriend, atau block yang bisa kita pilih jika tidak sependapat  dengan orang lain. Hal ini berdampak di dunia nyata yang mempengaruhi hubungan sosial, anak mudah berpindah-pindah sekolah hanya karena ada masalah dengan guru atau temannya. Pada orang dewasa dampak seperti ini terlihat semakin meningkatnya angka perceraian. Jika tidak suka, dengan mudah akan memilih 'cerai' karena terbiasa dengan intoleransi dari dunia maya.


3. Dampak sosial:
Ikatan antar saudara berkurang. Kita lebih terbiasa berjauhan dengan saudara kandung daripada gadget kita. Gadget seumpama saudara yang paling dekat, yang selalu dicari bahkan jika sekejap saja menjauh dari mata.

Apa yg harus dilakukan orang tua agar anggota keluarga tidak mengalami dampak tersebut??


1. Menjalin kedekatan batin:
Orang yang aktif di gadget adalah orang yang kesepian. Anak yang lari ke gadget adalah anak yang tidak diperhatikan oleh orang tuanya. ISTRI YANG SERING CURHAT DI DUNIA MAYA (GADGETNYA) adalah istri yang sering diabaikan suaminya. Maka tugas bagi seorang suami dan ayah harus menjalin kedekatan batin, pada istri dan anak agar tak lagi mengumbar kesedihannya di dunia maya.

Jika ingin mendekatkan batin pada anak, tumbuhkan al wadud (kasih sayang yang membuat anak ingin mendekat) dan al mawaddah (untuk kedekatan antara suami istri) dengan sering meluangkan waktu bersama, sering menggenggam tangan, bersandarlah atau izinkan pasangan bersandar pada bahu kita, dll. Dampak kedekatan batin bagi anak, akan menjadikan orang tua sebagai rujukan pertama, bukan dengan gadgetnya.
Batin yang sudah mulai dekat ditandai dengan 'no privacy". Jika anak atau pasangan tidak mau ketahuan isi gadgetnya, aktivitas dunia mayanya, bahkan mulai mempassword handphonenya, maka ini berbahaya. Buatlah kedekatan batin agar kita lebih dibutuhkan dibanding gadget anak dan pasangan kita.

Jika batin antar keluarga sudah dekat, maka cinta  akan membawa anak dan pasangan kembali pada kita.


2. Manajemen hiburan
Orang tua harus memiliki agenda alternatif untuk menghibur anak. Menyediakan hiburan yang bukan hanya dengan kemewahan tetapi bisa dimulai dengan hal sederhana. Misal pada anak usia dini, hiburan terbaik bagi mereka adalah ekspresi wajah dan eksplorasi tubuh orang tuanya dengan bercerita dan mendongeng. Poin pentingnya adalah kebersamaan tiap anggota. Jangan memberikan hiburan dengan gadget, anak-anak yang mencari hiburan dengan gadget salah satu penyebabnya karena orang tua atau keluarga tak memenuhi hiburan bagi anak. Sebab hiburan bagi anak ibarat makanan, jika tak dikenyangkan di rumah, mereka akan mencari jajanan lain di luar. Keluarga yang sehat adalah yang selalu punya rencana untuk selalu menghibur tiap anggotanya.
Manajemen hiburan yang diberikan orang tua pada anak akan menaklukan kebosanan yang mereka alami, buatlah kebersamaan yang bermakna tanpa gadget dengan menumbuhkan skill menghibur, seperti mengajak anak bermain (bukan permainan di gadget) bercerita dan berpetualang.


3. Membuat rundown aktivitas
Terinspirasi dari Q.S Al Hasyr: 18 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

"besok mau ngapain?" adalah kunci yang akan kita terapkan pada anggota keluarga. Sebab anak yg tidak punya planning agenda tiap harinya, hanya akan diisi oleh gadget.



MANAJEMEN GADGET


Boleh memegang gadget asal memenuhi beberapa syarat, sebagai berikut;
Waktu: Buat kesepekatan kapan boleh dan tidak boleh dalam memegang gadget, misal jam 18.00 s/d jam 21.00 untuk tidak memegang gadget.


Lokasi: Tentukan lokasi yg tidak boleh ada gadget di dalamnya. Seperti di kamar tidur dan di kamar mandi. Banyak anak yang betah menyendiri di dalam kamar karena terpengaruh oleh gadget, yang mengakibatkan orang tua tidak tahu apa saja yang sudah anak lihat. Ingatkan juga agar anak tidak membawa gadget ke kamar mandi, sebab kamar mandi adalah tempat bersarangnya jin, dan kita tidak boleh berlama-lama dalam kamar mandi.

Isi: Terapkan aturan aplikasi mana yang boleh atau tidak boleh untuk anak.

Durasi: Buat kesepakatan waktu kapan dan berapa lama anak boleh memegang gadget.

Situasi: Jelaskan pada anak ada beberapa situasi yang tidak boleh memegang gadget, seperti saat ibadah, saat makan bersama, saat berbicara dengan orang lain, saat naik kendaraan, saat bermain, dan saat liburan.


13.30 mulai diskusi antar peserta dan fasilitator.


Penanya 1: 
a. Memiliki anak usia 18 bulan, dengan istri fokus di rumah untuk mengasuh anak. Anak dekat dengan abinya meskipun abinya kerja dari jam 07-17. Karena ketika kerja sering memberi kabar pada keluarga. Yang ditanyakan, seberapa intensifkah seorang ayah/abi perlu memberi kabar kepada keluarga di rumah??
b. Baik atau tidak menakut-nakuti anak dengan hal yang tidak dia sukai "kalo ga mau mandi nanti dikasih jamu"??


Tanggapan dari ust Bendri:

1. Kedekatan yg dijalin sudah benar, bahkan wajib. Pada usia 0-2 tahun anak mutlak bergantung pada bapak dan ibunya. Dalam bahasa arab ada panggilan khusus kepada seorang ayah, bukan sekadar abi, tapi 'abati' menunjukkan kedekatan secara emosi, atau kerinduan pada abi. Ayah yg dirindukan saat jauh ataupun dekat. Dicontohkan oleh kedekatan antara Ismail dengan Ibrahim dan Yusuf dengan Ya'qub.
Pada usia 0-5 tahun anak butuh wajah ayah, maka saat berjauhan dengan adanya gadget ayah bisa membuat anak dekat dengan mengirim foto atau video. Berbeda ketika anak berusia di atas 5 tahun, saat berjauhan ayah tak mesti mengirim video atau foto wajah ayah, cukup dengan video perjalanan dan pengalaman ayah agar anak merasa dekat dengan ayahnya.

Ada hak anak yang harus orang tua penuhi terkait dengan perkembangannya, yaitu;

a. Tidak boleh membentak atau berbicara yang kencang dengan anak, terutama pada usia balita. karena 10rb sel otak anak akan hangus.
b. Anak tidak ditakuti atau diancam. Tidak perlu mengancam anak agar makan, karena manusia punya naluriah sendiri untuk kebutuhan pokoknya. Kewajiban orang tua adalah memenuhi asupannya bukan sekadar mengenyangkan perutnya.


Penanya 2: Dari mana sumber yang mengatakan bahwa "anak fitrahnya ketergantungan/nempel sama orang tua"?


Tanggapan ustadz Bendri:


Masa kedekatan antara anak dan orang tua dibagi menjadi 3 periode, yaitu:
a. Dependent, saat anak berusia 0-2 tahun, ditandai dengan ciri anak yang selalu bergantung pada orang tua, dekat dekat orang tua dan tidak mau lepas dari orang tua.
b. Independent yang dimulai ketika anak berusia 2 tahun yaitu dengan menyapihnya, yang bertujuan untuk mengajari anak bahwa keinginannya tidak  bisa selalu terpenuhi.
c. Interdependent, masa ketika anak berusia di atas 3 tahun: Ketika anak mulai bisa membedakan antara kanan dan kiri maka orang tua wajib mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab pada dirinya.


Penanya 3:
Bagaimana cara menghilangkan ketergantungan jika anak sudah terpapar gadget?

Tanggapan dr peserta:
Jika anak sudah berusia remaja, maka beri  ia pengertian dan aturan, misal akan dikasih gadget jika...


Tanggapan ustadz Bendri:
Banyak orang tua yang tidak bisa menghindar saat anak meminta sesuatu. Penting bagi orang tua untuk mengajarkan pada anak bahwa ia harus mendeskripsikan apa yang ia minta sebagai "kebutuhan atau keinginan".

Mengapa remaja banyak yang meminta dibelikan gadget canggih seperti teman-temannya? Salah satu faktornya karena anak merasa kesepian, antisipasi agar anak tidak meminta gadget sekadar untuk ikuta-ikutan bukan dengan nasihat tapi harus dengan kedekatan hati.
Ingat, sebelum menerapkan aturan, buatlah anak jatuh cinta pada kita (ayah & bunda). Ikatlah hati sebelum menasihati. Ikatan emosional ini penting untuk kita jaga.


Penanya 4:
1. Seberapa besar pengaruh kuantitas waktu terhadap kebersamaan antara anak dan orang tua, karena ibu bekerja lebih banyak di luar?

2. Kondisi seperti apa yg membolehkan wanita bekerja?


tanggapan ustadz Bendri:
1. Ibu boleh bekerja namun penuh dengan konsekuensi, profesi ibu yg utama adalah mengasuh anak, sisanya sambilan saja. Jika masih punya suami serahkan kewajiban mencari nafkah pada suami. Agar anak tidak merasa kesepian yang akhirnya ia mencari hiburan lewat gadget.


Tapi jika ibu terpaksa bekerja, selama ibu bisa menjamin saat pulang kerja tidak membawa emosi negatif pada anak maka silakan bekerja, asal ketika pulang kerja ibu sudah membuang emosi negatif dan menggantinya dengan emosi positif saat bertemu anak, agar anak tetap dekat meskipun ibu bekerja. Pembahasan tentang ibu bekerja membutuhkan waktu lebih panjang, insyaa Allah akan diusulkan menjadi tema pada pertemuan berikutnya.


Notulis: Aldiles Delta Asmara

Saat Kau dekat denganku

Saat Kau dekat denganku, hari terasa lapang, senin kamis terasa longgar, jumat ke jumat pun penuh riang.


Saat Kau dekat denganku, aku bagaikan ratu, yang tak sedih karena pilu, yang tak murka karena cemburu.


Kau dekat, dalam Muharrom hingga Dzulhijjah. Tak terhitung banyaknya bahagia, meski hilir mudik sedih hadir dengan setia. Namun Kau buat semua menjadi pahala, saat ku pilih syukur dan sabar dalam mengiringinya.


Kau dekat, dalam penantian maupun kesakinahan. Asal takwa menjadi pegangan, takdir apapun yang Kau berikan, selalu bersanding dengan keberkahan. Bagi jiwa-jiwa yang tak lelah meminta dekat padaMu di waktu siang dan malam.


Kau dekat, dalam tiap usahaku sebagai seorang hamba untuk selalu mendekat. Dalam sendiri maupun ramai yang memenuhi rintik-rintik asa. Mendekat padaMu adalah kekuatannya.


Aku berusaha mendekat, meski bergelimang harta adalah masih impian, berganti dengan tumpukan-tumpukan rincian. Namun Kau ingin aku mendekatiMu dengan sedekah-sedekah jariah, meski kembang kempis napasku mengusahakannya.


Aku berusaha mendekat, meski goda fana tampak silau memukau mata, menjadi terkenal dalam satu klik saja, yang mencari cara untuk dikenal banyak masa dunia, agar mengangguk-ngangguk semua jiwa saat ku sebutkan hanya nama. Namun Kau ingin aku memilih untuk dekati Kau dengan kelapangan jiwa, dalam kerendahan hati tanpa ingin dipuji dan puja. Sebab terkenal di langit lebih menyenangkan gelombang rasa, dekat padaMu seumpama telah memiliki semua.


Saat Kau dekat denganku, ku tandai dengan banyaknya sholeh-sholeha yang mendekat pada raga. Menasehati dengan jiwa, menegur dengan penuh rahasia, dan menyayangi dengan setulus-tulus harga, Fillah. Tak terhitung banyaknya dari orang tua, suami, keluarga, kerabat, dan yang lainnya.


Saat Kau dekat denganku, ku rasakan kehadiranMu memenuhi relung-relung jiwa yang hampa. Ketika belahan jiwa tak bersisian raga, namun ucapnya, bahwa Kau selalu ada. Membuat hati ringan seketika.


Saat Kau dekat denganku, selalu aku meyakini bahwa dimulai dengan usahaku mendekatiMu, dimulai dengan meyakini bahwa Kau selalu dekat dan mendengarkan doaku, dimulai dengan mengimani Kau dekat bahkan dari urat dan detak nafasku.


Saat Kau dekat denganku, adalah bertumpuk bahagia dalam nikmat hidup di duniaMu.


Kau dekat, tanpa sekat.
Saat ku mendekat, Kau makin merapat.
Sejengkal, sehasta, sedepa.
Kau dekat dan mendekatkan.


Maka buat aku lebih mendekat, di 1438 HijriahMu.


-Aldiles Delta Asmara-
*doa dalam tulisan*

Catat Kebaikan

Bismillaahirrohmanirrohim..

Mungkin kita perlu mencatat dengan rinci tiap-tiap kebaikan yang orang lain lakukan. Mencatat dengan jelas pada buku harian, bahkan jika perlu menempelnya di dinding rumah kita. Kebaikan yang dilakukan pada diri kita secara pribadi maupun kebaikan yang ia lakukan pada makhluk Allah lainnya yang pernah kita tangkap dalam memori. Mencatat tiap lekuk kebaikan, dari kata yang terucap santun, dari maaf yang mudah terulur, dari raga yang terjaga dari memukul, dari sedekah yang sekali dua kali atau lebih yang kita rangkum.

Agar jika suatu hari orang tersebut digelincirkan setan melakukan keburukan pada kita, lisan tak akan mudah membicarakan keburukannya, tangan kita tak ringan menulis segala lalainya, -apalagi di jaman keburukan dengan mudah tersebar luas dengan sekali tekan- dan yang terpenting hati kita yang luka akan mudah terobati dengan ucap "wahai saudara, aku maafkan, sebab kebaikanmu berjuta banyaknya dibanding lalaimu yang hanya satu".
Indahnya :)

Tapi, hidup bukan hanya diiringi oleh orang-orang dengan kebaikan yang banyak dan keburukan yang sedikit, ada bahkan yang berkebalikannya. Banyak keburukan, sedikit kebaikan. Lalu kita harus apa?

Tak banyak, hanya semoga kita tak sampai hati terlupa meminta penjagaan dari Allah agar kita tak menjadi salah satu darinya. Meminta penjagaan Allah agar kita tak membalas keburukan dengan keburukan. Meminta penjagaan Allah agar keburukan yang dilakukan pada kita adalah kebaikan bagi hari penghitungan di masa mendatang. Meminta penjagaan Allah, agar kita bisa menjadi salah satu jalan agar orang tersebut berubah menjadi penuh dengan kebaikan.

Bukankah Allah sebaik-baik pemberi balasan? :)

Jangan ragukan dan jangan lelah menjadi hamba Allah yang baik.

Sebab, tak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula.

Q.S Ar-Rahman: 60

-Aldiles Delta Asmara-

Kala Aku Berbaik Sangka

Kala aku berbaik sangka

Aku pernah kecewa oleh janji yang ingkar, dan kata yang hampir dusta
Namun, kala aku berbaik sangka
Kecewa lenyap tanpa membekas, bermetamorfosa menjadi penjelasan yang terang benderang.

Aku pernah murung atas perlakuan yang bagiku tak setara
Padanya begini padaku begitu
Padanya manis, padaku kecut selalu
Namun, kala aku berbaik sangka
Allah ganti kesedihan dengan kebahagiaan yang berlipat ganda, tak terhitung lagi banyaknya.

Aku pernah marah pada hal yang membuat hatiku tak nyaman, rumah yang tak kunjung rapi, uang yang mudah habis, badan yang cepat lelah, keinginan yang tak terpenuhi, pada semua apapun pemantik kemarahan.
Namun, kala aku berbaik sangka
yang marah jadi ikhlas, yang keluh jadi syukur, yang belum terpenuhi jadi sabar.

Aku pernah menyalahi kebodohan yang ku lakulan, yang berujung ucap kata "harusnya tak begini jika tak ku lakukan itu"
Namun, kala aku berbaik sangka
Aku temukan bahwa ada hikmah dibalik kesalahan, ada ilmu dibalik kekeliruan, dan ada kebaikan dalam kesabaran.

Aku pernah mengeluh atas takdir yang terjadi
"oh Allah, mengapa padaku terjadi seperti ini?"
Meski tak selalu, meski hadirnya diujung-ujung waktu.
Namun, kala aku berbaik sangka
Aku mantap menjawab segala takdirku "Ya Allah, terima kasih sudah memilihku, mohon sertai aku tiap waktuku".

Aku pernah menangis tersedu-sedu, terisak-isak, dan berteriak tanpa suara.
Ketika ada luka yang dalam pada rindu yang datang mencekam.
Namun, kala aku berbaik sangka
Allah kirimkan obat rindu dalam hadiah yang tak disangka dan tak terduga. Ajaib, kataku suatu hari.

Aku pernah, dalam upaya pencarian makna hidupku, merintih menagih, menuntut agar segera, bertanya mengapa belum juga, dan segala daftar tuntutan lainnya.
Namun, kala aku berbaik sangka
Allah mengajariku makna sabar, dan menghadiahi sebab sabar dengan jawaban doa yang berlipat-lipat tebal kebaikannya, penuh barokahnya, berkali-kali ucap syukurnya.

Oh ya Allah, kala aku berbaik sangka, padaMu maupun pada hambaMu, betapa banyak kebahagiaan tertera di dalamnya.

Maka, jika berbaik sangka adalah kebaikan, jangan hilangkan hal ini pada seluruh kebiasaan hidup hambaMu.

Agar duka berganti suka.

Kala kita berbaik sangka.

-Aldiles Delta Asmara-

Sebuah Pertanyaan

"Adek kenapa mau nerima Emas yang gak ganteng, gak kaya, yang cuma orang biasa aja??".

- Sebab menerimamu artinya aku memiliki tiga emas, emas atas segala rasa yang aku tahan untuk tak berserakan di beranda lini masa, emas berupa lelaki yang tanpa tebar pesona di sini dan di sana, langsung mantap menjawab iya dan emas berupa amanah Allah yang dititipkan pada kita, yang akan kita jaga sampai akhir usia.

Dan atas keberanianmu sejak 30 Januari 2016 yang lalu justru membuat Emas terlihat ganteng, kaya, dan bukan lagi orang biasa bagi singgasana jiwa.

Justru aku bertanya, mengapa dulu Emas begitu mantap memilih seorang wanita yang tak bisa apa-apa?

8 bulan kebersamaan ini, kita sama-sama penuh dengan pertanyaan bukan? Hingga masing-masing dari kita menjawab sama "sebab Allah ridho, atas pernikahan kita".

Memilikimu adalah jawaban atas jerih payah dalam panjangnya masa, dan memperbarui sakinah bersamamu adalah upaya menuju impian kita berupa jannahNya.

Jalan kita masih amat panjang, semoga Allah bimbing kita.
-Aldiles Delta Asmara-

#catatanSyahiDiles #merendaKeluarga #SyahidDalamDeltaAsmaraNya

Urusan Perasaan

Urusan perasaan itu dari jaman dulu sampai jaman sekarang, dari jaman masih belasan sampai jaman duapuluhlimaan memang urusan yang paling ribet ya.

Fasenya memang berbeda, tapi urusan rasa tetaplah sama. Galau bukan hanya milik mereka, tapi juga milik kita.

Lagi-lagi urusan perasaan.

Mau masih gadis manis ataupun menjadi istri termanis. Urusan rasa ya begitu-begitu saja.

Risau resah, galau gundah, merona bahagia.

Ya memang cuma itu.

Saat dulu berstatus gadis manis, urusan rasa tentang "duh dia (yang entah siapa) kapankah datangnya?"

Sekarang? Sama

"Duh dia (suamiku tercinta) kapankah pulang kerjanya?"

Rasa yang tercipta sama, urusan menjaganya pun juga tetap sama. Kalau bukan karena bekal takwa, entah di mana rasa akan bebas berkeliaran pada semesta. Entah di beranda dengan segala kodenya, atau bercecer di lautan nista.
Bersyukurlah kita punya Allah. Yang setia mendengarkan segala rasa, pada apapun fase kita, saat masih belasan ataupun duapuluhlimaan, saat gadis manis maupun istri termanis.

Maka ikat ia (segala rasamu) dengan takwa. Agar kembali padamu dengan ketenangan yang nyata.

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoiNya" (Al-Fajr :27-28)

".. ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'd: 28)

-Aldiles Delta Asmara-

Tulisan 12 Agustus2016

Berkenalan dengan Rasa

Saya pahaaaamm sekali rasa bahagianya ketika wanita menguji kehamilan dan hasilnya garis 2. Apalagi untuk anak pertama. Ada perasaan meledak-meledak yang rasanya beribu 'wah'. Bertumpuk-tumpuk rasa bahagianya, melebihi ketika ada rombongan keluarga lelaki yang datang hendak melamar, melebihi rasa haru saat ada lelaki yang berkata "saya terima nikahnya" yang ditujukan untuk kita. Perasaan haru, bahagia, syukur, dan takut berkumpul menjadi lapis rasa yang makin lama makin besar.

Tiba-tiba saja ada dorongan kuat dari dalam diri yang meloncat langsung mungkin tanpa kita sadari untuk menyebar kebahagiaan yang kita rasakan.

Tapi, ada bahagia yang tidak mesti diumumkan. Seperti halnya ketika dilamar, kita teramat bahagia. Namun Rosulullah menganjurkan untuk merahasiakan pinangan. Entah apa maksudnya, percayalah ada hikmah
Sedangkan untuk walimah, Rosulullah malah berkata "umumkan pernikahan". Judulnya sama, berbahagia, tapi perlakuannya beda. Itulah indahnya Islam dalam menjaga hati, pribadi maupun saudari.

Lalu kalau untuk berbahagia karena kehamilan, layak atau tidak untuk disebarkan bahkan langsung dengan poto hasil uji kehamilan?

Hanya Allah Yang Tahu, hanya Allah yang Tahu urusan hati hambanya. Tak berani saya menilai itu bagian dari 'pamer' dsb nya. Hanya saja saya teringat beberapa saudari yang berbagi kesedihan tentang sulitnya mereka merasakan kebahagiaan yang satu itu, diujung obrolan selalu terselip "saya ga pernah berani untuk datang menjenguk saudari-saudari yang baru saja melahirkan, maka mohon maaf jika suatu hari kamu melahirkan, saya gak bisa jenguk".

Mungkin akan berpikir bahwa saudari tersebut sangat tega, gak bisa ikut serta dalam bahagianya kita, gak bisa mengontrol hati biar ikut berbahagia, dan cap buruk lainnya, atau menilai sikapnya salah melakukan pilihan tersebut. Jangan ya, jangan sampai terpikir seperti itu, sebab kita tidak pernah tahu apa saja yang sudah terlewati olehnya hingga sampai kini belum juga merasakan bahagianya mendapat tanda garis dua pada uji kehamilan.

Yang perlu diatur hatinya adalah hati kita yang berbahagia. Kita tahu ada yang tak sebahagia kita, maka semestinya ada rem dalam diri untuk menjaga perasaan saudari-saudari kita (meski mungkin mereka sangat tidak meminta untuk dipahami).

Kita sudah berbahagia, maka apa susahnya untuk juga membuat orang lain berbahagia, dengan 'rem' atau 'kontrol diri' kita. Dengan sikap memahami kita. Karena memang, PR memahami tak akan pernah kunjung usai bagi diri yang memiliki hati.

Sebab kebahagiaan tetap utuh, dengan disebarkan atau tidak disebarkan pada yang lainnya.

Semoga kamu paham

-Aldiles Delta Asmara-

Terima kasih ya Allah telah mengutus seorang suami yang menjadi 'rem' bagi diri ini.

*tulisan 23Agustus2016

Surat untuk Ananda

Surat untuk ananda..

Pujian kepada Allah tercurah dalam rupa rahmat atas kehadiranmu, atas pertumbuhanmu, atas kesehatanmu, dan atas kesholehanmu yang akan terus menerus kami upayakan.

Sayang, di luar sana ada macam tingkah manusia yang akan kau temui kelak. Bukan hanya tentang Umma dan Bapak, atau keluargamu. Tapi juga tentang yang lainnya. Bahkan sayang, orang yang tak kau kenal pun dapat dengan mudah kau lihat kesehariannya. Banyak hal yang ingin umma sampaikan dalam detak gerakmu. Bahwa dunia ini makin luas dan jauh, makin bebas dan rancu. Maka berhati-hatilah kau Nak, berhati-hatilah dalam menentukan idola, dalam memilih teman yang tampak maupun tidak, dalam memilah informasi yang makin hari makin membingungkan kadar kebenarannya.

Sayang Umma, kau memang punya hati yang Allah ciptakan, tapi ketahuilah sayang, bahwa bisa jadi hatimu salah dalam memilih dan menentukan keputusan. Maka, ikutilah Allah, ikutilah Rosulullah. Bukan hanya sekadar nyamannya hatimu, atau suara-suara dalam nuranimu. Sebab kau perlu tahu, ada ketetapan Allah yang kadang tidak sesuai dengan inginnya hati kita. Tapi percayalah sayang, saat kau ikuti Allah dan Rosulullah dalam suka maupun luka, kau akan tetap diarahkan Allah menuju suatu bahagia. Cobalah taat Nak, sebab taatmu pada Allah teramat melegakan hati. Itu yang Allah ucapkan.

Sayang Umma, tak perlu takut dengan segala rupa kebaikan dan keburukan yang kau temui. Selama Allah dan Rosulullah kau jadikan pijakan, dan kau jadikan tuntunan, maka Allah akan tunjukkan dengan terang benderang mana kebaikan dan keburukan.

Karenanya, jadilah yang sholiha sayang. Dan kami akan terus meminta agar Allah bimbing kami dalam menyertai detakdetik hidupmu.

Salam cinta dalam syukur.

Umma.

-Aldiles Delta Asmara-

Bukan memiliki hanya dititipi

Kita tidak pernah memiliki apapun di dunia ini.

Suami, anak, harta benda, paras rupawan, kesehatan, bahkan jiwa raga yang masih muda.
Bukan milik kita.
Semua hanya dititipi oleh Allah sang Pemilik alam dan isinya.

Tidak pernah memiliki, hanya dititipi.

Maka jika ada benih-benih rasa;
Cemburu, marah, sedih, kecewa dan duka lainnya. Mengapa tak pasrahkan saja?

Sebut namaNya, ikhlas pada ketetapanNya, pinta segala ridhoNya, agar kita benar-benar sadar bahwa semua milik Allah, dan pada Allah jua semua bahagia bermuara.

Sudahkah kamu ingat?

Agar kelak Allah berikan bahagia yang berlapis-lapis tebalnya setelah duka yang bertumpuk-tumpuk rasanya.

-Aldiles Delta Asmara-
Bersabarlah kau, wahai diri.

#tulisanDiles #JepretanEmasSyahid #catatanSyahiDiles #SyahidDalamDeltaAsmaraNya

Makna Bersama

Allah telah takdirkan kita bersama sejak hari itu saat pagi cerah dalam degup-degup senja seorang pria dan wanita pada 30 Januari 2016.

Maka pada kesetiaan, ia mencari makna kebersamaan, bagaimanapun rupanya.
Jejak senin yang berubah menjadi hari-hari setelahnya menagih kasih untuk bersama pada hari yang lainnya.

Mengikutimu, memeluk setia tubuhmu dalam laju kendaraan kita. Meski aroma-aroma tak seindah kisah romantika anak muda, aku tetap ingin bersama.

Di kandang-kandang hamba Allah yang lainnya. Ku temukan kesejatian bentuk lain dari cinta yang kau ejawantahkan dengan peluh lelahmu.

Hati kita telah terikat.

Maka, kandang dengan segala aromanya asal bersamamu, lebih aku nikmati dibanding teduh rumah dengan penantian kepulanganmu.

Selalu kau selipkan
"Ridhoi Emas ya dek".

Semoga lelah kita mengantarkan pada JannahNya.

Aldiles Delta Asmara
Kandang sapi BIK

Mengais Makna

Aku mulai mengais makna sabar, ketika hari-hari berubah menjadi hari penantianmu untuk pulang.

Aku mulai mengais makna "dukung suamimu" ketika sedih, namun tak boleh sedih jadi satu dalam detik yang sama.

Aku mulai mengais makna menanti, saat waktu terasa lama, saat waktu tak ubahnya bagai sorot mata sayu melakukan aktivitas berulang dan berulang

Aku mengais makna syukur, saat sabarpun harus ku daki, ketika lelahmu dalam makna yang nyata sedang lelahku dalam makna menantimu.

Aku mulai mengais makna, agar waktu tak terbuang sia-sia. Dalam detak upaya kita bersama menuju surgaNya.

Aku hanya mulai takut pada kekosongan yang bisa jadi menyeretku dalam lembah dosa karena tak berbuat apa.

Aku harus apa?

Bukan tak mensyukuri peranku.
Bukan pula sebab tak bersabar pada pilihanku.

Hanya saja, hasrat ingin bermanfaat kembali mengusikku.

Harus ku sampaikan pada siapa?

-Aldiles Delta Asmara-
11Agust2016 

Tertatih tak boleh merintih

Gak apa ya mas kalo kita blm jadi pasangan yang sempurna, yang saling mengisi kekurangan, yang saling membenahi kesalahan.

Gak apa ya Mas, kalau dimata yang lain aku dan kamu tidak ada baik-baiknya, ini minus itu minus.
Ah mungkin saja karena akhlakku memburuk, tidak dengan kamu, Mas.

Gak apa ya Mas, kalau dihitungan 7 bulan pernikahan kita, kita masih tertatih untuk menjadi baik, menjadi yang selalu memuaskan orang, yang selalu ada buat orang, yang selaluuuuuuu harus tampak sempurna.

Gak apa ya Mas.
Aku kehabisan kata menjelaskan bahwa kita memang belum baik, kita memang masih banyak yang harus dibenahi, kita memang harus dan selalu tertatih tak boleh merintih.

Tak apa, semoga akan semakin membuat kita belajar ya Mas...

Semoga tak membuat hilang keberkahan dalam pernikahan kita.
Semoga justru semakin erat untuk memperbaiki bersama.

Aku sayang Emas karena Allah 😭

USG 1 (21 Juli 2016)

Assalamualaikum anak Umma dan Bapak, hari ini adalah perjumpaan pertama kita dalam wujud yang bisa dilihat mata. Rasa yang luar biasa dan meledak-ledak kebahagiaan kami ketika mendapati bahwa engkau sehat dan tampaknya riang bergembira. Masyaa Allah...

Anakku, aku ingin menceritakan satu hal padamu. Tentang rizki.

Umma dan Bapak teramat percaya bahwa rizki bukan hanya yang tertulis pada tabungan serta gaji kami, bukan pula pada harta benda yang kami miliki. Rizki Allah lebih luas maknanya sayang.

Termasuk didekatkan oleh orang-orang soleh yang baik. Beberapa minggu ini umma dan bapak disibukkan mencari tempat usg terbaik yang tidak terlalu mahal. Bertanya pada teman bapakmu meminta saran darinya, dan masyaa Allah, beliau malah menawarkan di tempat prakteknya yang setelah kami cek memang tak murah. Tapi ia memberikan kami pelayanan bertemu denganmu tanpa hitungan angka. Betapa Allah Maha Baik. Itu adalah rizki yang amat membahagiakan kami, sebab mengantarkan kami untuk bertemu denganmu duhai anakku.

Kita patut bersyukur atas apa yang Allah anugerahi hari ini.

Sedangkan kami?? Berlipat-lipat rasa syukurnya sebab dianugerahi kehadiranmu oleh Allah. Kamu adalah anugerah yang tak hingga dan tak habis-habis rasa syukur kami.
Kamu, bahagia kami.

Sehatlah sayang, akan Umma dan Bapak perkenalkan kamu pada Allah yang Maha Kasih tanpa menagih.

Aldiles Delta Asmara

20Juli2016

14minggu hadirmu di rahim Umma.

Rumah Yang Dirindukan

Sebagai pengantin baru, kok ya ngeliat harga-harga rumah tuh rasanyaaa...

Ya Allah, mampukah kami memilikinya??

Sebuah rumah yang menjadikan Emas sebagai pemimpinnya, sebuah rumah tempat kita selalu pulang dalam manja-manja cinta, sebuah rumah yang menjadi saksi rekam jejak perjuangan tawatangis kita. Sebuah rumah tempat aku dan kau juga anak-anak sholih kita untuk berteduh hapus segala keluh dan peluh.

Sebuah rumah yang menghangatkan bagai pelukmu, bukan yang menakutkan bagai teriakan para pemaki dan pembenci.

Namun ya Allah, Engkau Maha kaya. Tak ingin kami mendapati rumah surga kami dengan cara-cara yang tak Kau ridhoi. Itu yang Emas sampaikan padaku. Jangan hilangkan keyakinan bahwa Allah Maha Kaya dengan ucap "kalo ga nyicil ga bakal punya rumah".

Maka ya Allah..

"...Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga..." Q.s AtTahrim:11

Dan sebuah rumah di bumiMu yang menjadi tempat dalam menujuMu...

-Aldiles Delta Asmara-

#MerendaKeluarga #CatatanSyahiDiles #SyahidDalamDeltaAsmaraNya

(Belum) Sempurna

Beberapa tahun yang lalu tiap kata-kata terakhir di tulisan saya kebanyakan terselip kalimat "Aldiles Delta Asmara, dalam penyempurnaan peran".


Saat itu maksud saya adalah menikah. Dan kini saya telah menikah. Pertanyaannya: sudah sempurnakah peran saya?


Jawab: Belum.


Bukan sebab saya tak bersyukur atas peran baru sebagai seorang istri, -alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmusholihat atas peran baru ini- tapi justru pernikahan inilah yang mengantarkan saya pada suatu kesadaran bahwa "peranmu sebagai hamba Allah tak akan pernah selesai selagi ruh belum Allah ambil". Ia terus bergulir dan bergulir, bahkan mungkin memainkan peran dalam satu waktu.


Pernikahan ini pula yang menyadarkan saya bahwa hidup adalah sebuah perjalanan peran, dan pernikahan hanya salah satu tempat menyandarkan sauh untuk semakin memoles diri dalam peran berikutnya, sebagai ibu, sebagai masyarakat, dan peran lainnya. Perjalanan yang amat panjang bukan?


Maka mari memuhasabahi sejenak, bahwa perjalanan kita bisa saja masih jauh dalam penyempurnaan peran ini, bekal kita tak pernah habis sebab bekal perjalanan telah Allah siapkan dalam Alqur'an dan sunnah, tinggal kita mengemasnya menjadi pribadi terbaik dalam peran yang diridhoiNya, dan menyiapkan bekal untuk perjalanan abadi di hari akhir.


Semoga Allah ridho dalam tiap peran ini.

Dan semoga engkau pun ridho, duhai yang Allah pilihkan sebagai jalan keridhoanNya, suamiku.



-Aldiles Delta Asmara, dalam pembelajaran peran-


Rizki adalah...

"Rizki itu" ujar mama di suatu siang. "Gak mesti tentang uang banyak, badan sehat dan dikasih sabar yang banyak sama Allah juga bagian dari rizki".

"Sabar saat yang lain keliatan wah, sabar saat didzolimi, sabar saat rasanya kita bisa ngomel tapi memilih diam"

"Gak ada sedikitpun kerugian dari sabarnya kita, hari ini mungkin gak berasa, tapi percaya deh Allah pasti bales. Entah balesnya dengan membahagiakan kita, atau Allah balas keburukan orang yang mendzolimi kita."

"Jadi, dedek harus bisa sabar dan tahan untuk ngomong yang kasar dan nyakitin orang ya".

Iya Ma, satu lagi bagian dari rizki dari Allah, yaitu syukur atas dikarunia mama yang suka nasehat menasehati dalam kebeneran dan kesabaran.

Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk mama.

-Aldiles Delta Asmara-

Ramadhan kita berTiga


Allah titipkan amanah besar di dalam sini. Begitu yang aku tahu dan ku sadari. Tidak, bukan hanya aku, tapi kini kita. Aku dan Emas.
Ramadhan penuh perjuangan, menjaga nutrisi tetap masuk, menjaga ruhiyah tetap terisi, namun ingin pula puasa penuh, anakku semoga Allah ridho dengan perjuangan kita satu bulan ini.

Umma menunggu detakdetik saat Allah meniupkan ruh untukmu, menggerakgerik jemarimu mengetuk dinding rahim umma. Saat itu, umma tak boleh lengah. Banyak pesan yang sampai pada umma, bahwa umma harus meningkatkan kesensitifan umma terhadap ketakketuk manjamu.

Anakku, Umma sungguh gugup menjalani ini. Lebih gugup dari sekadar mual tiap waktu. Lebih gugup dari sekadar waktu makan yang beberapa bulan ini mesti memaksakan diri.

Anakku, dari sini umma dan bapak berdoa, dan kau pu  harus pula berdoa agar Allah perkenankan kita bertemu dan tumbuh bersama dalam keshalihan dan dalam ketaatan.

Anakku, iringi umma dengan penuh pembelajaran. Sehat-sehatlah sayang, umma dan bapak akan berjuang.

-malam takbir, 5 Juli 2016-
10 pekan usia amanah itu

Kisah Perjalanan


Bismillahirrohmanirrohim..

Malam terakhir di tempat masa kecilmu. Betapa aku menyadari bahwa kau hidup dalam lingkungan dan pengasuhan yang amat baik. Masing-masing anggota keluarga saling bahumembahu penuh bantu dalam lelahpenat saudaranya, masing-masing jiwa saling bantu dalam menciptakan bahagia untuk saudaranya. Masing-masing anggota memiliki rasa yang warna-warni namun membentuk menjadi lukisan rasa yang indah. Meski ada yang nun jauh di sana, tetap ada peduli dalam sambungan kata berwujud doa.

Bersama dalam tawa renyah, ramai cerita, tanggap rasa. Aaahh aku bahagia berada di tengah mereka. Yang berlomba satu sama lainnya untuk menciptakan bahagia. Pantas saja, dalam empat bulan perjalanan kita, selalu ada kisah tentang "Bapak, Ibu, Mas Po, Mbak Nia, Mbak Atun, Mbak Yul, Mbak Nur, Mbak Uci, Shabur, yang memerankan kisah antara keluarga dan pasar yang hanya senin kamis, antara keluarga dan mushola-mushola yang terbangun, antara keluarga dan kisahkasih masa kecilnya, antara keluarga dan penjagaan serta pengasuhan bapak terhadap anak-anaknya, antara keluarga dan hikmah-hikmah yang mengiringi sukaduka dalam waktu bersama."

Hei mas cinta, betapa mas beruntung Allah takdirkan tumbuh dalam keluarga ini, dan betapa aku beruntung Allah perkenankan mencicipi rasa yang utuh di sini. Membentuk warna bahagia sebuah keluarga setelah sekian lama berbahagia dengan keluargaku, kini dengan warna baru keluargamu, masyaa Allah.


Semoga cinta yang mengikat dalam doa, semoga silaturrahim yang terjalin dalam rasa-rasa syukur bahagia, semoga Allah kumpulkan keluargaku, keluarga mas, dan anak keturunan kita dalam surgaNya.

Aamiin.

*mama saja tampak bahagia ikut serta dalam keriuhan keluarga ini, apalagi aku mas. Makasih ya, sudah ajak aku ke tempat mas tumbuh besar penuh cinta di sini*

-Aldiles Delta Asmara-
Gunung Tiga, Tulang Bawang, Lampung. Sumatera (yang penuh rasa Jawa)

*ditulis ketika masih di rumah mbak Uci, rabu malam 1 Juni 2016

Bapak, itu kamu Mas


Nak, bapakmu bapak terbaik yang dengan sabar mendampingi umma saat posisi lemah umma mengandungmu. Bersabar menyiram tiap muntahan umma, bersabar mendampingi umma makan, bahkan bersabar memenuhi inginnya umma.

Bapakmu bapak terbaik, yang selalu bersedia meringankan kewajiban umma. Mencuci baju atau piring, merapikan tempat tidur, melipat pakaian, dan lainnya.

Bapakmu bapak terbaik, yang sangat berupaya untuk membahagiakan umma, sebelum atau ketika kamu ada di rahim umma. Bapak terbaik yang selalu siap sedia menangkap rona sedih dari wajah umma, kemudian mengubahnya jadi senyum ceria.

Bapakmu bapak terbaik nak, bapak terbaik. Dan semoga akan tetap seperti itu dalam kebaikan Allah, yang menuntun umma menjadi umma yang terbaik dan kamu menjadi anak yang terbaik. Bapakmu bapak terbaik, dia menjadi perantara Allah, yang akan mengajarkan kita menjadi hamba terbaik.

-Aldiles Delta Asmara-
Saat kau berusia 5 pekan dalam kandungan Umma

Garis Dua


Sangat pagi sekali, jam di dinding kuning belum menunjukkan pada angka 3. Baru 2.45. Tapi seolah Allah bangunkan untuk mengecek keberadaanmu. Kamu tau sayang, umma sangat deg-degan, gugup, khawatir, dan segala kecemasan lainnya. Hingga....

Garis 2, Alhamdulillaahilladzi bini'matihi tatimmushoolihaat..

Allahu Akbar, alhamdulillah, umma menangis sayang. Segera umma bangunkan bapakmu untuk mengabarkan keberadaanmu, dan kita berpelukan bersama. Ya Allah, bahagia yang entah warnanya apa. Banyak warna hingga air mata bahagia yang melukiskannya.

Bapak segera berdoa semoga kami bisa menjagamu. Ah doa yang sangat jauh ke depan. Sebab makna menjaga yang bapak ucapkan bukan hanya ketika kamu dalam rahim umma, tapi menjaga hingga kau dijemput Allah kembali. Iya sayang, dari awal kami ingin menyadari diri kami, bahwa engkau milik Allah, kami hanya dititipi. Dan semoga kami mampu menjagamu.

Hari pertama kamu membuat umma tak bisa tidur, tapi umma bahagia sayang, dan semoga akan tetap terus berbahagia dalam berkahNya, dalam lindunganNya dan dalam bimbinganNya.

Ya Allah, segala puji bagiMu atas titipan dan amanah termahal ini. Mohon bimbing kami dalam menjaganya.

Aldiles Delta Asmara
-Umma dan Bapak yang amat berbahagia dalam garis 2 di 4 bulan pernikahan-

Dasar!!!


       Dasar, pengantin baru!!


"Pengantin baru mah gitu, ntar juga kalau udah hitungan tahunan mesranya berkurang, yang ada malah bosen".

Begitu pekik sekitar melihat kami.

Ya Allah, jika memang mesra hanya bagi pengantin baru, maka jadikan pernikahan kami beralaskan barokah, agar meski pengantin lama ia tetap penuh rasa yang baru. Memperbarui rasa, memperjuangkan sakinah, menggapai mawaddah serta mengejar rahmah dariMu untuk kami. Dalam sedu sedan dan haru biru pada pagi, petang dan malam kami. Sebab bukan mesra yang jadi tujuan kami, bukan sekadar mesra yang jadi harapan kami, bukan mesra yang jadi ukur bahagia kami, ada marah pada suatu hari, ada kecewa di suatu pagi, ada cemburu di relung hati, ada merona di jingganya hati. Jika semata berharap mesra, apakah ia akan menyelamatkan warnawarni hari-hari kami?

Adalah barokahMu, barokahMu...
Menuju pagi yang menggebu melaju menuju malam yang dingin dalam ibadah-ibadah ketaatan padaMu. Dipenuhi langkah memohon ampun, diiringi pujapuji syukur, disertai doa-doa menawan untuk surga kami. KehendakMu, ridhoMu, ampunanMu.
Agar tak hanya menjadi pengantin di dunia, tetapi juga di surga.

_semoga Allah lindungi dari ucapan-ucapan yang buruk_

Aldiles Delta Asmara



Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger