Merasa, dan mengakui rasa. Apa bedanya?

Suatu hari...
"Kamu lebih pilih mana: Merasa bersalah atau mengakui perasaan kalau memiliki salah?"

Bahwa setiap hamba Allah yang memiliki nurani akan selalu bisa merasa bersalah, bersalah atas sikap, bersalah atas ucap, bersalah atas segala yang tak terungkap. Sekadar merasa, apa susahnya?


Lain hal nya dengan 'mengakui perasaan kalau memiliki salah', butuh keberanian yang dilatih berkali-kali, berulang-ulang dan sesering mungkin. Ia bukan spontanitas belaka suatu kata bahwa "oh iya, salah bersalah" tapi lebih kepada; saya salah, dan saya ingin memperbaikinya.

Bagai Abu Dzar Al-ghiffari yang meletakkan kepalanya di tanah berdebu sebagai sebuah pengakuan atas kesalahan dalam berkata pada sahabatnya, Bilal. Ia mengakui, bahwa baru saja dirinya melakukan cela atas ucap yang menyakiti Bilal, tidak hanya sekadar merasa bersalah, tapi ia nya mengakui bahkan meminta Bilal untuk membalas segala ucapannya dengan menginjak kepala Abu Dzar sebagai sebuah penebusan dosa.

Dan ada kah kita berani mengakuinya?

Diakui atau tidak, dalam proses 'mengakui kesalahan' kita membutuhkan seorang saudara yang mampu menjadi alarm nasehat yang dapat menyala ketika kita khilaf sedikit saja, dalam sikap, ucap, bahkan tatap. Saudara, yang Allah pilihkan untukmu, yang engkau cintai karena Allah, dan kaupun dicintai olehnya juga karena Allah. Seperti halnya Abu Dzar yang diingatkan langsung oleh Rosulullah dengan ucap "dalam dirimu masih terdapat unsur jahiliyah",semoga begitu pula engkau dengan saudaramu. Saudara yang bukan hanya mendukung kemarahan-kemarahanmu, saudara yang bukan hanya mendengar tiap keluhmu, saudara yang bukan hanya mengikuti alur sedihmu. Tapi saudara yang berhasil membuat kita mengakui kesalahan dan dengan santunnya berucap..

"Aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan, hingga aku pun mendapati nasehat untuk membaca firmanNya Q.S Al-Imron: 133-140, semoga mentadabburinya adalah jawaban dari tiap masalahmu".

('Āli `Imrān):135-136 Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.


Akui salahmu, perbaiki dirimu, hingga surga dirasa begitu dekat karena ampunanNya.

*nasehat untuk mentadabburi ayat-ayat ini tak akan berhenti hanya sampai diri ini, akan berterusan, akan berkelanjutan, sebagai penentram bahwa surgaNya terbuka selalu, bagi jiwa-jiwa yang berani mengakui kesalahan dan berikhtiar memperbaiki keadaan.

Jazakumullah khoiron, atas tanya yang berkelanjutan sebagai perenungan hingga menciptakan suatu nasehat, pun suatu pengingatan bahwa dalam kitabNya tersimpan segala rumus kehidupan.

-Aldiles Delta Asmara- yang mendapat tanya dari mba Nunu Karlina, dan mendapat nasehat dari Khaerunnisa yang sebelumnya ia dapat juga dari mba Nunu Karlina :D

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger