Kesabaran yang disyukuri...

Kalau mengamati kehidupan-kehidupan orang lain, baik kerabat dekat, teman biasa, bahkan kehidupan orang yang tidak sengaja dikenal lewat media sosial atau dari tulisan-tulisan yang bersangkutan, sepertinya memang kita tak boleh kehilangan syukur, pada apapun takdir kita. Sekali lagi, yap pada apapun, yang Allah tetapkan untuk kita.


Ini terinspirasi dari ‘celoteh” saudari kembar saya di FB, yang pada intinya menginginkan merasakan jadi wanita pekerja, yang selama ini, semenjak Allah tetapkan menikah ketika diakhir perkuliahan belum pernah ia rasakan, terlebih ketika Allah mengamanahkan dua manusia yang terlahir dari rahimnya. Saat membaca itu, sedikit terkejut. Sebenarnya dia bisa saja mencoba tanpa waktu lama, alias cicip-cicip sementara kehidupan yang dia inginkan lewat kehidupan saya, hehehe. Kehidupan perempuan pekerja yang malam hari pukul 20.30 saja masih di luar rumah *curhat selentingan* tinggal nanti dua anaknya saya yang asuh. Yaaa kalau mau mencoba, cobalah sehari, hehe. Agar kamu merasakan betapa nikmatnya hidupmu, nikmatnya menjalani  keseharian bersama celoteh riang dua anak yang menggemaskan, meski kadang lelah, meski kadang mencipta stress, meski kadang mau menjerit, meski kadang berkeluh kesah.

Eh tapi kalo baca tulisan ini kamu pasti bilang “iyak, udah tahu” ya kan ya kaaaan????? Kamu kan kece :D

Jadi pada intinya, saat kita iri dengan kehidupan orang lain, saat itu juga sebenarnya banyaaaak banget yang iri dengan kehidupan kita, dengan kebahagiaan yang kita miliki, dengan keriangan yang mengisi hari. Kemudian berkilah, tapi dari semua kehidupan saya tidak ada bahagia sedikitpun. Emmm kalau seperti itu, coba singgah sejenak ke negeri-negeri yang terjajah, atau baca kumpulan kisah-kisah mereka, betapa sengsaranya kita tidak ada apa-apanya dibanding sengsaranya mereka, dan sebaliknya, keshalihan kita tak sebanding dengan keshalihan mereka. Duh...

Atau kalau negeri-negeri itu terlalu jauh untuk diinsyafi, mampirlah ke panti-panti sosial untuk melihat anak-anak yang diuji dengan fisik dan perkembangan mereka. Semoga kemudian kesyukuran itu berkenan pula mampir di hati kita. Sedih kita tidak ada apa-apanya, kesulitan kita bukan yang terberat bagi penduduk bumi, kelelahan kita bahkan sesuatu yang dimimpikan oleh mereka.

Karena memang hidup kita berkisah antara sabar dan syukur kan? Bahkan kadang kita perlu memilih untuk mensyukuri kesabaran dan menyabari kesyukuran. Bukankah keduanya sama baik?? Bersyukur ketika musibah, bersyukur ketika bahagia, begitupun dengan bersabar ketika musibah dan bersabar dalam bahagia.

Hai Diles, kamu baru sekedar teori, belum merasakan kesulitan-kesulitan dan kejenuhan berumah tangga dan bertumpuk rasa..

Iya, maaf ya.. doa terbaik untuk kita semua, semoga Allah limpahi karunia kesyukuran dan kesabaran hingga menuju tempat yang bahagianya adalah mimpi dan cita para penduduk bumi.

Insyaa Allah..

-Aldiles Delta Asmara-

Teriring ucap jazakallah khoir bagi yang meminjamkan laptop hingga terurai sudah tulisan ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © / Mendidik Mencintai

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger